<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563</id><updated>2011-09-02T01:04:04.044-07:00</updated><title type='text'>Nyonya Frisch Monoarfa</title><subtitle type='html'>Menjadi istri dan ibu yang terbaik bagi suami dan anak-anakku, adalah doa tak terucap. Karena aku ingin hal itu menjadi nyata dalam realita. Sebagai perempuan, aku merasa sempurna dengan semua anugerah yang aku terima dari sang Chalik.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-2577549841916407534</id><published>2007-10-22T01:52:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T01:55:45.759-07:00</updated><title type='text'>SEPOTONG KISAH MENJELANG IDUL FITRI.</title><content type='html'>Saya sangat percaya memberi sebagian dari yang kita miliki tidak akan membuat kita menjadi kekurangan. Hal ini saya pelajari dari almarhum ayah mertua saya. Kedua mertua saya bukan berasal dari orang yang ada tapi mereka berhasil menanamkan pesan bahwasannya tanpa uang bukan berarti kita tidak bisa membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pesan ini ikut saya aminkan. Bukankah tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlalu miskin hingga tidak dapat membantu orang lain dengan doa? Karena untuk berdoa seseorang tidak perlu mempunyai status sosial atau status ekonomi tinggi. Cukup punya hubungan yang erat dengan sang pencipta bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai keyakinan agama yang berbeda dengan kedua mertua saya. Tapi itu tidak menghalangi hubungi religius diantara kami. Sebelum menikah seluruh keluarga mertua saya tahu kalau keyakinan saya berbeda dengan mereka. Bila akhir pekan saya menginap di sana (Bogor) maka di hari Minggu pagi, ayah mertua saya akan bertanya sudakan saya ke gereja? Biasanya saya menjawab, akan mengikuti ibadah sore sekalian pulang ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah mertua saya juga sangat percaya pendidikkan punya peranan penting dalam mengentaskan kebodohan dan kemiskinan. Ini di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Sudah beberapa anak kampung atau anak jalanan yang berhasil menjadi sarjana hingga menikah berkat campur tangan ayah dan ibu mertua saya. Memang tidak semuanya berhasil, terutama kalau si anak yang diasuh kedua mertua saya tidak punya niat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat seorang gadis kecil bernama Yanti. Waktu itu mungkin usianya sekitar 12 tahun dan sedang bermain layang-layang di siang hari. Ayah mertua saya memperhatikan dan kemudian memanggilnya. Di tanya mengapa tidak bersekolah. Yanti dengan acuh menjawab sudah tamat SD dan tak ada biaya untuk sekolah. Ayah mertua saya minta diantar ke rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yanti menurut dan memperkenalakan ayah mertua saya denga ayahnya. Yanti 7 bersaudara, ia anak ke 4. Ibunya suah meninggal. Ayahnya hanya buruh bangunan dan kakak-kakaknya bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga. Entah apa pembicaraan ayah mertua saya pokoknya Yanti pindah ke rumah mertua saya. Yanti diperlakukan sama dengan anak-anak yang masih sekolah. Waktu itu dua adik suami masih duduk di SMA. Pagi-pagi sarapan lalu ke sekolah. Siang membantu pekerjaan rumah, menyapu, mengepel, menyetrika atau mencuci piring dan bila malam semua sama-sama belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan terus dari SMP Yanti melanjutkan ke SMEA hingga praktek kerja di sebuah perusahaan. Ayah mertua saya tidak sempat melihat Yanti tamat SMEA karena keburu menghadap Illahi. Ibu mertua saya melanjutkan apa yang sudah ditinggalkan almarhum. Waktu itu selain Yanti, juga ada seorang anak laki-laki dari sebuah kampung di Lewiliang namanya Lili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mertua saya yang memang bisa menjahit tengah menyiapkan beberapa pakaian untuk Yanti agar dapat dipergunakan bila melamar pekerjaan. Ibu mertua saya juga tengah mengumpulkan uang untuk memberi tambahan kursus komputer dan Bahasa Inggris. Ketika suatu hari Yanti berkata ingin pulang ke rumah ayahnya. Padahal jarak rumah mertua saya dengan orang tua Yanti hanya beberapa gang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertanya mengapa dengan jarak yang dekat Yanti harus pindah ke rumah mertua saya. Menurut ibu mertua hal itu untuk memudahkannya mengarahkan dan mengontrol. Karena rumah Yanti jauh dari memadai untuk layak di tinggali. Dan pada waktu pamitpun, ibu mertua saya merasa heran karena setiap saat sebetulnya Yanti bisa pulang ke rumah ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana ceritanya, sampai suatu ketika saya datang ke Bogor Yanti benar-benar sudah tidak ada. Dari berita yang saya terima Yanti sudah menikah dengan laki-laki yang berprofesi sebagai “mister cepek” alias laki-laki yang menjual jasa mengatur lalu lintas diperempatan jalan dengan upah serelanya, karena sudah hamil dan kini sudah di ceraikan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mertua saya sangat sedih dan kecewa karena merasa gagal mengentaskan Yanti dari komunitas miskin dan bodoh di kampungnya. Saya hanya bisa menghibur dengan mengatakan “Yanti sudah memilih jalannya! Mak sudah memfasilitasi semampu Mak!”&lt;br /&gt;Biasanya ibu mertuanya saya hanya tersenyum, menghembuskan nafas panjang dan mengusap dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Idul Fitri, ibu mertua saya gembira karena kedatangan anak-anak asuhnya yang sudah berkeluarga. Anak-anak asuh itu sudah seperti kawan buat kami. Bahkan mereka juga punya hubungan batin yang erat dengan ibu mertua saya. Ada kalanya bila perasaan mereka tidak enak dan teringat akan Ibu mertua saya. Mereka akan menelephone untuk menanyakan kabar. Biasanya memang karena ibu mertua saya sedang tidak sehat. Maka mereka akan datang, bersilaturahmi dan mendoakan agar ibu mertua saya cepat sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang saya kagumi dari ayah dan ibu mertua saya, mereka saya ingin memutuskan rantai kebodohan dan kemiskinan dalam sebuah keluarga agar tidak berlanjut. Memang dari beberapa anak asuh ayah dan ibu mertua saya, mereka umumnya punya usaha dan berhasil membantu ekonomi orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat permbicaraan malam takbiran kemarin. Kami sedang duduk di teras belakang rumah. Saya, ipar saya, Silvy, Ibu mertua saya dan Lili si anak asuh. Ibu mertua saya sedang di pijat Lili dan Silvy. Ibu mertua saya berkata: “Rasanya tidak percaya semua anak-anak sudah menikah. Padahal waktu di tinggal papi, masih ada 3 anak yang belum selesai!”&lt;br /&gt;“Empat bu, kan saya juga belum selesai!” Potong Lili.&lt;br /&gt;“Ya empat, sama kamu!” ujar Ibu Mertua saya sambil tersenyum. Ibu mertua saya pantas tersenyum, karena Lili baru saja di wisuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening, mata ibu mertua saya menerawang jauh. Rumah besar ini masih sepi karena semua penghuninya sudah menikah dan tinggal di luar rumah ini. Tinggal Ibu mertua saya dengan keluarga kecil satu adik suami bersama istri dan anaknya serta si Lili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keheningan terpecahkan manakala berurut-turut terdengar suara klakson mobil. Dengan sigap Lili berdiri dan berlari membuka pintu gerbang. Garasi yang kosong mulai terisi, satu persatu mulai berdatangan. Ada sebuncah rasa haru didada ini. Tak sanggup aku membayangkan ritual esok sesudah sholat Ied, yang pasti akan banjir air mata. Kalau kata suami air mata memaafkan dan dimaafkan adalah air mata kebahagiaan. Karena keluar dari nurani yang tercerahkan. (15 Oktober 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-2577549841916407534?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/2577549841916407534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=2577549841916407534' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/2577549841916407534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/2577549841916407534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/10/sepotong-kisah-menjelang-idul-fitri.html' title='SEPOTONG KISAH MENJELANG IDUL FITRI.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-2513259104375274954</id><published>2007-09-25T02:57:00.000-07:00</published><updated>2007-09-25T02:59:22.654-07:00</updated><title type='text'>MENGAJARKAN AGAMA PADA ANAK.</title><content type='html'>Bukan maksud hati menjadi pemikir tapi tidak berpikir rasanya sama juga tidak hidup alias mati. Kala belahan jiwa dan kedua buah cintaku sudah di buai mimpi, angan pikiranku mengembara. .Aku sadar betul tidak pandai mengajarkan agama pada kedua anakku. Karena mengajarkan agama bukalah bidangku. Tapi sebagai orang beragama aku ingin anak-anakku mengenal agama dengan cara yang benar. Persoalannya mengenal agama dengan cara yang benar itu yang bagaimana? Pemikiran ini datang kala aku mendengar Vanessa berdoa menjelang tidur malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa berlutut di tempat tidur menghadap tumpukan bantal. Melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata. Lebih kurang yang terucap.;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt;Terima kasih untuk hari ini&lt;br /&gt;Ampuni Bastian yang  makannya lama.&lt;br /&gt;Ajar Bastiaan agar mau makan cepat dan banyak.&lt;br /&gt;Terima kasih untuk Bastian yang sudah menolong aku dalam bermain.&lt;br /&gt;Tuhan berkati mama dan papa kami&lt;br /&gt;yang selalu mengasihi kami.&lt;br /&gt;Ajar aku untuk menyayangi Bastiaan dan Bastiaan menyayangi aku.&lt;br /&gt;Sekarang kami akan tidur&lt;br /&gt;jaga dan bangunkan kami besok dengan tubuh yang segar. Amin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan haru yang menyusup ke relung hati ini. Apakah Vanessa mengerti dengan apa yang diucapkannya?&lt;br /&gt;Aku jadi merenung, apakah pengenalanku akan agama sudah benar? Dan apakah sikapku dalam beragama juga benar? Sejujurnya aku merasa agama hanya sebuah stigma pada ajaran tertentu. Bersifat agama kelihatannya menjadi lebih penting ketimbang beragama. Mungkin bersifat agama maksudku religius. Sifat religius, sebuah sifat yang lebih mengutamakan harmonisasi atau kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat religius ini bukan hanya terkait pada kegiatan melaksankan ibadah tapi juga menyangkut pada hubungan antar sesama. Keinginan untuk selalu menciptakan harmonisasi dan kedamaian adalah sebuah kondisi yang mengarah pada ketenangan. Aku merasa sifat religius adalah sebuah sifat atau kondisi seseorang yang ingin selalu berada dalam kondisi dan situasi yang harmonis. Sehingga tecipta sebuah kedamaian atau kenyamanan. Bukankah seharusnya agama menjadi fasilitator ke arah tersebut? Bukankah tujuan agama baik adanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak ingin mengajarkan sesuatu yang bersifat dogmatis pada kedua anakku. Tapi persoalannya pada agama yang aku anut, ajaran dogmatis itu masih mejadi salah satu andalan  pengajaran pada pengenalan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya aku tidak ingin mengajarkan bahwa kalau Vanessa tidak mau berbagi dengan sesama dalam hal ini Bas maka kelak Vanessa akan masuk neraka. Konsep neraka adalah sesuatu yang belum ingin kuknealkan pada Bas dan Van. Jauh lebih baik bagiku bila Bas dan Van lebih mengerti atau memahami mengapa mereka harus berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang akau katakan pada keduanya:&lt;br /&gt;Pertama, dua-duanya anak mama. Terlahir sebagai adik dan kakak dari satu mama dan satu papa. Bila ingin hidup menyenangkan maka kebersama dengan sesama (dalam hal antara Bas dan Van maka keduanya harus mau saling mengalah. Berusaha untuk saling menyenangkan. Misalnya: Bas mau membantu Van saat Van ingin mengambil sesuatu di tempat yang lebih tinggi. Atau Van juga dengan senang hati mengambil Bas minum jika Bas minta tolong, begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menakutkan buatku, seandainya aku salah dalam mengarahkan mereka terhadap pengenalan dan pemahaman pada agama. Terutama agama yang kami anut. Aku ingin anak-anakku mempunyai pemikiran yang terbuka. Aku ingin mereka merasakan sendiri bahwa agama bukanlah antara "aku dan kamu" tapi lebih pada "aku dan sang Pencipta".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana perbedaan agama sampai saat ini masih menjadi sebuah ancaman bahkan kekerasan atas nama agama semakin hari semakin meningkat. Ini sebetulnya bentuk kegagalan pemerintah dalam melindungi/ mengayomi warganya dalam menjalankan ibadahnya sebagaimana yang dijabarkan dalam Pancasila sila pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangi anak-anakku akan terjun di dunia yang buas aku jadi teringat ketika seorang penangkar penyu melepas anak-anak penyu. Ratusan telur penyu yang diselamatkan sampai menetas lalu di lepas ke laut lepas. Namun alam sangat kejam menyeleksi. Hanya yang tangguh yang bertahan. Aku jadi berpikir apa yang membuat beberapa penyu bertahan, aku ingin tahu agar bisa menjadi pedomanku dalam membekali kedua anakku menjadi anak-anak yang tangguh dan mampu melewati seleksi alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelum masa itu tiba, aku akan terus belajar dan berusaha mendampingi Bas dan Van dengan kasih agar kelak keduanya mempunyai cinta kasih yang seluas samudra yang bisa mereka bagikan pada sesama. Aku berharap  kenikmatan mereka dalam belaian kasih kedua orang tuanya menjadi kenangan yang takkan pernah pudar sehingga menjadi motivasi bagi mereka untuk merealisasikan cinta kasih itu dalam tindakan nyata dalam keseharian hidup mereka . (25 SEPT 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Icha&lt;br /&gt;yang selalu berusaha menjadi istri dan ibu yang baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-2513259104375274954?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/2513259104375274954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=2513259104375274954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/2513259104375274954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/2513259104375274954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/09/mengajarkan-agama-pada-anak.html' title='MENGAJARKAN AGAMA PADA ANAK.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-6804578109310533240</id><published>2007-06-17T18:54:00.000-07:00</published><updated>2007-06-17T18:55:23.688-07:00</updated><title type='text'>Renunganku: TOILET TRAINING</title><content type='html'>Sebuah stasiun televisi menginformasikan berita kriminal, dimana seorang ibu tega menyiramkan air panas pada anaknya yang berusia 3 tahun karena buang air kecil sembarangan. Di tegaskan lagi dalam berita tersebut, diketahui si anak hanyalah anak angkat. Seakan-akan penjelasan terakhir ingin menjelaskan kenapa si ibu tega menyiramkan air panas. Andaikan anak kandung mungkin si ibu tidak tega. Lebih kurang aku mengartikannya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi bahan diskusi aku dan pasanganku. Apa yang mendorong si ibu sampai tega menyiram balita dengan air panas. Kalau si ibu tak mempunyai rasa belas kasih lantaran cuma anak angkat, kenapa mau mengangkat anak? Persoalan buang air kecil tidak pada tempatnya memang cukup menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalamanku, sampai Van berusa sebelum 3 tahun, jika sudah sangat ingin buang air kecil terkadang ia tak mampu menahannya hingga  belum sampai kamar mandi  sudah bocor. Haruskah aku marah? Persoalannya bukan semata Van anak kandungku. Aku lebih mencemakan keadaan Van, Bagaimana  kalau Van pipis sembarangan lalu jatuh tergelincir karena pipisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan membersihkan bekas pipisnya bukanlah pekerjaan berat. Tapi hal sepele jika dibiarkan justru akan membahayakan. Maka aku terbiasa sigap bertindak jika Van sudah ingin pipis. Bukan semata-mata menghindarin pekerjaan tambahan membersihkan pipisnya tapi lebih untuk menjaga agar Van tidak berada dalam kondisi yang bisa membuatnya terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal menyebabkan si anak tidak membuang air kecil pada tempatnya. Pertama apakah orang tuanya atau orang-orang yang selalu bersamanya sudah mengajarkan cara buang air kecil yang benar.  Dalam istilah psikologi perkembang anak, masa memperkenalkan kebiasan dan cara yang baik membuang hajat disebut “Toilet training”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua, tidak bisa mengharapkan secara otomatis anak akan langsung bisa pipis di kamar mandi. Sedangkan mengendalikan rasa ingin pipis dalam dirinya saja si balita masih  belajar. Toilet training adalah sebuah pelatihan pembiasaan diri. Siklus tubuh manusia, jika bangun tidur otomatis ingin buang air kecil. Demikian juga pada anak-anak atau balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kedua anakku belum berusia satu tahun, setiap mereka bangun tidur, aku langsung membawanya kekamar mandi dan melatihnya untuk pipis.  Demikian juga dalam kegiatannya sepanjang hari setiap satu dua jam aku mengajaknya ke kamar mandi untuk pipis. Dengan cara ini aku tak perlu memakaikan lampin sekali pakai (Diapers). Selain anak-anak lebih leluasa bermain aku juga berhasil menekan pengeluaran. Lampin sekali pakai hanya digunakan jika kami berpergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sejak usia Bas dan Van dua tahun, aku membawa pispot (Tempat pipis) ke dalam kamar tidur setiap malam. Setiap tengah malam, aku membangunkan mereka untuk pipis sehingga mereka tidak pipis di tempat tidur alias ngompol. Memang agak menyiksa harus bangun diantara pukul dua atau tiga pagi tapi itu jauh lebih baik ketimbang aku dibangunkan oleh pipis mereka yang membasahi tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Bas sudah hampir berusia 7 tahun dan jika ia bangun di tengah malam, Bas sudah berani langsung ke kamar mandi tanpa di temani. Mulanya perpindahan  kebiasaan pipis di pispot ke kamar mandi aku harus bangun dan menemaninya. Demikian juga dengan Van yang kini menjelang usia 4 tahun. Van  tak perlu lagi  dibangunkan di tengah malam karena kapanpun merasa pipis, Van langsung bangun dan pipis di pispot. Aku cukup menyediakan tissue basah untuk membersihkan diri di tempat yang mudah dijangkau Van.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toilet training kelihatannya hanya sepele, sebetulnya tidak juga. Karena pelatihan ini termasuk pembiasaan anak menjadi mandiri. Kemampuan tumbuh kembang balita termasuk pertumbuhan perkembang dalam kemampuan ke kamar kecil sendiri. Di sini anak di latih untuk bisa membuka pakaian luar, pakaian dalam, membersihkan diri dan menyiram bekas buang airnya.. Semua aktivitas itu adalah bagian dalam ketrampilan diri yang tidak bisa diharapkan bisa secara otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda masih mempunyai balita janganlah memarahinya jika anak anda buang air kecil tidak pada tempatnya. Semakin anak merasa tertekan dan takut dimarahi, semakin ia tak mampu mengendalikan dirinya jika datang rasa ingin buang air . Ini disebabkan perasaan anak lebih cemas akan amarah anda daripada gagal membuang air kecil di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari amarah anda, ingatkan atau ajak si kecil setiap satu dua jam ke kamar mandi dan biarkan si kecil pipis di sana. Demikian juga dengan buar air besar (BAB) sebagai orang tua kita tahu kebiasaan anak termasuk waktu si anak untuk BAB, jadi anda bisa melatih anak duduk di closet sambil di temani. Kelak urusan ke toilet tidak akan menjadi masalah lagi. Percayalah ala bisa karena biasa! (17 Juni 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-6804578109310533240?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/6804578109310533240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=6804578109310533240' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/6804578109310533240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/6804578109310533240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/06/renunganku-toilet-training.html' title='Renunganku: TOILET TRAINING'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-3457208978343745179</id><published>2007-06-17T18:43:00.000-07:00</published><updated>2007-06-17T18:47:06.992-07:00</updated><title type='text'>Obrolan santai: HAK ORANG TUA!</title><content type='html'>Beberapa waktu lalu media ramai dengan berita terjatuhnya seorang balita di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. Media langsung meliput dan menyiarkan berita duka tersebut. Sebagian media menyebutnya sebagai musibah, demikian juga orang tua korban. Bahkan pengelola Pusat Perbelanjaan tersebut juga menyebutnya sebagai musibah. Saya tidak mempersoalkan peristiwanya mau disebut musibah atau tragedi, intinya sama ada sebuah fakta seorang anak terjatuh dari lantai satu dan mengakibatkan korban tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung timbul pertanyaan salah siapa? Orang tua korban mengakui ini sebagai kesalahan mereka karena sempat lalai dan melepaskan si korban dari genggaman. Namun mereka meminta pengelola pusat Perbelanjaan untuk lebih meningkatkan fasilitas keamanan buat pengunjung. Sikap orang tua korban adalah sikap bijaksana yang tidak menyalahkan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah stasiun televisi menginformasikan berita kriminal, dimana seorang ibu tega menyiramkan air panas pada anaknya yang berusia 3 tahun karena buang air kecil sembarangan. Di tegaskan lagi dalam berita tersebut, diketahui si anak hanyalah anak angkat. Seakan-akan penjelasan terakhir ingin menjelaskan kenapa si ibu tega menyiramkan air panas. Andaikan anak kandung mungkin si ibu tidak tega. Lebih kurang aku mengartikannya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menjadi bahan diskusi aku dan pasanganku. Apa yang mendorong si ibu sampai tega menyiram balita dengan air panas. Kalau si ibu tak mempunyai rasa belas kasih lantaran cuma anak angkat, kenapa mau mengangkat anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita-berita peristiwa membuat Aku merenung dan memikirkan peran sebagai orang tua. Dalam siklus kehidupan mahluk hidup, lahir menjadi anak dan kelak menikah menjadi suami/istri lalu mempunyai anak perannya berubah lagi menjadi ayah dan ibu. Akan meningkat lagi seiring lahirnya generasi berikut atau cucu hingga di labelkan peran sebagai kakek/nenek. Ayah-ibu atau kakek dan nenek adalah sebutan lain dari peran sebagai orang tua. Makna kata Orang tua secara harfiah adalah orang yang sudah tua. Namun jika sudah menikah dan mempunyai anak, otomasti pasangan tersebut disebut orang tua biarpun umur mereka masih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah memiliki anak baik kandung atau angkat sekedar membei nilai tambah pada sebuah keluarga? Supaya masyarakat menilai sebagai keluarga yang sempurna, ada  bapak, ibu dan anak? Apakah keluarga yang tidak mempunyai anak dianggap tidak sempurna? Apakah pasangan menikah yang tidak mempunyai anak dianggap tidak sempurna? Penilaian semacam inilah yang harus di ubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat ketika Bas dan Van pulang sekolah menjelang 17 Agustusan tahun lalu. Mungkin di sekolah diajarkan bahwasannya walaupun dari berbagai suku bangsa pada dasarnya semua anak adalah anak Indonesia. Jadi ketika mereka pulang sekolah, keduanya menceritakan asal suku kawan sekelasnya.&lt;br /&gt;“Nico orang batak loh, Ma” Kata Vanes&lt;br /&gt;“ Ayu, orang Jawa “Kata Bas.&lt;br /&gt;“Kalau begitu Bas dan Van orang apa?” tanyaku&lt;br /&gt;“Orang Menado!” Jawab keduanya  serempak. Aku tak meralatnya karena ada benarnya walupun papanya orang Gorontalo, akukan orang Menado. Dan keduanya lebih terbiasa dengan sebutan sebagai orang Menado ketimbang Gorontalo.&lt;br /&gt;“Kalau Oma Pinang (maksudnya Oma yang tinggal di Pinang)?” tanyaku&lt;br /&gt;“Oh kalau Oma Pinang sih orang tua!” jawab Bas lugu. Kontan meledaklah tawaku.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah “Menjadi Orang Tua” adalah keinginan semua orang?  Persoalannya jika menjadi orang tua lekat dengan kewajiban dan tanggung jawab, aku jadi  ingin tahu, bukankah kewajiban seharusnya lekat dengan hak? Mengapa menjadi orang tua lebih lebih lekat dengan tanggung jawab tanpa diikuti apa yang menjadi haknya? Pertanyaan selanjutnya apa sih yang menjadi hak orang tua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu perbincangan santai dengan suamiku, ia mengatakan. Salah satu hak orang tua adalah bersikap otoriter! Dalam hati aku bertanya, apa iya? Otoriter kan  mengatur dengan paksa. Kemudian suamiku menceritakan, kemarin sore saat pulang kerja, ia melihat kerumunan orang ketika di hampiri ternyata seorang anak muda yang mental dari motornya lantaran menghindari balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balita itu berjalan dengan ibunya di atas trotoar. Menurut saksi mata, si ibu menggandeng si balita di sebelah kanan, sehingga si balita bersisian langsung dengan jalanan. Rupanya keduanya baru membeli sesuatu jajanan. Si anak meminta si ibu membuka bungkusan jajanan yang di beli, sehingga si ibu melepas tangan si balita dari genggaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu melintas motor dari arah berlawanan. Harusnya tidak terjadin apa-apa tapi entah bagaimana si balita melompat dari trotar ke jalanan saat  motor melintas. Si pengendara menghindari balita dengan berhenti mendadak dan mengakibatkan di pengandara mental cukup jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saksi mata yang sedang menolong pengendara motor, sempat menegur si ibu lantaran membiarkan si anak di sebelah kanan. Si ibu dengan entengnya menjawab: “Habis tadi dia ngambek maunya di kanan yah sudah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut suamiku, saat-saat semacam itu, orang tua harus menjadi otoriter. Mau anaknya ngambek bukan masalah., si ibu lebih tahu mencegah bayaha daripada si anak. Justru tindakan otoriter itu adalah upaya menghindari si balita dari celaka. Kadang memang tindakan kasar harus dilakukan demi menyelamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kisah seorang pelukis yang mendapat order melukis dinding dan langit-langit rumah seorang milyarder. Setiap satu lukisan selesai, biasanya si pelukis akan mundur dan memandang karyanya dari jarak agak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, sang milyarder  mengunjungi si pelukis yang tengah menyelesaikan lukisan di dinding balkon. Seperti biasa si pelukis mundur menjauh dari objek lukisannya. Sang milayrder melihat bahaya karena si pelukis mundur mendekati tepian balkon. Maka sang milyarder berteriak mengingatkan, karena luasnya bangunan balkon, suara sang milyarder bergema sehingga si pelukis tak mendengar dengan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang milyarder tak putus asa, ia terus melambai-lambaikan tangan berusaha menarik perhatian si pelukis. Si pelukis malah balik melambaikan tangan. Jarak sang milyarder lebih dekat ke lukisan ketimbang ke si pelukis. Maka dengan cepat si milyarder menyiramkan sisa cat ke lukisan yang ada. Tentu saja si pelukis marah melihat perbuatan penjaga sang milyarder. Si pelukis sangat emosi melihat hasil karyanya di rusak. Walau sang milyarder memiliki uang tapi tak memberinya hak merusak karya lukisanku, ucap si pelukis dalam hati. Karena marah si pelukis berhenti berjalan mundur dan kini kembali mendekati lukisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berani sekali kamu melakukan hal itu!” seru si pelukis dengan emosi. Tapi sang milyarder tak gentar, ia malah tersenyum lega. Ketika si pelukis mendekat dengan tenang sang milyarder berkata :”Hanya dengan merusak lukisanmu aku bisa menyelamatkan jiwamu yang nyaris jatuh dari balkon karena kamu jalan mundur sehingga tak melihat tepian balkon”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna dari ilustrasi di atas adalah bagaimana sebuah tindakan kasar atau jahat terpaksa dilakukan untuk menyelamatkan jiwa. Dan kelihatannya orang tua punya hak otoriter semacam itu selama tujuan akhirnya adalah keselamatan dan keberhasilan anak-anaknya. Aku jadi ingat betapa kesalnya Van karena aku tidak memenuhi keinginannya makan es krim. Bahkan aku pura-pura tak mendengar tangisnya. Bahkan sampai Van berucap “:Mama beli es krim itukan untuk aku!” ujarnya sambil menangis. Memang Es krim adalah salah satu menu makan kedua anakku sehari-hari. Karena aku tak suka mereka jajan, aku kerap membuat es krim atau membeli dalam ukuran literan sebagai persediaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kulakukan karena Van sedang radang tenggrokan akibat batuk pilek. Justru jika aku memenuhi permintaannya, aku malah akan menyiksa Van dalam sakit yang lebih lama. Apa cuma itu hak orang tua? Tentu saja tidak. Orang tua juga punya hak menikmati kebahagiaan dari setiap prilaku dan aktivitas anak-anaknya. Karena sesungguhnya sakitnya anak-anak adalah derita orang tua. Dan tawa ceria anak-anak adalah bahagianya orang tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi, menjadi orang tua tidak selalu dengan melahirkan tapi bersikap asah asih asuh pada setiap anak adalah hak sekaligus kewajiban. Termasuk pada anak-anak yang bukan dilahirkan dari tubuh kita. Sikap asih asah dan asuh pada setiap anak adalah wujud syukur sekaligus terima kasih pada orang tua yang sudah melahirkan kita. (17 Juni 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-3457208978343745179?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/3457208978343745179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=3457208978343745179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/3457208978343745179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/3457208978343745179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/06/obrolan-santai-hak-orang-tua.html' title='Obrolan santai: HAK ORANG TUA!'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-8899636206960344379</id><published>2007-03-25T23:35:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T20:48:38.457-07:00</updated><title type='text'>MENYINGKAP SELIMUT ITU !</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_hIHWQ5CZqY0/Rgds8gLraTI/AAAAAAAAABw/XfSByoRo4e8/s1600-h/DSC02143.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5046121694178797874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_hIHWQ5CZqY0/Rgds8gLraTI/AAAAAAAAABw/XfSByoRo4e8/s320/DSC02143.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda menyingkap selimut seseorang, itu menunjukkan kedekatan hubungan anda dengan orang tersebut. Karena aku percaya kalau anda tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan orang tersebut, jangankan menyingkap selimut, masuk ke kamar orang tersebut saja, sudah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya kalau anda dekat dengan orang tersebut, jangankan menyingkap selimut itu, masuk bergabung di balik selimut tersebut saja, sah! Aku tidak akan berbicara kegiatan di balik selimut. Biarlah itu menjadi cerita pribadi masing-masing. P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;emahamanku menyingkap selimut seseorang, sama maknanya dengan menyingkap batas. Batas perbedaan dan batas ketertutupan. Ya, aku sudah menyingkap batas perbedaan dan batas ketertutupan antara aku dan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatnya kapan, aku juga kurang tahu, namun yang pasti aku sudah menyingkap selimut tersebut, kini tak ada lagi rahasia diantara kami yang tinggal hanya komitmen untuk tidak menghianati kepercayaan yang terus kami bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup berumah tangga tidak cukup hanya bermodalkan cinta, satu tujuan dan bahagia bersama harus menjadi cita-cita pasangan tersebut. Bahagia bersama bukan sekedar bebas tertawa tapi hidup nyaman tanpa tekanan dan tanpa rasa takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah melampaui batas tersebut, dengan kusingkap selimut perbedaan dan ketertutupan antara aku dan suami. Kini tak ada lagi rasa takut atau malu dalam mengungkapkan rasa dan pemikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang kukatakan tak ada rahasia diantara kami. Itulah kebebasan yang hakiki dalam berumah tangga. Buatku sesuatu yang aneh kalau masih ada ketakutan atau rasa enggan atau malu dari salah satu pasangan dalam hal mengungkapkan rasa dan pemikiran pada pasangannya. Kita perlu membangun rasa malu, bila kita melanggar komitmen !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pasangan tersebut menikah, mereka telah menjadi satu tubuh dan satu jiwa. Karenanya mereka juga menjadi satu rasa. Salah satu dari pasangan tersebut di sakiti maka yang satu seharusnya juga merasa tersakiti. Karenanya aku yakin, seharusnya pasangan suami istri tidak saling menyakiti baik secara fisik maupun mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, ketika kuterbangun dan keluar dari balik selimut yang kugunakan untuk berbagi dengan si bungsu, Vanessa. Aku mendapati belahan jiwaku sedang menikmati berita di tv. Aku terbangun karena deringan telephone yang ternyata dari ibu mertua. Beliau menanyakan keadaan putera sulungku, Bas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari ini Bas kurang sehat. Suamiku mengira Bas kena Demam Berdarah karena ada bintik-bintik merah di punggung, gejala panas, pusing dan mual. Tapi suamiku enggan membawanya ke RS. Dengan alasan di observasi dulu dua hari.  Ini sifat yang kukenal sejak awal menikah. Bukan suamiku tidak percaya dokter, tapi suamiku punya keyakinan yang besar akan kemampuannya dalam menangani gejala sakit anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam perjalanan rumah tangga kami, aku memang melihat buktinya. Kepanikan justru membawa pada tindakan yang tidak rasional.Aku mengabarkan pada ibu mertua, Bas semalaman demam dan menggigil. Mulai pukul dua dan baru reda sekitar pukul enam pagi. Panasnya cukup tinggi walau akhirnya menurun setelah di beri paracetamol.  Cuma sekarang ada batuk. Mungkin ini gejala flu disertai batuk. Jadi kukatakan, nanti setelah Bas bangun jika kondisinya tak bagus, aku berjanji akan segera membawanya ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berbicara dengan ibu mertua dan menutup gagang telephone, suamiku mengembangkan kedua tangannya, menantikanku dalam pelukan. Sungguh damai dan bahagia rasanya berada dalam pelukannya. “Bas masih tidur?” tanyanya “He eh. Kamu belum tidur yah?” aku balik bertanya “Demi anak, aku harus berjaga!” jawabnya “Tapi kalau kamu sakit, bagaimana?” tanyaku lagi “Ya, jangan dong. Tapi memang agak pusing nih. Buatkan kopi dong” pintanya manja “Ok” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi aku bangkit dari pelukannya, Van muncul dengan wajah kusam. “Selamat pagi cantik!” sapaku sambil merentangkan tangan, mengundang Van masuk dalam dekapanku. Aku dan Van berada dalam pelukan Frisch, suamiku. “Waduh jadi berat, ada siapa yah?” Tanya Frisch “Aku” Jawab Van pelan. “Hei….kok kamu ikut-ikutan masuk sini?” Tanya Frisch “Aku kan juga mencintai mama” Jawab Van yang langsung disambut Frisch dengan gelak tawa. Mungkin pengaruh sinteron, akhir-akhir ini Van selalu menggunakan kata “mencintai” baik padaku, pada papanya maupun pada Bas. Aku bangkit dan meninggalkan keduanya. Sebelum menjerang air, kusempatkan memeriksa kondisi Bas. Panasnya sudah turun dan ia nampak lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini hubunganku dengan suami sangat dekat.. Ini juga membuat aku semakin mengenal sifat dan kebiasaannya. Ternyata memahami pasangan hidup kita hanya memerlukan keterbukaan diri kita untuk lebih menerima ia apa adanya. Sebelum menikah dan ketika baru menikah, aku membuat target-target yang mungkin cukup menekan suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal pernikahan, hubungan kami berubah menjadi penuh ketegangan. Bahkan terasa sampai lima tahun pertama. Hidupku dipenuhi target dan ketika target tak terpenuhi berganti dengan rasa khawatir. Tapi ketika aku mengevaluasi lagi target-target dalam pernikahan kami dan melihat apa yang sudah aku dan suami lakukan, aku menyadari, banyak hal yang tidak mencapai target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat frustasi memikirkan target-target yang tak tercapai, aku menuduh suamiku kurang berusaha memenuhi target yang kita sepakati. Hidup kami terasa berat. Memasuki tahun ke tujuh pernikahan, aku melihat banyak hal yang seharusnya kami syukuri tapi tak terlihat. Seperti kehidupan keluarga yang baik dalam arti, secara ekonomi kami tak kekurangan bahkan kami bisa membeli polis asuransi pendidikan untuk anak-anak dan polis jaminan perawatan kesehatan di RS. Walau belum mampu mencicil rumah tapi kami masih mampu membayar sewa rumah. Anak-anak bersekolah dan sampai saat ini, biayanya masih dapat kami penuhi. Dapur juga masih tetap berasap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, betapa banyak sebenarnya nikmat dan berkat Tuhan yang sudah aku terima tapi tak terasa karena aku memasang target dengan ukuran orang lain. Keinginan memiliki rumah seperti yang sudah dimiliki kakak-kakakku dan teman-temanku. Keinginan memiliki tabungan atau deposito seperti keluarga-keluarga di sinetron. Ingin memiliki mobil agar bisa keliling kota. Pokoknya hal-hal yang kelihatannya sepele dalam arti bukan standar tinggi. Tapi standar layak hidup. Namun aku lupa, standar layak hidup tiap orang ditentukan oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang lingkungan memperngaruhi tapi penentuan tetap ada pada diri kita. Yang utama adalah pemenuhan kebutuhan primer. Kenyataannya ketika kehidupanku tidak seperti itu. Bukan kemudian aku menurunkan target tapi aku mencoba memandang dari sisi yang lain. Berusaha tetap bahkan harus ditingkatkan namun mensyukuri apa yang sudah diperoleh jauh lebih menetramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimana aku juga tak mau bekerja keras lalu kehilangan waktu untuk bersama keluarga. Keluarga bukan sebuah taruhan, sebaliknya aku dan suami bekerja untuk kesejahteraan keluarga. Ketika aku sudah menyingkap selimut kehidupan yang melahirkan pemikiran picik, di balik selimut kehidupan itu, aku menemukan keindahan akan sebuah kepasrahan. Ketenangan akan sebuah janji. Usaha, kerja keras dan doa tak selalu menjanjikan kesuksesan tapi tak ada kesuksesan yang tidak di mulai dengan usaha, kerja keras dan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan fisik dan emosi antara aku dan suami adalah sebuah semangat akan tekad untuk memberi yang terbaik. Seperti tindakannya mengembangkan tangan menantiku dalam pelukan. Itu hanya tindakan kecil dan tidak terlalu berarti. Jika aku tidak mendekat dan menyambut masuk dalam pelukannya, juga tidak apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa saja berdalih ingin kekamar mandi. Tapi dengan aku menyambut undangannya masuk dalam pelukannya, aku bisa lebih merasakan ekspresi rasa sayangnya dan ia pun tahu aku menyayanginya. Tak perlu kata-kata, karena sikap dan tindakan bisa melebihi setiap ucapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami sama-sama sepakat menyingkap semua perbedaan dan ketertutupan, maka kami menyatu dalam fisik dan emosi. Sehingga membuat semua yang kami usahakan selalu bertujuan untuk memberi yang terbaik bagi pasangan dan anak-anak. Beranikah anda menyingkap selimut perbedaan dan ketertutupan  dalam kehidupan anda dan pasangan? (Icha Koraag, 25 Maret 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-8899636206960344379?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/8899636206960344379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=8899636206960344379' title='31 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/8899636206960344379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/8899636206960344379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/03/menyingkap-selimut-kehidupan.html' title='MENYINGKAP SELIMUT ITU !'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_hIHWQ5CZqY0/Rgds8gLraTI/AAAAAAAAABw/XfSByoRo4e8/s72-c/DSC02143.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>31</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-4362271725691495223</id><published>2007-03-13T01:50:00.000-07:00</published><updated>2007-03-13T01:51:36.180-07:00</updated><title type='text'>JANGANLAH HENDAKNYA KAMU KUATIR</title><content type='html'>Rasa kuatir adalah hal biasa yang di rasakan setiap umat manusia. Ini bukan menunjukan kelemahan tapi perasaan itu justru menunjukan kita sebagai manusia. Setiap sendi kehidupan selalu menimbulkan rasa kuatir. Kuatir akan masa depan, kuatir akan jodoh, kuatir akan keselamatan diri, keluarga atau orang-orang yang di cintai. Kuatir akan pemenuhan kebutuhan  hidup dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara  rasa kuatir mengenai pemenuhan kebutuhan hidup, salah satunya adalah kebutuhan akan  uang. Memang uang bukan segala-galanya tapi  untuk menjalani hidup, uang memang sangat diperlukan.  Manajemen keuangan baik dalam organisasi, perusahaan atau sebuah keluarga adalah sebuah persoalan yang serius dan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka memperhatikan kebiasaan beberapa kawanku dan kakak-kakakku yang sudah menikah. Kawan dan kakakku yang tidak bekerja otomatis mendapatkan uang dari suaminya untuk segala keperluan rumah tangga dan keperluan pribadi termasuk membantu saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku menikah, aku sudah bekerja. Sehingga ketika menikah aku tidak berkeinginan meminta uang dari penghasilan suamiku. Jika ia memberi, aku menerima. Untuk biaya rumah tangga, suamiku tak menunggu di minta. Ia punya kesadaran penuh untuk membiayai. Salah seorang kawanku berprinsip, “Uang dia, uang gue tapi uang gue yach milik gue!” Biasanya kami tertawa. Namun kadang aku berpikir, benar gak yah berprinsip seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masyarakat kita kebanyakan menjadikan suami sebagai kepala keluarga, sekaligus pencari nafkah. Dan karena stigma tersebut, banyak para lelaki yang menjadikan membiayai keluarga sebagai sebuah kewajiban dan tanggung jawab. Tak herannya juga banyak para suami yang merasa tertekan jika mengetahui penghasilan istri lebih besar dari para suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula sebagian para istri yang terbiasa dan meyakini para suami sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah meyakini sekalipun mereka bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri tetap merasa tidak punya kewajiban dalam membiayai rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mengalami suatu posisi di mana aku bekerja dan suamiku tidak bekerja. Aku merasa tertekan bukan karena kondisi rumah tanggaku tapi lebih pada stigma sosial dan tekanan keluarga. Ibuku selalu memberi contoh ayahku, sebagai lelaki hebat yang bertanggung jawab menafkahi keluarga. Terus terang hal itu menjadi beban pemikiranku. Ketika menikah, aku kan tidak bisa meramalkan suamiku jobless. Siapa juga yang ingin bersuamikan lelaki pengangguran? Lalu apakah aku harus menceraikan suamikun karena dia tidak bekerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, ketika aku mengikrarkan diri dalam janji pernikahan, salah satunya adalah selalau setia dalam suka maupun duka menerima dalam keadaan susah dan senang. Dan aku menggenapi janji pernikahanku dengan menerima secara ikhlas kondisi rumah tanggaku ketika suamiku tidak bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan aku senantiasa mensyukuri karena aku bekerja, paling tidak berarti dapurku masih bisa berasap. Yang membuat aku sangat mencintai suamiku, sekalipun ia tidak bekerja dalam –pengertian “kantoran”, ia tetap berusaha mencari uang. Walau sedikit tapi ia tetap memberikan kontribusi dalam keuangan keluarga. Kadang aku mengeluh juga tapi kupikir itu wajar. Manakala kebutuhan sangat banyak tapi belum terlihat uangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya pertengkaran akan timbul, aku ngomel dan mendesak agar suamiku mencari uang lebih banyak. Suamiku balas ngomel karena sudah berusaha tapi belum dapat. Lalu harus bagaimana? Suasana berubah menjadi tegang, tidur pun berbalik punggung. Dalam kesendirian, aku menangis menyesali sikapku. Aku merasa menjadi istri yang jahat yang tak mau mengetahui kemampua suaminya. Tapi di satu sisi aku menangis dan bertanya mengapa harus begini? Biasanya aku baru bisa tertidur usai bercakap-cakap dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus meyakiniki Tuhan memang mengasihiku. Karena pada akhirnya semua terselesaikan dengan baik. Bahkan aku merasa Tuhan amat menyayangiku. Bukan sekali dua kali aku seakan mendaparkan mujizat. Memang kami tidak berkelimpahan sampai mempunyai tabungan yang banyak. Tapi sampai saat ini kami tidak kekurangan walau tidak berkelebihan. Aku dan suami tetap berusaha dan percaya Tuhan pasti memberkati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu firman Tuhan yang memberikanku kekuatan:&lt;br /&gt;Filipi 4: 6: “ Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah membuktikan kebenaran akan berkatNya. Sekalipun aku kerap berpaling dariNya tak sekalipun dia meninggalkanku. (Icha Koraag, 13/3-2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-4362271725691495223?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/4362271725691495223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=4362271725691495223' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/4362271725691495223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/4362271725691495223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/03/janganlah-hendaknya-kamu-kuatir.html' title='JANGANLAH HENDAKNYA KAMU KUATIR'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-918151797981037588</id><published>2007-03-06T17:04:00.000-08:00</published><updated>2007-03-06T17:06:03.851-08:00</updated><title type='text'>APA MUNGKIN IDUL ADHA KORBANNYA SINGA?</title><content type='html'>Aku masih menikmati hari-hari libur panjang usai di PHK. Ternyata banyak hal baru yang cukup menyenangkan untuk aku lakukan. Tentu saja salah satunya bermain-main dengan aneka resep di dapur. Sampai-sampai suamiku bilang “Ini proses penggemukkan!”  Tapi sepanjang dua minggu ini, ku lihat ia menikmati masakanku. Protesnya lebih ku rasa sebagai pujian. Seperti ucapannya saat usai makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau si mama terus-terusan masak seperti ini,  kita bisa jadi korban waktu Idul Adha!” Ujarnya. Yang langsung di sambut Bas,&lt;br /&gt;“Memangnya papa si embek?” Papa gak cocok jadi embek, papa cocoknya jadi banteng!” kata Bas. Dalam hati aku mengakui ada benarnya. Suamiku lebih cocok di samakan dengan banteng ketimbang embek (kambing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena postur tubuhnya yang tinggi, besar dan kekar. Jadi lebih mirip banteng daripada kambing&lt;br /&gt;“Iya pa, ?” Tanya Van dengan lugu&lt;br /&gt;“Enggak, papa maunya jadi Raja Hutan, alias Singa!” Ujar Frisch lalu mengaum seperti seekor Singa. Bas dan Van tertawa dan tak mau kalah, lalu masing-masing menirukan suara binatang.&lt;br /&gt;“Aku ular Anaconda!” Kata Bas lalu berdesis seperti suara ular.&lt;br /&gt;Aku tak kaget dengan pilihan bas yang menjadi ular Anaconda. Bas sangat tertarik dengan reptile juga dinosaurus. Kadang-kadang jengkel aku di buatnya lantaran ibuku menuduhku mengajar anak tak benar. Pasalnya anak-anak seusia Bas lebih tertarik dengan binatang besar seperti singa, harimau, gajah atau beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya sih, aku tidak komentar. Menurutku tak ada salahnya Bas menyukai reptile.&lt;br /&gt;Tak beda dengan adiknya Van yang otomatis juga menjyukai aneka binatang. Karena mereka berdua kerap menonton National; Geographic atau Animal Planet. Tiba-tiba ku dengar Van bertanya.&lt;br /&gt;“Aku…aku….” Sesaat Vanessa diam, “aku jadi apa ma?” Tanya Van sambil menatapku.&lt;br /&gt;“Van jadi Macan!” jawabku&lt;br /&gt;“Enggak mau., aku maunya jadi gajah!” ujar Van dengan wajah cemberut.&lt;br /&gt;“Boleh saja tapi mama tidak tahu suara gajah!” jawabku lagi.&lt;br /&gt;“Pa, bagaimana suara gajah?” Tanya Van&lt;br /&gt;Frisch terdiam sesaat lalu mengeluarkan suara seperti sapi melenguh. Belum lagi suamiku berhenti menirukan suara gajah, Van sudah memotong.&lt;br /&gt;“Aku jadi anjing saja,!” uajr Van lalu menyalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahagia benar rasanya, melihat orang-orang yang ku cintai ada bersamaku. Tak putus syukur dan terima kasih senantiasa ku serukan. Kebersamaan menjelang tidur malam, selalu kami sempatkan bermain dan belajar. Tiba-tiba Van sudah ada di belakangku.&lt;br /&gt;“Anak anjing datang ke mamanya!’ ujar Van sambil menyalak halus dan mencium pipiku. Akupun ambil peran dalam permainan ini. Aku menyalak lalu menangkap Van dan menciuminya.&lt;br /&gt;“Anjing sama ular berteman gak?” Tanya Bas&lt;br /&gt;“Biasanya sih enggak!” jawabku tapi aku tahu arah pertanyaan Bas. Karenanya kulanjutkan lagi “Tapi kalau dalam permainan Anjing bisa berteman dengan ular”. Bas langsung mendekat masih tetap berdesis.&lt;br /&gt;“Anaconda sayang sama mamanya anjing!” ujar Bas sambil menciumku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang menciumi Raja Hutan, maka Raja Hutan marah dan mau pergi saja!” kata Frisch sambil mengaum dan bersiap-siap turun dari tempat tidur. Bas dan Van langsung melompat dan bergumul dengan papanya sambil menirukan suara anjing dan ular.&lt;br /&gt;“Kok mama anjing tidak mau dekat-dekat?” Tanya Frisch dengan suara besar dan berat. Aku tertawa “Mamanya anjing tidak berteman dengan Raja Hutan!” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suamiku duduk tegap dan berkata dengan suara di buat-buat menjadi berat. “Hai anak anjing dan ular Anaconda, bawa mama anjing kehadapan Raja Hutan !” Bas dan Van sudah larut dalam permainan ini, mereka berdua dengan sigap langsung menjawab “Ya, Raja Hutan!” Geli benar hatiku. Tak sempat menghindar Bas dan Van sudah memelukku dan menciumiku.&lt;br /&gt;“Mama anjing harus di bawa ke hadapan Raja Hutan!” Kata Bas&lt;br /&gt;“Iya!” tambah Van&lt;br /&gt;“Hai Anaconda dan anjing kecil, mama anjing cape dan mau tidur!” jawabku sambil menguap. Bas dan Van tertawa geli.&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu, Raja Hutan akan buat susu, supaya Anaconda dan anjing kecil bisa tumbuh jadi besar dan kuat. Lalu gosok gigi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian Bas dan Van langsung menikmati susunya. Kemudian keduanya ku giring ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Usai menggosok gigi, Bas dan Van langsung menempati posisi masing-masing di tempat tidur. Papanya  melanjujtkan dengan bercerita tentang jenis-jenis binatang.  Di mulai dari tempat hidupnya, Laut, darat dan udara. Lalu ukurannya besar, sedang dan kecil. Lalu nama-nama dan jenisnya. Belum lagi cerita tamat, kedua buah hatiku sudah lelap dalam tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mama anjing sudah tidur?” Tanya Frisch.&lt;br /&gt;“Belum!” jawabku&lt;br /&gt;“Mengapa?”&lt;br /&gt;“Lagi berpikir”&lt;br /&gt;“Mengenai apa?”&lt;br /&gt;“Apa mungkin Idul Adha korbannya singa?” (Icha Koraag)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-918151797981037588?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/918151797981037588/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=918151797981037588' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/918151797981037588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/918151797981037588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/03/apa-mungkin-idul-adha-korbannya-singa.html' title='APA MUNGKIN IDUL ADHA KORBANNYA SINGA?'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116868303574771591</id><published>2007-01-13T02:08:00.000-08:00</published><updated>2007-05-03T21:13:11.220-07:00</updated><title type='text'>Kisah Seorang Teman: MEMPERBAIKI KOMITMEN</title><content type='html'>Kita baru saja melangkah di awal tahun 2007. Pastinya 1001 rencana sudah di susun. Semoga bisa terpenuhi. Akhir minggu lalu, aku bertemu kawan kuliah. Kami bertemu dalam sebuah arisan alumni kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanku, sebut saja Belinda. Aku mengenanya di kampus. Menjadi dekat karena dosen pembimbing skripsiku sama dengan dosen walinya. Akhirnya persahabatan kami terbina. Belinda anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya lagi-laki dan empat adiknya perempuan semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering mengunjungi rumah Belinda karena tak jauh dari kampus,. Aku mengenal baik hanya tiga adiknya. Soalnya yang satu adik Belinda, kuliah di Medan. Dari ketiga adik yang kukenal, si bungsulah yang paling dekat denganku. Saat itu si bungsu yang bernama Lala baru duduk di kelas 2 SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku dan Belinda sudah lulus, kedekatanku dengan lala tetap terjalin lewat surat-suratan. Waktu itu belum musim HP, Cuma musim radio panggil (pager). Dan yang punya pager biasanya mereka yang sudah kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berkomunikasi baik dengan Belinda maupun dengan Lala. Pada pernikahan Lala, tiga tahun lalu, aku menyempatkan hadir. Lala tampak cantik, begitu juga pasangannya tampak gagah. Pokoknya pasangan yang serasi. Oh yah Lala dan pasangannya, sama-sama dokter. Bertemu di kampus, mendapat daerah penempatan sebagai dokter PTT (Pegawai tidak Tetap) Juga di kota yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku mengomentari, pantaslah kalau akhirnya mereka menjalin kasih dan sampai di pernikahan. Tapi cerita yang kudapatkan darti Belinda sungguh membuatku marah. Lala bagiku sudah seperti adik sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelah pernikahannya, Lala mendapat panggilan dari sebuah kota di luar Pulau Jawa. Karena waktu itu sang suami sudah bekerja di sebuah RS, maka pasangan itu berpisah jarak. Uang yang didapat Lala dan suaminya cukup besar, sehingga dua minggu sekali mereka saling mengunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa atau apa yang harus di salahi, Belinda bertemu dengan adik iparnya (Suami si Lala) menggandeng perempuan lain. Kakak mana yang tidak terkejut, kesal dan marah? Tapi Belinda memilih bersikap bikjaksana dengan tidak mengkonfrontasi maupun memberitahu Lala..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang namanya menyimpan barang busuk, baunya pasti akan menyebar juga. Lala yang berada nun jauh di luar Jawa, suatu hari memberi kejutan dengan mendatangi RS tempat suaminya bertugas. Apa mau di kata, niat memberi kejutan pada suami malah Lala yang mendapt kejutan, Lala menjumpai suaminya sedang bepangku-pangkuan dengan salah seorang perempuan yang berpakaian perawat di ruang jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi ini alasan kamu jaga malam? Karena memang ada yang dijagain!” Sembur Lala dengan emosi. Si Perawat langsung ngacir meninggal sang suami yang berusaha membujuk Lala agar jangan emosi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, aku yang medengar cerita Belinda saja ikutan emosi, apalagi Lala yang melihat dengan mata sendiri. Aku, ikut merasakan perasaan sakit Lala. Aku tidak rela Lala di sakiti. Singkat cerita dengan bantuan kedua orang tua masing-masing, Lala dan suami dipertemukan dalam sebuah rapat keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupikir sesekali rapat keluarga yang melibatkan para orang tua dalam masalah Rumah Tangga anak memang diperlukan. Umur pernikahan Lala baru tiga tahun. Dan dalam tiga tahun itu mereka bersama hanya satu tahun. Padahal hubungan dalam sebuah rumah tangga harus selalu di bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekedar pememenuhan kebutuhan seksual tapi juga kebutuhan batin atau emosi. Sebagai pasangan baru, mereka harus membantgun kedekatan itu. Jangankan pasangan baru, bagi pasangan yang sudah menikah lamapun tidak ada jaminan kedekatan emosi jika tidak di bangun. Susah dan senang adalah bumbu dalam kehidupan sama seperti garam dalam masakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masalah dalam rumah tangga tidak bisa disepelekan apalagi menyangkut orang ketiga. Menurut Belinda dari hasil rapat keluarga, tindakan yang harus dilakukan adalah memisahkan sang suami dari si perawat. Dan sebagai bukti penyesalan dan permintaan maaf, sang suami ikut Lala ke tempat kerja Lala. Semua percaya di daerah, dokter sangat dibutuhkan. Pastinya suami Lala akan dengan mudah mendapat pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang juga aku mendengar akhir cerita Belinda. Aku berharap yang terbaik bagi Lala. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi bagaimana mensikapi kesalahan yang pernah di buat dan menebusnya tidak sekedar dengan menyesal atau meminta maaf, itu lebih diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jalan kehidupan yang lurus dan lebar. Berliku dan sempit justru menjadi ujian kemampuan kita melalui setiap persoalan kehidupan yang ada. Rumah tangga Lala dan suaminya bisa dilanjutkan. Bukan hal mudah memulai sesuatu yang sudah terluka. Sakitnya mungkin bisa sembuh dan hilang tapi tetap meninggalkan bekas. Namun kedewasaan menerima dan bersikap pada persoalan yang ada, akan menetukan arah kemana rumah tangga itu di bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, aku mencoba merenungi cerita Belinda. Persoalan rumah tangga apapun itu, bisa menimpa siapa saja. Mungkin rumah tanggaku atau rumah tangga orang lain. Menjaga keutuhan rumah tangga tidak bisa dilakukan sendiri tapi harus melibatkan semua yang menjadi anggota rumah tangga tersebut. Baik istri, suami maupun anak. Saling menghormati, mengerti dan menghargai hanyalah sedikit faktor yang harus selalu di lakukan agar tujuan awal dalam pembentukan rumah tangga bisa terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekali lagi aku harus mensyukuri rumah tanggaku, suamiku mungkin bukan orang yang sempurna tapi aku meyakini ia laki-laki yang terbaik bagiku dan kedua anakku. Jika aku atau dia melakukan kesalahan, semoga kami bisa saling memaafkan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga komitmen pernikahan kami. (Icha Koraag 13 Januari 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116868303574771591?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116868303574771591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116868303574771591' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116868303574771591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116868303574771591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/01/kisah-seorang-teman-memperbaiki.html' title='Kisah Seorang Teman: MEMPERBAIKI KOMITMEN'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116849445213095683</id><published>2007-01-10T21:46:00.000-08:00</published><updated>2007-01-11T03:20:45.820-08:00</updated><title type='text'>KASIH SAYANG &amp; KHAWATIR ORTU SEPANJANG MASA</title><content type='html'>“Kasih ibu kepada beta&lt;br /&gt;tak terhingga sepanjang masa&lt;br /&gt;hanya memberi tak harap kembali&lt;br /&gt;bagai sang surya menyinari dunia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, anda semua pasti ingat lagu itu. Lagu yang diajarkan saat kita duduk di Taman kanak-Kanak. Siapapun pencipta syair lagu ini (Mungkin Ibu Kasur..?) sungguh pandai merangkai kata, menjadikan syair ini sarat akan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya sangat sederhana namun menggambarkan hal yang luar biasa. Pilihan kata-katanya sangat tepat untuk di ajarkan pada anak-anak. Sehingga anak-anak mudah mencernanya, walau saya sendiri kurang pasti, apakah anak-anak di TK yang menyanyikan lagu tersebut paham maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat ketika Van dan teman-temannya di Play Group menyanyikan lagu tersebut di peringatan hari ibu Desember lalu. Delapan balita, empat perempuan dan empat laki-laki mengenakan atasan batik dan bawahan rok putih. Berdiri di depan kelas, dengan dipandu ibu guru mulai menyanyikan lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyanyikan dengan sungguh-sungguh. Kali pertama suara yang terdengar sangat pelan. Kali kedua, bu guru meminta mereka bersuara lebih keras. Hasilnya mereka bernyanyi sekeras-kerasnya dan terdengar sangat cempreng (garing). Namun tetap tidak merubah makna dari syair lagu yang mereka bawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa haru yang mengalir di dada ini dan nyaris membuat air mata saya keluar. Saya mencoba mengendalikan diri dengan menengadahkan kepala. (Malu juga kalau ada yang melihat saya menangis) Setelah menengadah lalu saya menunduk sejenak, menenangkan isi dada ini yang dipenuhi rasa haru. Saat saya mengangkat wajah dan melihat ke kiri dan ke kanan, ternyata ibu dan bapak yang lainnya sedang menghapus air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata suara cempreng yang keluar dari bibir balita kami tidaklah penting. Tapi melihat mereka bernyanyi dengan penuh semangat dan syair lagu yang sangat menggetarkan mampu membobol pertahanan emosi para ortu termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si kecil Van, berdiri di antara barisan dan sesekali ia memilin rambutnya. Sosoknya mungil, walau berdiri hampir sama tinggi dengan teman-temannya tapi bagiku Van tetap saja, si kecil yang masih sering ku timang-timang. Rasa tidak percaya melihat Van bernyanyi. Se hari-hari, ia masih hanya bersinglet dan celana dalam bila hanya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah bersih dan bersinar, bola matanya hitam dan besar, bibir dan hidungnya mungil. Kerap aku menganggunya dengan mengatakan, “Kok Van tidak ada hidungnya?” Biasanya ia, akan meraih tanganku dan meletakan ke hidungnya lalu berkata ”Ini hidungku, mama!” Dan biasanya aku aan tertawa tergelak-gelak. Habisnya hidung Van seperti setengah jambu air kancing yang berwarna merah dan kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, masa-masa saya mengandung anak-anak. Setiap saat berdoa agar Tuhan memberi yang terbaik buat janin dalam rahim saya. Ketika memasuki kehamilan tri mester ke tiga (Bulan ke-7) saya mulai diliputi kekhawtiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah bayi saya hidup? Akankah fisiknya normal? Akankah ia sehat? Setelah persalinan usai dan saya sudah dapat memeluknya, maka saya mulai meneliti seluruh tubuhnya. Bayi saya hidup, sehat dan secara fisik normal. Puji Tuhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari, kebahagiaan yang mewarnai hari-hari saya mulai di ganggu rasa khawatir lagi. Lewat empat puluh hari, apakah bayi saya dapat melihat? Lewat enam bulan, akankah ia  dapat mendengar dan berbicara? Lewat setahun, akankah ia dapat berjalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kelahirannya yang membawa warna kebahagiaan, di iringi  kekhawatiran yang sama besar. Semakin saya mengasihi, semakin besar kekhwatiran saya akan masa depannya. Setelah ia melewati usia setahun, dua tahun, tiga tahun dengan baik, bukan berarti saya tidak khawatir lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saya tidak mempercayakan pada Tuhan. Tapi saya bicara pada konsep kenyataan hidup.  Walau saya meyakinan rencana Tuhan adalah rencana terbaik bagi kehidupan saya, tidak berarti saya tidak akan bertanya atau menangis atau tergoncang saat mendapat ujian dari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada seorang pun orang tua yang bisa tersenyum saat anak-anak mereka sakit. Mungkin menyadari ini teguran dari Tuhan, tapi kita pasti akan berseru ”Tuhan, limpahkan saja rasa sakit itu padaku, jangan pada anakku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada persoalan rasa khawatir, Setiap masa pertumbuhan dan perkembangan anak, di situ selalu ada kekhwatiran para orang tua. Kasih sayang orang tua selalu berjalan seiring dengan rasa khawatirnya. Persoalan yang kita hadapi saat anak-anak duduk di tiap tingkat pendidikan seiring bertambah usianya juga menjadikan kebahagiaan dan kekhawatiran yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau dikatakan kasih sayang ortu sepanjang masa sebenarnya rasa khawatir ortu juga sepanjang masa, bahkan mungkin sepanjang hayat masih dikandung badan. Perhatikan, betapa para ortu sangat berbahagia bila berhasil mengantarkan anak-anaknya ke jenjang rumah tangga. Wajah mereka sangat sumringah bahkan kadang kebahagian para ortu di saat pernikahan anak-anaknya melampau kebahagiaan si pengantin itu sendiri. Tapi perhatikan juga deh, apakah ortu kita tidak cemas jika kita sedang ada masalah dalam rumah tangga kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal sebagai ortu, kita juga tahu kita tidak bisa menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Kita harus percaya solusi selalu ada baik kita ciptakan atau kita ambil dari tawaran orang lain. Namun yang pasti urusan dengan yang namanya anak, adalah harga yang harus selalu kita bayar. Karena anak tidak pernah minta untuk dilahirkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bijak mengatakan, setiap orang terlahir bagai kertas putih polos. Akan tertulis atau tergambar apa, tergantung nilai dan ajaran yang diterima yang bersangkutan. Mulanya ia dibantu menggariskan pena kehidupannya, selanjutnya ia akan menggoreskan sendiri. Bukan lagi garis atau coretan tapi mungkin sudah berbentuk kata dan kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah apakah anda akan menuliskan semua kekhawatiran anda atau akan ada tuliskan juga besarnya kasih anda pada anak-anak yang anda lahirkan atau orang-orang sekitar yang anda cintai? Setiap habis hujan akan selalu ada pelangi! Ke hawatiran memang akan selalu ada namun Tuhan juga selalu menjanjikan kedamaian dan kebahgiaan. Jadi kuncinya cuma satu, pasrah dan berserah diri. (Icha Koraag. 10 Januari 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116849445213095683?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116849445213095683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116849445213095683' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116849445213095683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116849445213095683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2007/01/kasih-sayang-khawatir-ortu-sepanjang.html' title='KASIH SAYANG &amp; KHAWATIR ORTU SEPANJANG MASA'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116686898816405492</id><published>2006-12-23T02:14:00.000-08:00</published><updated>2006-12-23T02:16:28.536-08:00</updated><title type='text'>KEBAHAGIAAN DI SUATU PAGI !</title><content type='html'>Aku masih terbaring di ranjang. Selimut masih membungkus tubuhku, dan aku juga masih merasakan tangan mungil Van yang memilin-milin ujung rambutku, tiba-tiba aku tersentak oleh doa yang terucap dari bibir Van.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yesus yang baik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkati mama, papa, Kakak Bas dan Anes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan, Amin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi doanya sederhana saja. Kata-kata yang digunakan juga terangkai dalam kalimat langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pembungkus, tanpa menggunakan kalimat pemanis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meluncur lancar tak terbata-bata dari bibir mungil, Van.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri bungsuku yang baru berusia 3,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak, rasa kantukku hilang, berganti dengan kesegaran yang diawali getaran telinga atas doa dari bibir mungil Van. Aku berbalik dan kali ini Van menyembunyikan wajahnya di leherku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku cium lembut seluruh wajahnya, juga tubuhnya. Matanya terpejam tapi bibirnya membentuk senyum. Ah tak ada permandangan yang lebih indah daripada permandangan dihadapanku sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku adalah anugerah yang sungguh luar biasa yang kumiliki dalam kehidupanku. Darinya aku belajar memahami arti memiliki, darinya pula aku belajar memahami arti kasih yang sesungguhnya. Kala kelelahan menerpa tubuh ini, kala sakat menyakit melingkup diri ini, Van ada dan selalu ada di dekatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangan mungilnya di remas-remas kaki dan tanganku, maksudnya memijatku. Tangan mungil dan tenaga kecilnya nyaris tak memberi rasa apa-apa di kaki dan tanganku tapi menimbulkan getar-getar halus di sanubari ini. Sungguh menyenangkan mempunyai buah hati seperti Van.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bas yang sudah duduk didepan tv sambil menikmati susu coklatnya, sesekali masuk ke kamar hanya untuk bertanya: Boleh aku mencium mama? Apa ada kebahagiaan yang melebihi hal-hal seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencium Bas dan Van, saat ini masih serupa seperti mencium mereka saat masih bayi merah. Saat kami asyik berangkulan di tempat tidur, aku teringat sesuatu. Yah, Hari ini Sabtu 23 Desember 2006. Bergegas dengan tertatih (Kondisiku masih belum pulih) aku menggandeng Bas dan Van menemui papanya. Yah, hari ini papanya berulang tahun. Kamipun larut dalam pelukan. Aku memimpin doa syukur untuk suamiku, kesehatanku dan keluargaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan kala Tuhan menyertai kehidupan kita dimanapun dan sedang apapun. Terima kasih Tuhan untuk semua berkat yang sudah Kau anugerahkan bagiku dan bagi orang-orang ku cintai. (Icha Koraag, 23 Des 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116686898816405492?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116686898816405492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116686898816405492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116686898816405492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116686898816405492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/12/kebahagiaan-di-suatu-pagi.html' title='KEBAHAGIAAN DI SUATU PAGI !'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116676671622028936</id><published>2006-12-21T21:49:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T21:51:56.453-08:00</updated><title type='text'>SELAMAT HARI IBU, UNTUK DIRI SENDIRI!</title><content type='html'>Hari ibu?&lt;br /&gt;Dulu waktu aku sekolah, jika memperingati Hari Ibu, aku coba memahami peran perempuan secara umum. Lalu peran perempuan dalam kehidupanku (Ibuku). Sekarang, aku mencoba memahami hari Ibu, sebagai hari aku. Ya, bukankah aku seorang perempuan, seorang istri dan ibu dari Bas &amp; Van?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak salahkan kalau aku mengucapkan selamat hari ibu, bagi diriku sendiri.&lt;br /&gt;"Cha, selamat hari ibu.&lt;br /&gt;Semoga apa yang kamu perjuangkan untuk selalu menjadi istri dan ibu yang baik bisa terwujud!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku sedang sakit!&lt;br /&gt;Sejak Senin, 18 Des, seluruh permukaan tubuhku timbul bercak-bercak merah. Karena tidak merasa terganggu, aku tidak terlalu peduli. Selasa pagi, bercak itu mulai rata di seluruh tubuh dan wajah. Tapi aku tetap kerja dan menyempatkan diri datang ke Peluncuran Buku Kembang-Kembang Genjer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari TIM, aku singgah di Klinik 24 jam dekat rumah. Dokter jaga bilang, ah paling alergi. Padahal sampai umurku tua begini, aku belum pernah tahu alergie. Tapi aku tak banyak komentar, terima di suntik dan di bekali obat 2 macam. Serta surat istirahat 2 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu, ada demam sedikit tapi tidak terlalu mengganggu, aku masih mengantar Bas dan Van untuk merayakan Natal di sekolah lalu menuliskan dan mempostingkan liputan Kembang-Kembang Genjer. Siang sehabis minum obat aku tidur. Seperti pesan dokter, obatnya membuat ngantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun, kala kakiku di sentuh Bas. Bas minta makan karena lapar. Ku lihat jam menunjukan pukul 18.40. Bas dan Van suah bangun tapi membiarkan aku tetap tidur. Ku paksakan bangun, dan menyesuaikan dengan keadaan, barulah perlahan-lahan aku turun dari tempat tidur dan menyiapkan makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang mengerjakan persiapan makan malam, pikiranku melayang pada mamiku. Mungkin dulu mamipun seperti ini. Di tengah sakit tetap harus menyediakan kebutuhan keluarga. Kalau aku merenungkan, Karena tanggung jawab sebagai ibu, rasa sakit jadi tidak kami rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mempunyai dua anak, sedangkan mamiku 11, apa jadinya kalau mami sakit dan tidak bisa mengasuh 11 anaknya? Sekarang aku rasakan sendiri. Sakit itu bisa tidak terasa jika ingat kewajiban merawat Bas dam Van, Mungkin seperti itulah yang dilakukan dan dirasa para ibu dimana-mana. Tidak pernah mengaku bahkan dengan tegar akan berkata "Saya sehat-sehat saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seperti inilah yang dirasakan mamiku atau ibu-ibu di seluruh dunia, demi keluarga yang dicinta, ia tidak merasakan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tapi, waktu itu apa yang aku lakukan? Berterima kasihkah? Bersyukurkah? atau biasa saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba airmata mengalir , ada perasaan perih bagai diiris sembilu, menjadi ibu adalah keinginanku sendiri, Sungguh aku sangat bersyukur dan berbahagia bisa menjadi seperti yang aku inginkan. Di belantara dunia, banyak orang yang tidak bisa menjadi seperti yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai alasan, peran sebagai ibu berusaha dimatikan. Padahal naluri untuk merawat dan mengasihi sudah menyertai setiap perempuan yang terlahir di bumi. Tuhan memberikan siksa dan derita ketika datang bulan, hamil dan bertarung nyawa saat melahirkan buah cintanya. Tapi Tuhan juga memberikan kemuliaan yang tiada tara buat semua perempuan yang berperan sebagai ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya perempuan yang bisa memberikan air susunya sebagai makanan pertama, penguat tubuh anak-anaknya. Menjelang malam, aku sangat mengantuk, perutku mual. Setelah selesai memberi makan Bas dan Van, ganti Frisch yang mengurus aku. Ia menyiapkan makan malamku. Usai makan malam dan minum obat, aku tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, kurasakan semua sendi pergelangan tangan dan kakiku sakit. Ketika kutelepon adikku yang dokter, ia memperkirakan asam urat. Aku niat akan ke dokter dulu sebelum memberli obat yang dianjurkan adikku. Herannya bercak-bercak merah belum juga hilang. Wajahku jadi nampak kusam. Jadi semakin tak sedap di lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, hari ibu.&lt;br /&gt;Aku sakit. Merenung untuk memaknai hari ibu, alih-alih membuat aku sedih. Tadi aku menelpon mami dan mama mertua ku, mengucap salam dan selamat hari ibu. Mereka berdua mengucapkan salam kembali selamat hari ibu untukku. Ya, akupun pantas mendapat ucapan selamat hari Ibu! (Icha Koraag, 22 Des 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116676671622028936?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116676671622028936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116676671622028936' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116676671622028936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116676671622028936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/12/selamat-hari-ibu-untuk-diri-sendiri.html' title='SELAMAT HARI IBU, UNTUK DIRI SENDIRI!'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116520296461425141</id><published>2006-12-03T19:26:00.000-08:00</published><updated>2006-12-03T19:29:25.700-08:00</updated><title type='text'>Poligami atau Poliandry adalah pengingkaran komitmen</title><content type='html'>Ketika beberapa waktu lalu ada acara pemilihan "Poligami award" yang di motori pemilik sebuah rumah makan khas Solo, saya tidak merespon. Artinya saya tidak berkomentar mengenai peristiwa tersebut. Karena sisi keperempuanan saya tersinggung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan dijejerkan dan dipamerkan sebagai manusia yang takluk dan menerima berbagi suami, lalau komunitas itu layak mendapat penghargaan. Buat saya itu adalah masyarakat yang sakit. Jujur, itu salah satu peristiwa yang turut memacu tekad saya untuk terus mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat mengenai hak, peran dan tanggung jawab manusia berjenis kelamin laki-laki dan berjenis kelamin perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AA Gym bukan dewa, ia hanya manusia biasa yang ditempelkan berbagai atribut peran di dunia. Kita, masyarakat yang mengenal sosok AA Gym baik secara langsung maupun lewat media harus memisahkan fakta tersebut dari emosi. Artinya jangan karena kepalang mengaggumi ucapan atau ajaran yang disebar luaskan lalu bias menganggap semua tindakan seorang AA Gym patut diteladani juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi coba telaah dengan kepala dan hati yang tenang. dari beberapa kawan perempuan yang saya tanyakan umumnya mereka menjawab "Tindakan AA Gym sudah benar tapi tidak perlu di tiru". Lalu saya mengejar dengan pertanyan lain. Bukankah sebuah tindakan yang benar harus di tiru dan tindakan yang tidak benar harus diperbaiki agar menjadi benar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diam sejenak, umumnya mereka menjawab "Iya, sih". Tapi ada semacam keengganan untuk menjawab lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tanyakan satu pertanyaan langsung: "Bagaimana rasanya kalau kamu harus berbagi suami?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jujur saya tidak mau"&lt;br /&gt;"Kalau mau mendapat upah sorga, ya terima"&lt;br /&gt;"Di sini kan kita diuji, keikhlasan dan ketaqwaan kita"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jawaban pertama, saya tanyakan lagi  mengapa tidak mau?&lt;br /&gt;"Barangkali saya manusia biasa, sulit rasanya membayangkan harus berbagi suami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban kedua dan ketiga, saya tanyakan lagi "Apakah sorga tidak menyediakan tempat bagi perempuan yang tidak rela berbagi suami?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya: "Yah, bukan begitu tapi di agama kita kan kita diajar untuk mengikuti suami sebagai imam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanyakan lagi, " Apakah kamu akan terus mengikuti atau menjadikan panutan orang yang sudah menyakiti kamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah salah, kalau kita sebagai perempuan mengakui sebagai manusia biasa sehingga tidak rela berbagi suami adalah sesuatu yang wajar? Apakah justru dengan berusaha merelakan berbagi suami agar tampak ilmu keikhlasan dan iman pada agamanya menjadi lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa yang disampaikan Juli alam sebuah milis, manusia dan agama adalah bagian dari kebudayaan, tapi tidak Kepercayaan/Iman! Saya setuju dengan pendapat Juli. Banyak masyarakat kita, terutama kaum perempuan  tidak bisa memisahkan agama sebagai sebuah keyakinan dan agama sebagai sebuah budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Juli mengatakan: Poligami bukan hanya masalah Cemburu atau dinilai dari perasaan semata. Tapi merupakan bagian dari pengingkaran komitmen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi saya harus mengakui, saya sependapat. Padahal kalau mereka mau mengatakan berdasarkan apa yang mereka rasa, ini justru membantu mereka keluar dari budaya yang dibentuk untuk percaya bahwasannya perempuan tidak punya pilihan. Suka atau tidak suka, ya terima. Tidak bisa kalau suka terima, tidak suka tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau ditanya mengapa? Satu buku tidak cukup menjawab.&lt;br /&gt;Persoalannya bukan poligami atau poliandri, itu persoalan sepele dan terlalu sederhana. Ini persoalan lebih menyangkut substansi pengetahuan hak-hak perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba jujur tanyakan pada pasangan masing-masing sebelum menikah,  akankah merelakan pasangannya berpoligami atau berpoliandri nanti?&lt;br /&gt;4 Des 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116520296461425141?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116520296461425141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116520296461425141' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116520296461425141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116520296461425141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/12/poligami-atau-poliandry-adalah.html' title='&lt;strong&gt;Poligami atau Poliandry adalah pengingkaran komitmen&lt;/strong&gt;'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116478348933807333</id><published>2006-11-28T22:57:00.000-08:00</published><updated>2006-11-28T23:36:44.693-08:00</updated><title type='text'>DOUBLE STANDARD</title><content type='html'>DOUBLE STANDARD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Minggu lalu ketika media memberitakan tewasnya seorang bocah karena ulah beberapa bocah lain yang mempraktekkan “Smack Down”. Beramai-ramai para orang tua (Suami-istri) berkomentar dan menghendaki tayangan Smack Down pada sebuat tv swasta  dihentikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau topik tersebut bukan gosip ibu-ibu arisan. Tapi kalau topik Dhani-Maia itu gosip arisan. Mengapa begitu ? karena menggunakan double standard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Double Standrad atau standar ganda adalah pilihan yang banyak digunakan masyarakat untuk mesnikapi sebuah situasi. Atau dengan kata lain sebenarnya bisa dimaknai sebagai "tidak punya sikap" atau   "hanya ikut-ikutan dan mencari aman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan masyarakat baik laki-laki atau perempuan yang menggunakan standar ganda adalah kelompok masyarakat yang tidak berani berpendapat (Bukan tidak punya pendapat). Di sebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah  pola asuh, dimana mengharamkan upaya menyampaikan pendapat. Orang tua hanya mendidik anak mendengar dan melaksanakan aturan yang dibuat orang tua tanpa boleh menyampaikan pendapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan pola asuh semacam itu salah tapi yang pasti pola asuh semacam itu menciptakan anak-anak yang tidak mampu mengeluarkan pendapat. Padahal menyampaikan pendapat adalah salah satu hak dasar manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu reaksi dari tulisan saya mengenai Dhani-Maia, adalah gosip ibu-ibu arisan. Saya cuma mau meluruskan, dan mengatakan anggapan tersebut tidak benar. Saya hanya ingin  menggugah sedikit rasa peduli pada sesama perempuan yang juga istri dan ibu. Tidak lebih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tulisan saya yang berjudul “SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA), saya mendapatkan reaksi sekitar 30 tanggapan. Tanggapannya bermacam-macam, ada yang malah menuduh saya menyebarkan gosip, ada yang membenarkan dan mendukung sikap Dhani dilihat dari sisi agama. Ada yang tak peduli dengan berpendapat itu urusan rumah tangga Dhani dan Maia. Ada juga yang beranggapan strategi pendongkarakan popularitas/penjualan album dan ada juga yang tidak setuju pada sikap Dhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini iklim demokrasi, siapapun boleh berpendapat, sama seperti saya yang bebas mempostingkan tulisan saya selama itu tidak melanggar SARA. Mari kita lihat dari substansi isi dan teknik penulisan. Saya melemparkan topik pembicaraan, anda mau menanggapi silahkan, tidak menanggapi ya silahkan. Karena apapun pendapat anda pastinya dipengaruhi oleh tingkat intelektual, pengalaman hidup, pemahaman ajaran agama dan pengetahuan sosial tentang hidup dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai tanggapan saya bisa mendapat gamabaran seperti apa masing-masing orang yang berpendapat. Dan saya menghormati pendapat dan si pemberi pendapat. (Terima kasih untuk semua yang sudah bereaksi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang mengatakan saya menyebarkan isyu atau gosip, itu hak anda berpendapat demikian, menurut saya kalau isyu atau gosip faktanya tidak jelas, sementara yang saya tuliskan faktanya ada. (Pernyataan Dhani adalah fakta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa menanggapi pendapat yang mempertimbangkan agama karena saya tidak punya kapasitas untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang mengatakan itu urusan RT Dhani dan Maia, saya sependapat. Tapi telah berubah menjadi urusan publik atau masyarakat yang lebih luas karena Dhani menggunakan Media massa (umum) untuk persoalan RT dengan kata lain, Dhani mengizinkan hal tersebut menjadi persoalan masyarakat. Dan disini masyarakat bebas menanggapi. Sebagai anggota masyarakat, saya peduli. Karena kepedulian saya maka saya menuliskan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan saya  sebelumnya (“SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)),  jelas saya tuliskan, kita diajar untuk menjaga RT kita dengan saling menjaga, menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan. Apakah pantas seseorang yang mengaku pasangan hidup kita (suami/istri) mempermalukan pasangannya dimuka umum? Jika ada ajaran yang mengajarkan untuk tidak saling menjaga. Menyayangi, menghormati satu sama lain sebagai pasangan yang menikah, tolong informasikan ke saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan saya juga jelas saya tuliskan, persoalannya berbeda jika Dhani mengultimatum Maia langsung pada yang bersangkutan tanpa melibatkan Media massa (umum) Saya setuju pendapat yang mengatakan sajian infoteinment bagaikan makanan enak tapi tak begizi. Saya bukan orang yang gemar mencari tahu gosip selebriti tapi yang saya melihat informasi lain dibalik info tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi bisa diperoleh darimana saja, ketika saya medengar infromasi ultimatum seorang Dhani pada Maia istrinya, saya tidak melihat mereka sebagai selebriti. Saya peduli pada persoalan ini, karena saya seorang perempuan yang juga istri dan seorang ibu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga sebagai unit terkecil berperan besar dalam komunitas masyarakat yang lebih luas. Jika sebuah keluarga tidak mampu mempertahankan nilai-nilai moral dalam keluarga tersebut, maka komunitas masyarakat yang lebih besar akan menjadi ”sakit”. Ketika nilai-nilai sosial dan moral dalam sebuah keluarga tidak diperdulikan hanya berpijak pada nilai agama, semua hanya kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena sesungguhnya tidak ada satu agama di dunia ini yang mengizinkan atau memberi hak salah satu pasangan yang terikat dalam sebuah pernikahan untuk mempermalukan pasangan lainnya dihadapan masyarakat luas. Sekalipun orang tersebut berpangkat, berkuasa, berpendidikan tinggi atau memiliki kekayaan melimpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tidak menunjukan wibawa atau nilai lain selain membuka aib dan mencoreng aib di keningnya sendiri. Silahkan anda menilai sendiri tipe orang seperti itu dikaji dari sisi sosial, psikologi ataupun agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebagai anggota masyarakat, sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri jelas tersinggung jika ada kaum saya diperlakukan seperti itu. Jangan dibelokkan pada pemahaman emansipasi. Saya tidak berpendapat emansipasi sebagai kebebasan perempuan untuk melakukan apa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya emansipasi adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam kesepakatan. Artinya jika Dhani dan Maia sepakat Maia boleh bermusik hanya Sabtu dan Minggu bukan All day. Loh kok setelah kebablasan baru ditegur? Saya percaya pasangan yang baik akan selalu mengingatkan dan menjaga pasangannya agar jangan salah jalan atau salah melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kalau Dhani seorang laki-laki yang gentle, ia bisa melaporkan Maia telah melanggar Undang-Undang No. 23 tahun 2004 mengenai Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), Yaitu penelantaran rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya  dengan mengultimatum lewat media massa justru Dhani yang telah melanggar UU PKDRT karena melakukan kekerasan psikhis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal baik dari kehidupan orang lain bisa kita tiru, sebaliknya hal-hal buruk dari kehidupan orang lain, kita hindari. Bukankah kita bisa belajar darimana saja termasuk dari kisah kehidupan orang lain ? dan itu yang sedang saya pelajari. (Icha Koraag, 29 nov 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116478348933807333?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116478348933807333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116478348933807333' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116478348933807333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116478348933807333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/double-standard.html' title='DOUBLE STANDARD'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116470097793455471</id><published>2006-11-28T00:02:00.000-08:00</published><updated>2006-11-28T00:02:59.013-08:00</updated><title type='text'>SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)</title><content type='html'>Sebelum berangkat kerja, saya sempat mendengar informasi yang ditayangkan sebuah infoteinment di tv. Achmad Dhani, pentolan grop musik DEWA yang juga suami dari salah satu personil group vokal RATU, Maia, mengultimatum sang istri untuk membubarkan group vocalnya  atau pernikahan Dhani dan Maia yang buyar! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utimatum itu keluar dari mulut Achmad Dhani dan disiarkan semua infoteinment yang ada. Sayangnya pada waktu yang bersamaan, infoteinment tidak menginformasikan bagaimana reaksi dan pendapat sang istri, Maia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infoteinment hanya mengatakan dengan kalimat standar “Hingga informasi ini disiarkan, Maia belum bisa dimintakan pendapat. HP yang dihubungi pun tak tersambung”. Kalimat tersebut sebetulnya hanya upaya menunjukkan bahwa infoteinment sudah melakukan berita berimbang. Sudah menghubungi Maia namun yang bersangkutan tidak bisa dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Achmad Dhani mengatakan, ia sangat terenyuh bahkan nyaris mengeluarkan airmata karena anak-anaknya melakukan semua aktivitas hanya ditemani pembantu. Makan dengan pembantu, nonton tv dengan pembantu, siap-siap ke sekolah juga dengan pembantu. Jika menggunakan daftar absen, sebagai seorang ibu,  absen Maia sudah sangat banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suami, Dhani meminta Maia keluar dari RATU, menghentikan semua aktivitas bermusiknya dan kembali ke  keluarga. Ultimatum tersebut tidak main-main. Ini dapat dilihat dari tindakan Dhani yang memecat Vita yang di tunjuk Dhani untuk menjadi Manajer RATU. Dhani menilai Vita sudah gagal mengatur jadwal RATU yang berdampak pada  kesibukan Maia, sehingga Maia menelantarkan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata info yang mengatakan Achmad Dhani seorang yang otoriter, bukan isapan jempol. Pernyataan yang disampaikan Achmad Dhani kepada masyarakat melalui infoteinment, membenarkan anggapan selama ini, bahwa Achmad Dhani memang seorang yang Otoriter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat ketika Maia baru menampakkan langkah kakinya di dunia musik Indonesia, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan  sebuah tv swasta, Maia mengatakan langkahnya ini direstui dan di dukung sang suami. Sang suami melihat anak-anak sudah besar dan dapat di tinggal, sehingga sang suami mengizinkan Maia kembali menekuni apa yang dulu pernah ditekuni (Maia sempat menjadi backing vocal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekarang Maia, dinilai sudah keterlaluan oleh sang suami, maka yang menjadi keprihatinan adalah, apakah pasangan Dhani dan Maia tidak mempunyai hubungan komunikasi? Apakah Dhani dan Maia tidak tinggal serumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel yang berjudul ”Mengikis sifat Otoriter” yang di tuliskan Arland dalam milis ”Mencintai Islam”: Orang yang otoriter memandang dirinya lebih dari orang lain dan  selalu melihat sesuatu dari sisi kejelekannya saja. Salah satu yang berbahaya di antara penyakit hati  adalah sifat egois, tidak mau kalah, ingin menang sendiri, ingin selalu merasa benar, atau sifat selalu merasa dirinya tidak berpeluang untuk berbuat salah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dutuliskan Arland semua nampak dalam diri seorang Dhani Dewa. Bahkan tanpa perasaan malu mengultimatum istri sendiri dan mengumumkannya pada masyarakat luas. Bukankah kita diajarkan bagaimana suami-istri saling mendukung dan saling menjaga bukan saling mempermalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salah satu dari pasangan suami istri tersebut sudah tidak menghormati pasangannya, akankah kehidupan rumah tangganya dapat berjalan dengan baik? Memang tidak menutup kemungkinan Maia akan memilih rumah tangganya dan mengorbankan karir bermusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan penggemar group vokal RATU,. Sayapun tidak merasa dirugikan jika group vokal RATU di bubarkan. Ada apa dibalik motivasi Dhani DEWA dalam mengultimatum sang istri. Sungguhkah didorong keprihatinan atas nasib ketiga anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau karena kepopuleran Dhani dikalahkan oleh kepopuleran Maia? Jika prihatin terhadap nasib ketiga anak-anaknya, apakah ini bukan salah satu resiko yang sudah bisa dipredeksi ketika mengizinkan sang istri terjun ke dunia entertain? Apakah tidak ada komunikasi dintara pasangan Dhani dan Maia sehingga jadual Maia bisa terlampau banyak sehingga berdampak pada tingginya frekwensi meninggalkan keluarga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Dhani dengan tinggnya frekwensi manggung RATU berarti tebalnya kocek Maia? Apakah sesungguhnya Dhani mulai merasa terancam melihat perolehan Maia dari segi materi? Atau hal yang paling kecil tapi cukup prinsipil, Dhani kesepian? Sehingga ini hanya alasan dari niat yang sesungguhnya untuk melakukan tindakan lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kemungkinan bisa dan mungkin terjadi. Seharusnya jika menghormati istrinya, ulmitumlah istrinya sendiri tanpa perlu menggunakan jalur umum. Dari sikapnya yang mempbulikasikan ultimatumnya pada masyarakat umum, menunjukan Dhani DEWA tidak menghormati lembaga pernikahan sekalipun itu pernikahannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengingatkan masyarakat pada sikapnya yang tidak sopan pada ayah kandungnya ketika sang ayah kandung membenarkan pernikahan Dhani Dewa dan Mulan Kwok, memang terjadi. So,  Dengan kata lain , jika seseorang sudah tidak menghormati rumah tangganya, keluarganya, juga orang tuanya maka pada dasarnya orang tersebut tidak menghormati dirinya sendiri. (Icha Koraag)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116470097793455471?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116470097793455471/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116470097793455471' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116470097793455471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116470097793455471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/sikap-otoriter-lelaki-bernama-achmad.html' title='SIKAP OTORITER LELAKI BERNAMA ACHMAD DHANI (DEWA)'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116462657271827431</id><published>2006-11-27T03:18:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T03:22:53.386-08:00</updated><title type='text'>KAMARKU</title><content type='html'>Kamarku adalah sebuah ruangan yang bisa memuat dua tempat tidur&lt;br /&gt;spring bed ukuran 160 x 200 cm , dua nakas (Lemari kecil samping tempat&lt;br /&gt;tidur) dan sebuah lemari serba guna untuk menyimpan seprei dan&lt;br /&gt;meletakan tv di atasnya. Di atas kepala tempat tidur, kutempelkanlukisan pernikahanku dan di kiri kanan lukisan itu, kusandingkan nama&lt;br /&gt;anak-anakku yang terbingkai, hasil sulaman ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding kamar sengaja di cat warna krem agak memberi efek luas dan&lt;br /&gt;cerah. Untuk memperindah dan memberi kesan nyaman, seprei-sprei yang&lt;br /&gt;kupasang di tempat tidur selalu berbahan katun dan bermotif lembut.&lt;br /&gt;Pilihan warna selalu ku pilih yang senada dengan warna dinding.&lt;br /&gt;Buatku, kamar adalah tempat yang paling menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya sebagai tempat berisitirahat atau tidur. Kamar bagiku juga berfungsi&lt;br /&gt;sebagai tempat bersenda gurau dengan suami dan anak-anak. Karena hanya&lt;br /&gt;kamar tidur yang berpendingin ruangan. Dan kamar tidurku adalah kamar&lt;br /&gt;tidur satu-satunya di rumah ini yang berarti juga kamar tidur suami&lt;br /&gt;dan anak-anakku. Bisa dibilang, kami melakukan banyak aktivitas dalam&lt;br /&gt;kamar tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamar ini juga aku menemani anak-anak belajar. Bas dan Van tidak&lt;br /&gt;bersedia belajar di ruang depan dengan alasan gerah. Aku tahu, rumah &lt;br /&gt;kami walau memiliki ventilasi cukup tetap tidak bisa menahan panasnya&lt;br /&gt;udara kota Jakarta. Lagi pula aku mempertimbangkan kemampuan&lt;br /&gt;konsentrasi anak-anak. Di ruangan yang panas, mereka cepat&lt;br /&gt;berkeringat, itu membuat tubuh mereka tidak nyaman dan pada akhirnya&lt;br /&gt;mengganggu konsentrasi belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar ini pula, kala kedua anakku dibuai mimpi, aku dan suamiku&lt;br /&gt;bertukar cerita tentang aktivitas masing-masing sepanjang hari ini.&lt;br /&gt;Sambil berbaring dipangkuannya, kutumpahkan semua keluh kesah atau&lt;br /&gt;bahagiaku. Tangan kekarnya senantiasa mengusap lembut punggung hingga&lt;br /&gt;betis kakiku. Ku tahu, ia berusaha meringankan kelelahan dan rasa&lt;br /&gt;pegalku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sering juga usahanya berakhir pada penyatuan tubuh kami dalam&lt;br /&gt;tarian cinta. Kamar kami jadi saksi bisu. Dan biarlah tetap begitu.&lt;br /&gt;Karena jika kamar ini bisa bicara, lebih dari seribu cerita bisa ia&lt;br /&gt;ungkapkan. (Icha koraag)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116462657271827431?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116462657271827431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116462657271827431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116462657271827431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116462657271827431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/kamarku.html' title='KAMARKU'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116462429483173833</id><published>2006-11-27T02:43:00.000-08:00</published><updated>2006-11-27T02:44:55.213-08:00</updated><title type='text'>LEBIH BAIK SAKIT GIGI DARIPADA PATAH HATI</title><content type='html'>Kalau saya tidak salah, kalimat judul di atas adalah penggalan salah satu lagu dangdut. Saya tidak ingat siapa yang mempopulerkannya. Dulu kalau mendengar penggalan syair tersebut, saya dan teman-teman biasanya tertawa ngakak seraya membenarkan dalam hati. Soalnya sakit gigi ada dokternya dan ada obatnya tapi kalau patah hati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bagi orang yang sudah merasakan sakit gigi, bisa dipastkan tidak setuju sekali dengan kalimat judul di atas. Sakit gigi, adalah suatu penyakit yang tidak terlalu nampak, hanya sebatas dalam rongga mulut tapi kemampuan rasa sakit yang ditebarkannya mampu, membuat orang yang merasakannya tidak bisa tenang bahkan sakit gigi walau hanya satu dua hari terasa bagaikan tiada berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, siapa lagi yang mau patah hati? Pasti semua akan menjawab tidak ada yang mau. Persoalannya dapatkah kita memilih untuk tidak patah hati? Jawabannya  tidak. Karena manusia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Barangkali kita perlu menelusuri terlebih dahulu, penyebab atau kemungkin yang bisa membuat patah hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patah hati bisa diartikan baru putus cinta. Jadi supaya jangan patah hati, ya jangan putus cinta dong. Bagaimana caranya supaya jangan putus? Telaah kembali hubungan tersebut. Kalau tidak cocok jangan dipaksakan, kalau putus, yah jangan merasa patah hati dong. Lebih baik putus dari sekarang daripada putus setelah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patah hati bisa diartikan cinta tak terbalas alias bertepuk sebelah tangan. Hey.............kenapa juga harus merasa patah hati  hanya karena bertepuk sebelah tangan. Apa cuma dia mahluk di dunia ini? Tak bersambut, cari lagi yang lain. Ayo tepuk tangan sendiri, toh Tuhan memberi kamu sepasang tangan, tanpa orang lain kamu bisa bertepuk tangan sendiri. Intinya, jangan hancur karena sebuah penolakan. Buktikan orang itu menyesal pernah menolak kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patah hati bisa diartikan kekecewaan yang disebabakan gagalnya sebuah hubungan. Karena menyangkut sebuah hubungan pastinya melibatkan lebih dari satu orang. Dulu teman-teman saya pernah bilang, lebih baik patah hati daripada tidak pernah merasakan jatuh cinta. Hmm...bagaimana yah? Apa rugi tidak pernah jatuh cinta? Apa sih jatuh cinta? Mengapa orang bisa jatuh cinta? Apa bedanya jatuh cinta sama jatuh dari pohon? Pastinya sih, sama-sama sakit. Cuma kalau jatuh cinta, sakitnya tidak kelihatan kalau jatuh dari pohon, jelas kelihatan. Kalau tidak jidat benjol, yah paling-paling kaki atau tangan patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak mau jatuh dari pohon, maka jangan naik pohon. Maka dijamin kamu tidak akan jatuh dari pohon. So...apakah supaya tidak jatuh cinta lebih baik jangan berurusan dengan cinta? Apa ada yang bisa menolak cinta? Ih gila banget kalau ada yang bisa menentang kuasa alam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu anugerah terbesar dari sang pencipta. Menolak cinta sama dengan menolak anugerah Tuhan. Apa berani? (Kalau Van yang mengucapkan kata-katanya di balik menjadi berani apa?)&lt;br /&gt;Kunci sebenarnya sangat sederhana. Terimalah jatuh cinta sebagai sebuah proses alam. Bagian dari proses kehidupan. Seperti air yang mengalir, jika dihambat akan meluap. Jika dibiarkan, air akan mengalir mengikuti alurnya. Demikian juga cinta, kenapa juga di tolak? Biarkan saja dia tumbuh dan berkembang menjadi bagian dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya tidak sesederhana itu. Kalau jatuh cinta pada orang yang salah? Loh kok bisa? Maksudnya cinta kita tidak berbalas lantaran orang tersebut tidak mencintai kita. Yah, sudah. Mengapa harus dipasa? Cinta itu lahir dari rasa. Jatuh cinta tidak pakai logika. Bahkan orang bilang cinta itu buta. Gara-gara cinta, maaf-maaf tai kucing bisa terasa coklat. (Apa iya...?) Itu pendapat orang yang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tidak benar! Ikuti saja naluri. Cuma jangan lupa, manusia itu bukan binatang. Manusia itu mahluk paling mulia ciptaan Tuhan yang dilengkapi akal dan budi. Jadi kalau binatang cuma punya akal tapi tidak punya budi. Nah manusia biarpun sedang jatuh cinta tetap harus menggunakan akal dan budi dalam mengendalikan rasa tersebut agar jangan salah melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa sih rasanya jatuh cinta? Susah dijabarkan dengan kata-kata karena ini menyangkut rasa. Dan perasaan tiap orang itu sifatnya relatif. Ada yang bawaannya gembira terus, maunya tersenyum terus. Ada juga yang mendadak ingin berpenampilan rapi terus. Tapi ada juga yang terbayang terus wajah pujaan hatinya. Jadi maunya melamun terus. Padahal, kalau mau jujur, semua itu hanya emosional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematangan suatu hubungan cinta lebih mengedepankan logika bukan emosi atau perasaan. Justru kalau kita mencintai seseorang, kita ingin orang tersebut berbahagia. Dan jika orang tersebut berbahagia dengan mengakhiri hubungannya dengan kita, itulah yang harus kita laukan. Itulah yang namanya cinta. Cinta tidak harus memiliki. Cinta yang besar tidak pernah berakhir karena The greates love is never end. Cinta sejati adalah cinta yang besar. Cinta yang rela dikorbankan demi kebahgiaan dari orang yang dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai pada keikhlasan, maka itulah sebenarnya yang dinamakan cinta. Termasuk cinta pada pasangan suami istri. &lt;br /&gt;Ketika cinta di kedepankan maka yang ada pengabdian. &lt;br /&gt;Ketika cinta dikedepankan, Tidak ada perasaan siapa lebih besar atau siapa yang harus dihormati. &lt;br /&gt;Ketika cinta dikedepankan maka kita selalu mendahulukan orang yang kita cintai.&lt;br /&gt;Ketika cinta dikedepankan maka kita ingin senatiasa membahagiakan orang yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu lemah lembut&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari kelembutan seorang ibu yang merawat bayinya&lt;br /&gt;Cinta itu tidak menuntut&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari kerelaan induk harimau yang menyusui anak-anaknya&lt;br /&gt;Cinta itu pengabdian&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari induk burung yang mengajarkan anaknya terbang&lt;br /&gt;Cinta itu penuh kasih&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari orang utan yang mengasuh anak-anaknya&lt;br /&gt;Cinta itu penuh kedamaian.&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari  dari dua balita yang bermain bersama&lt;br /&gt;Cinta itu panjang sabar&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari kesabaran orang tua yang mengajarkan anaknya bersepeda&lt;br /&gt;Cinta itu kerelaan&lt;br /&gt;Dapat kita pelajari dari sebatang lilin yang rela  hancur demi memberi sedikit penerangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mengapa harus takut patah hati? Sakit gigi itu sakitnya luar biasa dan kalau anda belum pernah sakit gigi, jangan sesekali mengatakan lebih baik gigi dari pada patah hati. Saya jadi teringat ketika masih remaja dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran saya pahami sebagai bagian darei proses interaksi dengan sesama. Bukan saya tida setia, saya cuma sulit mengatakan tidak pada orang yang menyukai saya. Tapi saya juga tidak mengatakan saya bersedia menjadi pacarnya. Pada waktu itu saya hanya berkomitmen dengan satu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, pacar saya mendapati saya berjalan dengan laki-laki lain. Katanya karena cinta, dia marah lalu memutuskan saya tanpa memberikan kesempatan saya menjelaskan. Saya pulang mengadu pada ibu saya sambil menangis. Ibu saya berkata: ”Sekarang kamu masuk kamarmu, tutup dan kuncilah pintu. Menangislah dua hari dua malam. Sesudah itu kamu keluar, angkat wajahmu, hapus air matamu dan songsonglah dunia. Putus cinta bukan akhir segalanya. Itu hanya secuplik dari bagian perjalanan hidupmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar, putus cinta atau patah hati bukan akhir dari segalanya. Masih panjang goresan cerita yang saya bisa lakukan untuk hidup saya. Pacaran hanya sebagian kecil dari penggalan perjalanan hidup. Jadi nikmati selagi bisa dinikmati. Ketika yakin telah jatuh cinta dan meletakkan atau mempercayakan hidupmu pada seseorang maka pada waktu yang bersamaan, kita harus mempersiapkan diri untuk sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kita cintai tidak berarti tidak bisa atau tidak akan mengecewakan kita. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang menerima apa adanya. Sehingga ketika kenyataannya orang yang kita cintai tidak seperti yang kita harapkan, maka kompromi adalah jalan yang harus diambil. Perlu kita sadari orang yang kita cintai tidaklah sempurna, sebagaimana adanya kita. Justru dalam kekurangan kita saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda menjalani sebuah komitmen dalam pernikahan yang saya percaya awalnya karena cinta lalu dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga tersebut dihantam badai dan gelomnang, jangan sesekali anda berpikir ini saatnya mengakhiri perjalanan dalam bahtera rumah tangga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru anda pelu mensikapi sebagai sebuah ujian untuk menguji kekuatan dan kualitas bahtera yang dibangun atas dasar cinta Juga perjalanan bahtera cinta itu sendiri. Cinta bisa ditumbuhkan dan harus ditumbuhkan. Cinta perlu dipelihara sebagaimana tumbuhan. Pohon cinta akan terus tumbuh dan memberi kesejukan jika anda rajin  memberinya pupuk berupa kepercayaan, perhatian, komitmen, kasih sayang dan terpenting cinta itu sendiri. Percayalah pohon cinta itu akan tumbuh subur dan senantiasa menimbulkan inspirasi cinta bagi yang melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari ini anda patah hati, bersyukurlah karena anda pernah merasakan jatuh cinta. Hanya orang-orang yang beruntung yang bisa merasakan jatuh cinta. Karena tidak setiap orang pernah atau bisa merasakan cinta. (Icha Koraag, 27 Nov 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116462429483173833?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116462429483173833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116462429483173833' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116462429483173833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116462429483173833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/lebih-baik-sakit-gigi-daripada-patah.html' title='LEBIH BAIK SAKIT GIGI DARIPADA PATAH HATI'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116349164307941324</id><published>2006-11-14T00:03:00.000-08:00</published><updated>2006-11-14T00:19:12.840-08:00</updated><title type='text'>SURAT CINTA</title><content type='html'>Surat ini ku simpan  sudah 19 tahun lamanya. &lt;br /&gt;Aku tidak tahu dimana si pengirim surat ini berada.&lt;br /&gt;(Icha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Des 1987&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Icha yang mempesona. Apa kabar? Selalulah mempesona!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka kamu, karena ternyata kamu suka berkorespodensi. Kebetulan saya lebih bisa mengungkapkan perasaan lewat tulisan. Ada banya hal yang ingin saya ceritakan, tentu tentang diri saya. Saya perlu menghilangkan, melenyapkan kegamangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAMANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lembar hari luluh&lt;br /&gt;Kabut jatuh berguling&lt;br /&gt;Tetapi mengapa di bukit-bukit jauh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerimis turun&lt;br /&gt;Alam mengalun, merayap&lt;br /&gt;Tetapi mengapa mentariku lenyap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lembar hari mengadu&lt;br /&gt;Dan jiwa luluh, kulihat kau berjaga&lt;br /&gt;Demikian dekatku dalam bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dekatku&lt;br /&gt;Pada tepian semesta raya&lt;br /&gt;Demikian dekatku&lt;br /&gt;Pada puncak absurditas&lt;br /&gt;tetapi mengapa kata-kataku menerbitkan lembayung di langit?&lt;br /&gt;Tetapi mengapa aku memburu keterasingan &amp; di buru kegamangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu menggambarkan perasaan saya sekarang, tentu setelah mengenal kamu. Saya berada di dalam kegamangan selalu, jika mulai mengenal dekat sesorang yang saya suka. Sebabnya sudah jelas, keyakinan pemikiran makro-cosmos saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya seolah memburu kamu, padahal kamu adalah keterasingan. Saya yakin tak akan bisa mengerti kamu, tetapi bukan karena kamu salah-tidak tetapi karena saya egois. Tak bisa lepas dari dunia saya sendiri, masuk dalam dunia orang lain. Semakin saya dekat kamu. Semakin saya terasing dalam pemikiran saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka kamu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, saya suka kamu ada di dekat saya. Maka kegamanganlah yang mencekal&lt;br /&gt;Ini terjadi sejak beribu-ribu tahun yang lalu, Icha. Aku selalu dengan duniaku, meski kamu atau teman-teman cewek lain (dulu) milik rongga dadaku, keniscayaan kehidupan menjadi rival beratmu, bukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah anak kehidupan yang nakal Icha.&lt;br /&gt;Yang ketika bermain lupa pada induknya. Yang kemudian pula berteriak menyapa langit. Cha tulisan ini memang tulisan orang yang kesepian. Lihatlah, rasakan, bagaimana dia meronta-ronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Icha, saya tak tahu, akankah kamu sama seperti orang lain (teman-teman cewek) yang setelah tahu siapa saya lalu memutuskan untu ”just for fun” tahukah kamu betapa menyakitkannya itu? Dan betapa menyakitkan ketika kemudian orang-orang mengatakan saya Don Juan. Terlalu mahal memang harga yang harus saya bayar untuk sebuah pemikiran. Berbahayakah saya, jika saya  anti-theis, tak bertuhan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai awan saya terbang kesana kemari terbawa angin. Padahal hanya satu yang ingin saya dapatkan dari teman-teman cewek, melihat saya sebagai manusia, laki-laki bukan setan atau monster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya Cha, hari pertama saya mengenal kamu, saya langsung memberitahu kamu bahwa saya atheis. Saya tidak ingin seperti yang lain, kamu melakukan hal yang sama, mundur setelah tahu ke-atheis-an saya. Saya mau hari itu juga kamu mengindar dari saya daripada suatu hari nanti, kala saya meletakan harapan di tempat yang amat layak-kamu melihat saya sebagai racun. Namun di luar dugaan saya, kamu ktakan; kedengarannya menarik. Lalu saya jawab, terasa lebih menghinda daripada memuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada yang mencekat&lt;br /&gt;Ada yang berkutat&lt;br /&gt;Ada yang meradang&lt;br /&gt;Ada yang hilang&lt;br /&gt;Kalau kamu tak ada”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Icha sungguh mati saya tak percaya sikap kamu itu. Pulang dari punck, saya pastikan (mencari kepastian) dugaan-dugaan saya di rumah kamu. Nampaknya kamu memng tertarik dengan penyimpangan saya itu (gr deh gue!) namun saya tahu, kamu punya niat baik, mengembalikan saya ke jalan yang benar! Yang penting kamu adalah a motivation to still a live.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tangisan-tangisan kecil belum reda. Menangis bukan karena rasa absurditas hidup menjadi atheis tapi karena kesendirian. Kesendirian menanggung absurditas hidup. Cha, memang amat mengherankn pengaruh kamu. Memang telah lama aku memutuskan untuk tidak radikal lagi dalam tindakan yang berlandaskan ke-atheis-an saya. Nmun di gereja itu, saya sama sekali ”ogah” bertengkar meski saya tahu banyak tentang ”Trinitas, keTuhanan Yesus atau Rasul Paulus”, misalnya. Minat saya terhadap agama-agama kan sudah sejak dulu. Galau sekali rasanya, karena tiba-tiba harus kompromis dengan penghotbah itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Biarkan saya berkata:&lt;br /&gt;Saya suka kamu&lt;br /&gt;Dan biarkan saya mendengar kamu berkata&lt;br /&gt;Saya tahu itu&lt;br /&gt;Lalu biarkan saya berharap&lt;br /&gt;Bukan hanya kata itu”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungguh amat menenangkan, tiba-tiba kamu duduk diantara saya dan penghotbah itu. Ingin rasanya saya katakan pada kamu” Icha kalau bukan karena sedang ada rasa sayang saya pada kamu tentu sudah saya sikat habis ini orang. Tapi hebat orang itu, tak bisa saya pungkiri dia dapat melihta api pemberontakkan hanya dari mata saya. Padahal itu hanya beberapa kali saja ketika dia membacakan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali dalam hidup saya, begitulah saya berkata dalam hati setelah kita pulang. Ada orang yang memancing dalam kolam pemikirn saya, namun saya sama sekali tak mengamuk. Ya, mudah-mudahan ini pertanda baik, seperti yang kamu katakan: baik bukan bukan berarti saya mengubah pikiran saya tetapi syaa mulai mendapat kepastian bahwa ada cara menghilangkan pengaruh buruk dari ke-atheis-an saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh buruk, ya memang ada menyelimuti hidup saya yaitu keresahan. Sering saya berkata: Hormat saya kepada filsuf-filsuf yang bunuh diri. Mereka adalah orang-orang yang jujur pada dirinya sendiri, itu saja alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma saya tak akan mengikuti jejaknya. Telah saya putuskan hidup ini indah, maka aku ingin tetap hidup. Apalagi setelah ada kamu Cha. Hidup tidak hanya indah tapi juga mengalun. Ok Cha saya harus ngeposin surat ini. Hari ini sudah tanggal 22 Desember, jadi dua hari saya tulis surat ini setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cha ini masih ada satu puisi lagi untuk kamu. Sebenarnya banyak puisi yang saya dapat buat setelah ketemu kamu. Saya gak tahu bagus tidaknya puisi-puisi ini tapi yang pasti keluar dari tempat yang terdalam di benak. Puisi terakhir (di surat ini) adalah saduran dari Shakespeare, Cuma udah dimodifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakan Icha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu boleh tidak percaya&lt;br /&gt;Bahwa matahari pernah bersinar dan akan selalu bersinar&lt;br /&gt;Kamu boleh tidak percaya&lt;br /&gt;Bahwa bintang pernah berkelip dan akan selalu berkelip&lt;br /&gt;Kamu boleh tidak percaya&lt;br /&gt;Bahwa bumi pernah berputar dan akan sellu berputar&lt;br /&gt;Bahkan kamu boleh tidak percaya&lt;br /&gt;Pada apa yang saya katakan&lt;br /&gt;Namun jangan kamu tidak percaya&lt;br /&gt;Bahwa kamu mempesonaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;22 Des 1987&lt;br /&gt;Some one&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116349164307941324?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116349164307941324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116349164307941324' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116349164307941324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116349164307941324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/surat-cinta.html' title='SURAT CINTA'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116305742632440179</id><published>2006-11-08T23:27:00.000-08:00</published><updated>2006-11-08T23:30:27.536-08:00</updated><title type='text'>Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”</title><content type='html'>Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam ketika aku tiba di rumah, aku sangat terkejut melihat tumpukkan buku dan  surat-surat yang  berantakan di kamar. Tiba-tiba kelelahan menjadi bertambah. “Ada apa sih?” tanyaku dalam hati. Yang rapih hanya surat-surat penting seperti surat nikah, akte kelahiran, ijazah dan beberapa lembar surat penghargaan karena semua ada dalam satu document keeper. Beberapa foto bertaburan di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku tanpa dosa dan ringan saja mengatakan,” Rak buku kamu saya rapihkan. Kelihatannya ada beberapa kertas yang tidak perlu dan bisa dibuang. Jujur aku agak marah padanya. Karena  akumenemukan rak bukuku sudah “di acak-acak!” Semua buku di rak di turunkan lalu di tumpuk entah berdasarkan apa. Juga negative foto dan foto-foto dokumentasi anak-anak serta dokumentasi perjalanan u di tumpuk jadi satu dalam sebuah kardus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali anda akan menuduhku tidak tahu diri, di bantu kok malah kesal. Aku bukan tidak mau di bantu. Kalau Frisch mau membantu silahkan saja tapi bersama-samaku, jangan saat aku tidak ada. karena aku jadi merasa asing dengan rak buku itu. Aku pasti memerlukan waktu lebih lama jika akan mencari buku yang kuperlukan atau yang ingin kubaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frisch mencoba menghiburku dengan memperlihatkan foto-foto anak sewaktu bayi dan berkomentar, “Lucu sekali yah. Tapi kok aku tidak tahu kapan foto ini diambil?’ Aku tidak mau menjawab dan meninggalkan Frisch. Aku milih langsngung kekamar mandi. Membasahkan tubuh mulai dari ujung rambut berharap kepala ini bisa menjadi lebih dingin dan terus ke hati, sehingga aku bisa lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mandi, benakku tak berhenti berpikir. ”Apa sih tujuan Frisch merapihkan rak buku ?” pikirku dalam hati. Sebenarnya tidak ada yang aku takutkan atau khawatirkan. Toh antara aku dan Frisch tidak ada rahasia apa-apa. Cuma rasanya tidak rela, ini sedikit menyangkut masalah privasi! Ujarku salam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamar mandi kudengar gelak tawa Frisch bersma Bas &amp; Van. Pasti mereka tengah melihat foto. Aku jadi tersenyum. Melihat dokumentasi yang merekam gambar perjalanan hidup anak-anak memang menyenangkan. Tapi tidak berarti aku menjadi tidak kesal. Karena kesalku tetap ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mau melihat rak buku, di kamar aku langsung naik dan rebahan ditempat tidur. Bas dan Van masuk, ikut naik di sampingku. Keduanya memeluk dan mencium. Sesaat rasanya amat bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mama lelah yah?” tanya Bas sambil tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku. Seperti biasa Van mengulang pertanyan yang sama.&lt;br /&gt;”Mama lelah yah?” tanya Van.&lt;br /&gt;”Iya” jawbku. Tiba-tiba Frisch masuk ke kamar dan berseru:&lt;br /&gt;”Papa ikut yah! Papa kan juga mau dekat-dekat mama!” kata Frisch sambil duduk diujung tempat tidur. Kubisiki telinga Van untuk mengatakan tidak! Kontan Van berteriak ” Tidak boleh! Ini mama aku tahu!’ ujar Van.&lt;br /&gt;”Yeah..... ini mama aku juga” kata Bastiaan.&lt;br /&gt;”Punya papa juga dong!” ujar Frisch&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiganya berteriak dan beradu mulut karena Frisch sudah menggelitik Bas dan Van, sehingga aku yang berada ditengah, terjepit. Aku menari nafas panjang dan berdoa ’Tuhan beri aku kesabaran seluas samudra!” Ini adalah sepotong doa yang selalu aku ucapkan kala rasa kesal sudah sampai diubun-ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bereaksi hanya menghindar saja dari gerakan kaki dan tangan anak-anak. Pelan-pelan keluar dari ”ajang smack down”. Ku tinggalkan kamar dan nongkrong depan tv di ruang tamu. Silih berganti chanel kutekan, tak ada satupun yang masuk dalam pemikiranku. Benakku masih penuh tanda tanya dengan rak buku yang berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba berpikir dari sisi yang lain, mencoba mengetahui mengapa aku harus marah! Ini rumah kami bersama dan di rak itu pun semua milik bersama. Sesungguhnya tidak ada alasan untuk aku marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Privasi? Ya, aku merasa privasiku terganggu. Atau hanya perasaan tidak nyaman karena selama ini, rak buku aku yang menyusun. Sehingga tersusun atau teratur berdasarkan standar ukuranku? Mungkin saja. Memang buku-buku itu lebih banyak koleksiku karena sebagian besar adalah buku-buku yang aku miliki sebelum menikah. Ketika aku pindah dari rumah mami, semua barang pribadi termasu buku-buku aku bawa serta. Sedangkan Frisch seingatku memang tidk membawa apa-apa karena itu sebagian barang pribadinya masih berada di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghembuskan nafas panjang mencoba kompromi dengan perasaanku sendiri. Aku tidak ingin berkonfrontasi dengan Frisch. Toh dia tidak punya salah apa-apa dan mungkin bermaksud baik. Aku berdiri dan berjalan menuju rak buku. Aku terdiam hanya memandang rak yang rapih dan bersih. Perlahan kuambil sebuah amplop surat dari tumpukan kertas di kardus. Sebuah surat lama yang ditujukan untukku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku buka dan kubaca. Aku tersenyum, sebuah surat cinta yang berisi puja dan puji untukku. Tertanggal 20 Desember 1987. Tiba-tiba Frisch sudah muncul di depanku sambil memegang kardus berisi foto-foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini harus di atur, supaya jangan rusak!” Ujarnya. Aku tak menjawab hanya memandangnya.&lt;br /&gt;”Surat cinta yah?” tanya Frisch datar.&lt;br /&gt;”Yang pasti bukan dari kamu!” Jawabku&lt;br /&gt;’Tidak penting, sekarang kamu istriku!” Jawab Frisch santai. Ia meletakan kardus di samping kaki, lalu memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di perutnya.&lt;br /&gt;”Kamu kesal, aku mengobrak-abrik hartamu?” bisiknya pelan di telingaku. Aku diam. Bathinku masih berperang. Frisch melanjutkan lagi. Aku menemukan banyak naskah cerpenmu. Aku tahu itu hartamu. Aku tersentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cerpen apa?” tanyaku&lt;br /&gt;”Naskah-naskah cerpen yang kamu tulis belasan tahun  lalu” Ujarnya tanpa melepaskan pelukan. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur, tiba-tiba detakan itu terasa indah ditelingaku.&lt;br /&gt;”Aku minta maaf, kalau kamu kesal. Aku tadi mencari buku kwitansi yang seingatku ada di rak itu.  Karena tidak terlihat, aku terus mencari, tahu-tahu aku menemukan banya hartamu dan ketika tersadar semua sudah berantakan!’ Aku Frisch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha....Frisch baru saja melakukan pengakuan dosa. Jadi tujuan utmanya bukan merapihkan buku-bukuku. Ia hendak mencari buku kwitansi. Sekarang semua mejadi jelas. Ku dengar Frisch berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak membaca surat-surat dan buku harianmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ha, Buku harian apa?” potongku terkejut. Karena seingatku aku sudah membakar semua buku harianku. Frisch mengangsurkan satu buku kecil bergambar snoopy sedang memegang balon berbentuk hati. Aku langsung mengambil dan membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku buka halaman pertama, November 1987 Aku terus membaca, entah mengap air mataku mengalir. Ketika lembar berikutnya kubalik, ada nama Frisch di sana. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lalu bertanya: “Jujur pa, kamu baca atau tidak buku ini?” tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mukanya biasa saja dan Frisch menjawab ringan. ”Kamu tahu, aku tidak suka campur dengan urusan orang!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tanya, papa baca atau tidak buku ini?” desakku. Sebenarnya tidak ada kejutan apa-apa, Cuma aku ingin tahu, apakah Frisch tertarik ingin mengetahui yang aku tulis 19 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, aku lapar nih!” Kata Frisch sambil meninggalkan aku. Sebelum tubuhnya hilang di balik pintu, Frisch berbalik dan tersenyum lalu berkata, ”Apa kabar Alvin dan Karel yah? Tanyanya. Aku hanya bisa tertawa ngakak ”Awas ya pa!” seruku. Dua nama itu adalah dua nama yang juga ku tulis dalam diary ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekesalanku sudah berkurang dan kami makan malam bersama sambil membicarakan kejadian hari ini serta tingkah pola Bas dan Van. Sebelum pukul sembilan, aku sudah menggiring Bas dan Van ke kamar mandi untuk cuci kaki dan gosok gigi. Frisch masih menonton tv saat aku di tempat tidur bersama kedua anakku. Sambil berbaring disamping Van yang asyik memilin-milin rambutku, aku berpikir masih perlukah aku kesal? Atau sungguhkah privasiku telah dilanggar? (Icha Koraag. Jakarta, 9 Nov 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116305742632440179?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116305742632440179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116305742632440179' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116305742632440179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116305742632440179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/kisahku-sungguhkah-privasiku-dilanggar.html' title='Kisahku: SUNGGUHKAH PRIVASIKU DILANGGAR?”'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116254602331320408</id><published>2006-11-03T01:09:00.000-08:00</published><updated>2006-11-03T01:27:15.680-08:00</updated><title type='text'>SERBA-SERBI PACARAN</title><content type='html'>Pacaran adalah istilah untuk dua orang yang sedang menjalin hubungan karena rasa suka. Dulu saya takut dan malu untk menjalin suatu hubungan khusus dengan teman pria. Ketika saya SMA dan pelatih basket saya mulai sering-sering datang dan mengajak saya nonton bioskop kalau malam Minggu, saya suka jengkel. Saya selalu mencari 1001 alasan untuk menghindar. Jadi saat malam Minggu, saya suka pesan pada kakak atau adik untuk mengatakan saya tidak ada kalau ada orang mencari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar saja, belum pukul tujuh sudah terdengar suara motor. Saya tahu itu teman pria saya karena pacar kakak saya rumahnya tidak jauh sehingga cuma berjalan kaki. Dari jendela kamar saya mengintip dan terdengar kakak saya mengatakan saya menginap di rumah tante. Tahu-tahu turun hujan, teman pria saya tidak jadi pulang malah bergabung ngobrol dengan kakak saya dan pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ambil pusing. Cuma saya harus hati-hati kalau keluar dari kamar. Dari teras bisa melihat ke arah ruang tamu dan ruang keluarga. Biasanya mereka nongkrong di teras. Untung kamar mandi letaknya persis depan kamar tidur jadi biar saya bolak-balik kamar mandi tidak akan terlihat. Kan lucu kalau malah saya yang terjajah dan mejadi tawanan di dalam rumah sendiri.  Brengseknya, adik-adik saya kalau diajak sepakat untuk tidak mengatakan saya ada, bersedia kalau saya berjanji memberikan sebatang coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, hujan reda jam berapa dan kawan saya serta pacar kakak saya pulang jam berapa. Yang pasti pagi-pagi saya bangun tidur dengan perasaan senang. Minggu pagi kami terbiasa pergi ke gereja bersama-sama. Karena tidak ada pembantu maka kami setrika baju sendiri. Saat saya akan setrika baju, kakak saya memberikan bajunya untuk saya strika sebagai upah berdustanya tadi malam. Mangkel tapi tak bisa menolak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita karena cape di peras adik dan kakak saya, saya memberanikan diri menerima teman pria saya itu. Ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Kita bisa asyik ngobrol mengenai teman-teman dan beberapa pertandingan basket. Dan saya makin menyayangi papi saya karena begitu teng jam 9, papi saya batuk-batuk di ruang tamu, ketika saya masuk untuk melihatnya, papi hanya menunjukkan jam di dinding. Saya langsung paham, itu artinya kawan saya harus pulang. Saya senang, terbebas dari kawan pria saya juga dari pemerasan adik dan kakak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan saya yang merasa senang kalau mendengar papi saya batuk, maka kakak saya akan bersungut-sungut. Jadi kalau saya segera menyampaikan bahwa kawan saya harus pulang, kakak saya malah minta tambah 30 menit lagi waktunya. Kalau- mengingat-ingat hal itu rasanya lucu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kawan pria yang datang cuma satu, artinya kawan saya satu, pacar kakak saya satu dan pacar kakak saya yang lain juga satu, maka cuma akan ada 3 pria muda yang datang. Kebayang gak kalau yang naksir saya atau kakak-kakak saya lebih satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah satu masa, yang datang ke rumah jumlah lebih dari biasanya. Berhubung saya tidak punya komitmen dengan siapa-siapa jadi saya tenang-tenang saja. Berbeda dengan kakak saya yang persis di atas saya. Dia pasti kebingungan dan senjatanya selalu minta papi saya keluar untuk ikutan ngobrol. Pastinya teman-teman pria pada gerah dan satu persatu pamit pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata orang-orang dia memang ”macan” (manis dan cantik) jadi teman prianya juga banyak. Cuma kalau pacarnya di mana-mana, saya juga suka kesal. Karena wajahnya yang ”macan” itu, lulus SMA dia langsung bekerja sebagai SPG air mineral yang menjadi pelopor air mineral di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, dia punya pacar di rumah (teman kompleks) dia punya pacar eks teman sekolah dan di tempat kerja. Repotnya, kini gantian saya yang harus berdusta untuknya. Kalau buat saya satu malam minggu saja sudah terlampau banyak, maka kakak saya perlu waktu lagi. Jadi dia pacaran tidak cuma malam minggu. Bisa jadi malam Senin dengan ex teman sekolah atau malam Kamis dengan teman rumah dengan alasan ikut organisasi karang taruna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian banyaknya teman pria yang datang ke rumah kami tidak terjadi satu dua kali tapi sering. Mengakibatkan antrian mobil, motor dan sepeda sangat panjang di depan rumah kami. Pernah satu kali malam minggu, sejak sore papi saya sudah mandi dan mondar-madir di teras. Jelas kami heran, kalau saya tenang-tenang saja tidak demikian dengan kakak saya. Berulang-ulang melihat ke teras dan akhirnya bertanya ke mami, si papi sedang apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si mami, sebagai ibu yang baik, bertanyalah pada si papi. Dan jawaban papi sungguh menggelikan. Entah serius atau bercanda si papi bilang mau jadi tukang parkir. Karena mobil, motor dan sepeda sudah terlalu banyak yang parkir di muka rumah kalau malam minggu. Saya tertawa ngakak sementara kakak-kakak saya pada mencak-mencak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi punya teman pria atau pacar banyak ternyata lumayan juga. Ketika menjelang natal, rumah akan direnovasi terutama di warnai ulang. Tenaga sukarela sangat banyak. Tak perlu ada tukang, cukup remaja-remaja SMA yang di koordinir si papi dan modal makan siang masakan mami. Tidak sampai seminggu, rumah dengan luas 400 meter, rapih di cat ulang.&lt;br /&gt;Si papi yang mantan tentara ini, ternyata sangat pandai bergaul dengan anak-anak SMA, ujung-ujungnya si papi rela mengeluarkan radio tape-nya untuk menghibur anak-anak yang sedang mengecat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya ingat-ingat masa pacaran, mami dan papi saya ternyata cukup punya perhatian.  Memang  jadul banget dengan batuk-batuk sebagai tanda habis waktu berkunjung, cuma lumayan kreatif. Dan mengenang masa-masa itu mampu membuat saya tersenyum. Papi saya memang berkesan galak, apalagi soal disiplin ketepatan waktu. Bukan hanya waktu berkunjung saat pacaran tapi soal ketepatan waktu berangkat dan pulang sekolah juga sangat ketat, Jangan pernah coba-coba terlambat tanpa alasan, karena akan berhadapan dengan si papi yang akan panjang lebar menjelaskan mengenai dampak ketidak disiplinan pada situasi perang. Jangankan terlambat setengah jam, beberapa menit saja bisa berati ratusan nyawa melayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi  saya tidak pernah minta perpanjangan waktu saat pacaran karena selain alasan di atas, saat saya pacaran dengan papanya Bas dan Van, si papi sudah almarhum. Sebagai penghormatan terhadap papi saya yang kisahnya dia dengar dari saya, mantan pacar saya itu mengabadikan nama almarhum papi saya pada putra sulung kami, Bastiaan! (Icha Koraag, 3 November 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116254602331320408?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116254602331320408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116254602331320408' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116254602331320408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116254602331320408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/11/serba-serbi-pacaran.html' title='SERBA-SERBI PACARAN'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116062830981593727</id><published>2006-10-11T20:17:00.000-07:00</published><updated>2006-10-11T21:45:10.530-07:00</updated><title type='text'>Mata Hatiku</title><content type='html'>Mata hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinarmu terpancar  penuh kasih dan kelembutan &lt;br /&gt;Menjadi penunjuk langkah yang harus kutempuh&lt;br /&gt;Tapi kadang cahayamu tak dapat kulihat&lt;br /&gt;Sehingga aku menyimpang ke jalan yang gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seruanMu menyentuh gendang telingaku&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja cahaya mata hati ini menerangiku&lt;br /&gt;Dapat kulihat tubuh ini yang berbalut dosa&lt;br /&gt;Hingga rasa malu mampu menebus ke ujung kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah pintu ampunan terbuka untukku, ya Tuhan?&lt;br /&gt;Kala mata hati telah buram oleh hawa nafsu. &lt;br /&gt;Telaga bening dalam jiwa ini menjadi kering.&lt;br /&gt;layu lalu menjadi debu dan terbang dibawa angin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ahirnya hati menjadi tawar, tak ada lagi rasa.&lt;br /&gt;Ku coba bertahan dengan kekuatanku, &lt;br /&gt;Tapi Tuhan, aku cuma manusia biasa&lt;br /&gt;Masihkah ada waktu bagiku untuk bertobat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan caranya padaku, ya Tuhan.&lt;br /&gt;Agar kumampu menjaga mata hati ini&lt;br /&gt;Agar sinarnya tetap menjadi&lt;br /&gt;Penuntu ke jalanMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Icha Koraag&lt;br /&gt;12 Oktober 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116062830981593727?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116062830981593727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116062830981593727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116062830981593727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116062830981593727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/10/mata-hatiku.html' title='Mata Hatiku'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116055522595682712</id><published>2006-10-11T01:24:00.000-07:00</published><updated>2006-10-11T01:27:06.430-07:00</updated><title type='text'>Kisahku: BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?</title><content type='html'>BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Presiden sudah semakin dekat. Sebagai rakyat biasa, tentu saya berharap banyak pada calon pemimpin negeri ini untuk periode 2004-2009. Persoalannya, begitu banyak manuver yang dilakukan politikus, bermacam pernyataan disampaikan dan tak sedikit pernyataan yang malah makin membingungkan. Kadang kala malam hari saat hendak tidur, benak saya tidak bisa istirahat. Bahkan berpikir lebih banyak dan lebih keras dibanding siang hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam-macam pertanyaan timbul dalam pemikiran dan seperti sebuah resonansi gelombang yang terus mencoba mencari jawaban dari semua informasi yang saya baca, dengar atau lihat. Kenyataannya tidak ada satu pun yang bisa memberi gambaran atau jawaban yang pasti. Siapa yang akan memimpin negeri ini ? Siapa yang dapat dipercaya, siapa yang layak memimpin bangsa ini. Dan apa kriteria yang dirumuskan calon-calon pemimpin itu sudah sesuai dengan harapan rakyat? Tidak ada seorangpun yang dapat memberi jawaban yang pasti. Semua sedang menunggu. Entah apa yang ditunggu. Tapi barangkali inilah panggung politik. Dulu lawan sekarang kawan. Begitu pula sebaliknya, dulu kawan sekarang lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata mahal sekali harga sebuah demokrasi. Sekian generasi harus menjadi korban dengan alasan sebagai tumbal proses menuju demokrasi. Tapi yang namanya proses tidak pernah berhenti. Berjalan terus ke arah mana ia mau berjalan. Siapa mau ikut silahkan, siapa mau membelokkan silahkan. Tinggal siapa kuat  yang nantinya  akan mengarahkan. Lalu dimana yang namanya rakyat? Semua mengatas namakan rakyat tapi rakyat yang mana? Apakah rakyat yang banyak ini, merasa diperjuangkan hak dan martabatnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah rakyat bisa berkumpul menjadi satu kesatuan atas nama kemanusiaan? Melepaskan semua “Baju” yang bisa membedakan satu dengan lainnya? Apakah Motto “BHINEKA TUNGGAL IKA?” Masih berlaku?Apakah benar pembelajaran melalui media, telah memberi ajaran yang benar sehingga apa yang dipahami rakyat sesuai dengan yang seharusnya? Atau pembelajaran tadi sekadar membuka kesadaran bahwa rakyat punya hak? Sekadar punya tanpa dapat menggunakan haknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, adzan subuh sudah berkumandang. Kokok ayam jantan telah mengantar fajar, menandai hari baru telah tiba. Tapi pemikiran dan pertanyaan yang bermain-main dalam benak saya seperti anak-anak Taman Kanak-Kanak yang asyik bermain di taman. Tidak terbebani apakah pulang sekolah nanti ibu/ayah akan menjemput. Atau apakah sesaat lagi makan siang tersedia? Yang mereka pahami dunia ini indah, meski itupun terbatas bagi anak dari golongan sosial ekonomi tertentu. Karena nun jauh di pelosok desa di salah satu sudut Indonesia Raya. Bocah-bocah kecil bertelanjang kaki, memikul jerigen, berjalan berkilo-kilo meter untuk mengangkut air. Jangan tanya kapan bocah-bocah itu bermain. Bermain bagi mereka adalah menggembalakan sapi, kerbau, babi dan kuda. Bermain bagi mereka adalah berjalan melintasi padang rumput/hutan atau gunung dan sawah untuk mencari air dan kayu bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi herannya, apa yang saya saksikan ketika melakukan perjalanan dinas ke sebuah desa nun jauh di salah satu pelosok Indonesia Raya, tepatnya di Waikabubak, Sumba Barat NTT. Beberapa kantor partai politik bahkan ada yang berdiri di tengah sawah atau ladang atau padang rumput. Berbentuk bangunan dan di depannya ada papan yang bertuliskan Parpol cabang ranting……Dan ketika saya berjalan di desa tersebut, cukup banyak orang (tua-muda, laki-perempuan) yang memakai kaos dari partai-partai peserta pemilu. Lagi-lagi membuat saya berpikir, apakah bangunan itu ada dan digunakan kalau tidak sedang pemilu? Jujur saja , hati saya terusik. Apakah kehadiran partai-partai politik di tempat itu memang harus ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya karena disitu masih ada warga Indonesia yang mempunyai hak memilih dalam Pemilu, maka mereka ada. Karena suara tadi bisa mendongkrak rating partai tersebut dalam memperebutkan kursi pemerintahan? Jujur saja, saya tidak percaya para pemimpin partai itu pernah  peduli pada keberadaan orang-orang yang ada di sudut-sudut Indonesia raya. Mengapa saya tidak percaya. Hati ini, coba menjawab. Indonesia merdeka sudah 59 tahun. Tapi kok masih ada warga Indonesia yang tidak bersekolah? Bukan sekolahnya yang tidak ada. Tapi muridnya yang tidak ada. Bagaimana murid bisa sampai disekolah dan belajar jika tuntutan membantu orang tua mencari nafkah lebih penting? Mengapa harus membantu orang tua?  Karena kalau tidak, siapa yang akan memberi mereka makan? Jika untuk mencapai sekolah mereka harus berjalan kaki 5-6 km, kapan mereka punya waktu membantu orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah calon-calon presiden yang akan bertarung memperebutkan kursi kepresidenan, punya misi mengatasi persoalan ini? Itu persoalan yang jauh di salah satu sudut Indonesia Raya. Bagaimana dengan SMPN 56 Melawai? Kalau PGRI, lembaga yang mengatasnamakan Persatuan guru justru merasa dilecehkan oleh Nurlaila yang mengklaim dirinya sebagai kepala SMPN 56. Saya jadi ingin bertanya, sebetulnya PGRI dibentuk oleh siapa dan terbentuk karena apa dan dibentuk untuk siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah semakin terang, pemikiran saya belum juga berhenti. Tapi kalau pemikiran dalam benak saya sudah berhenti berarti saya sudah mati. Pernah juga terpikir mungkin mati lebih baik daripada hidup dinegeri yang terlihat indah di luar namun chaos di dalam. Tapi siapa yang akan membesarkan anak-anak saya? Saya tidak akan rela mereka menjadi sia-sia. Karena keberadaan buah hati saya, adalah harapan hidup saya. Untuk mereka lah saya berjuang dan mencari nafkah untuk memberi sedikit bekal berjuang dimasa mendatang. Karena saya tidak pernah tahu sampai kapan saya hidup. Dan sampai kapan pemikiran-pemikiran yang bermain dalam benak saya bisa beristirahat. Soalnya, karena hidup manusia berpikir. Dan manusia harus berpikir agar tetap hidup. Saya jadi pusing karena belum tidur tapi sudah harus mandi dan berjuang melawan kemacetan Jakarta dan datang ke tempat kerja. Berkutat dengan pekerjaan dan kehidupan yang terus berjalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tulisan ini saya sambung lagi, kalau saya tidak bisa tidur lagi. Tapi kalau saya minum obat untuk membantu melelapkan tidur, berarti tulisan ini sampai disini. Karena lagi-lagi saya ingin jujur, banyak yang ingin saya tulis, karena pemikiran didalam benak saya tidak pernah berhenti. Semakin banyak yang dipikir semakin membuat pusing tapi anehnya terus dipikir. Tapi inilah hidup…. “Mama….tidak tidur ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupejamkan mataku, mencerna panggilan itu. Perlahan ku buka dan kutengok ke arah sumber suara. Kulihat suamiku terbaring di ranjang kami. Sisi tempatku tidur masih rapi, karena aku memang belum tidur. Sekarang suamiku tidur beralaskan kedua tangannya yang terlipat. Sosoknya yang tinggi besar, nyata betul diranjang kami. Kedua lengannya berotot membingkai kepalanya di atas bantal.. Matanya menatapku. Seharusnya aku berada dalam pelukan kedua tangan yang berotot itu. Bukan di sini duduk di meja kerja di depan komputer.&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa tidur!” Lalu aku kembali menundukan kepalaku dan meletakannya di atas tangan di sisi Komputer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku anak ke tujuh dari sebelas saudara yang semuanya perempuan dan semua hidup. Ayahku yang purnawirawan TNI AD mendidik kami dengan keras. Ia tidak segan-segan memukul kami dengan kopel rim tentaranya, jika kami mandi sore terlambat. Atau seusai pulang sekolah tidak langsung pulang ke rumah. Ibuku yang sempat menjadi guru, sama kerasnya. Kadang aku beranggapan bukan keras, Kedua orang tuaku galak! Tapi lama-lama kupahami arti didikan mereka, sebagai bagian menempa anak-anaknya agar menjadi orang yang tertib dan tangguh dalam semua keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas kuliah, aku bergabung pada sebuah radio siaran yang mempunyai target pendengar perempuan. Aku banyak menimba ilmu di sini. Program acaranya bertujuan memintarkan perempuan. Perempuan diberikan porsi yang banyak untuk menimba dan bertukar ilmu. Aneka program yang disusun, membuat aku mengenal banyak pakar-pakar berbagai bidang dan aktivis-aktivis dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Apa yang disampaikan para pakar dan para aktivis itu, membentuk pemikiranku. Dan hal itulah yang aku sampaikan demi kemajuan bangsa. Aku berjuang untuk para perempuan dan anak-anak. Tapi tidak berarti aku memposisikan sebagai musuh kaum lelaki. Justru aku punya pemikiran, seharusnya lelaki dan perempuan setara. Karena mereka diciptakan memang setara. Bahkan beberapa  pakar dan aktivis ku kenal dengan baik dan kujadikan tempat berkonsultasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu program yang aku bawakan  Trend Wanita Aktif. Di program ini aku berdiskusi dengan seorang Psikholog. Namanya Yanti B Sugarda. Kini ia menekuni dunia penelitian sosial dan pasar. Dalam salah satu siaran bertema Pro Kontra Wanita Bekerja, aku banyak mendapat masukan. Sebagian pendengar laki-laki dan perempuan berpendapat, seharusnya perempuan bekerja di dukung karena bisa membantu. Baik membantu ekonomi keluarga maupun aset bagi perusahaan di tempat perempuan itu bekerja. Namun jangan melupakan keluarga atau kewajiban sebagai ibu dan istri. Ada juga yang berpendapat, seharusnya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk para perempuan bersaing dan membuktikan kemampuan. Karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan mempunyai kemampuan yang setara. Dan biarkan laki-laki melihat perempuan juga punya kemampuan agar jangan diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pendapat seorang bapak, benar-benar menjadi momentum awal bagi diriku. Sejak medengar pendapat si bapak, aku bertekad berjuang untuk perempuan. Bapak itu menyampaikan pendapatnya: &lt;br /&gt;“Saya sangat setuju dan mendukung penuh para perempuan yang berkarir. Asal bukan istri saya!” Aku dan Ibu Yanti mengejar dengan berbagai pertanyaan lagi untuk menjelaskan, apa maksud pendapatnya. Si penelpon dengan tenang  mengatakan,:&lt;br /&gt; “Kalau itu istri orang lain biar saja. Saya hanya ingin istri saya untuk kami sekeluarga? &lt;br /&gt;“Bukankah istri bapak juga milik orang tua dan saudara-saudara sekandungnya? &lt;br /&gt;“Tidak lagi, karena sudah saya nikahi! Ia milik saya!”&lt;br /&gt;Untung saat itu operator sudah memotong pembicaraan dan mengudarakan beberapa iklan. Aku dan bu Yanti bertatapan lalu tertawa pahit. Sebagai perempuan, jawaban si penelepon bagaikan tamparan bagi kami. Adalah  kenyataan hingga kini kaum kami yang tertindas. Aku sempat menanyakan, apakah dengan menikah memang para istri otomatis menjadi milik si suami? Tidak bisakah si istri memiliki hidupnya sendiri?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika semua laki-laki berpendapat asal bukan istri saya, lalu perempuan mana yang bisa mengaplikasikan kemampuannya? Apa hanya para perempuan yang belum menyandang status istri? Untung aku mampu menguasai emosiku. Tapi pendapat bapak tersebut, buatku tidak adil. Aku tidak mengenal siapa istrinya. Atau apakah ia sudah beristri atau belum. Tapi satu hal yang aku tahu, satu kaumku sudah tersia-siakan atau akan di sia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak berpendapat bahwa semua perempuan harus berkerja atau berkarir. Apalagi mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Ada anggapan di masyarakat sekarang ini, dengan terbukanya kesempatan bagi setiap orang untuk mengikuti pendidikan tinggi bagi yang mampu baik materil maupun moril, maka jika ada perempuan yang sudah bergelar sarjana tapi memilih tidak bekerja adalah sia-sia. Aku tidak sependapat. Menurutku,  seorang ibu yang berpendidikan akan mempunyai potensi keberhasilan yang lebih besar dalam mendidik anak-anaknya. Yang utama, keputusan untuk bekerja atau tidak bekerja datang dari dalam dirinya sendiri. Karena perempuan yang bisa mengambil keputusan dan berpikir rasional, dia perempuan yang hebat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kurasakan tangan kekar suamiku, memijat punggukku, duh nikmatnya. Kucoba berkonsentrasi menikmati sentuhannya. Tangan kekar seorang kekasih hati, mampu menghilangkan rasa pegal namun menimbulkan rasa yang lain. Gairah primitive.&lt;br /&gt;“Enak, Ma?”&lt;br /&gt;“He eh”.Kuresapi setiap sentuhannya tidak hanya dengan perasaan di kulit tapi juga dari hati yang paling dalam. Aku tahu, ia memijatku dengan cinta. Setiap sentuhan menimbulkan getar listrik dalam diriku. Getar yang memang selalu kami hidupkan sejak awal pernikahan kami. Pertengkaran atau perbedaan pendapat dalam keseharian tidak pernah mejadikan halangan bagi kami bersatu dalam tarian cinta. Dan tangan itu terus menari. Kini tidak hanya dipunggung tapi ke bagian-bagian lain tubuhku. Entah bagaimana, akhirnya kami sudah diranjang. Berolah tubuh di pagi hari. Membelai, menyentuh, saling memberi dan menerima. Rasa kantukku hilang sudah berganti dengan gairah kesegaran baru. Seakan mendapat tambahan energi, tarian cinta kami berakhir dalam kelelahan yang nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan dalam kehidupan sehari-hari, manusia bisa menerapkan seperti ketika melakukan seks, hidup ini akan lebih nyaman. Dalam hubungan seks, laki-laki dan perempuan, saling memberi dan menerima untuk mendapatkan kenikmatan bersama. Bukankah seks itu, nikmat? Bahkan pada situasi tertentu, ego laki-laki bisa turun pada titik terendah untuk melayani perempuan. Walau sebetulnya tujuan akhirnya adalah kenikmatannya sendiri. Bukankah ada syair“Wanita dijajah pria sejak dulu. dijadikan perhiasan sangkar madu….namun ada kala pria, tekuk lutut disudut kerling wanita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku juga tidak heran jika orang menggunakan kemampuan bermain cinta untuk melobi. Tidak sedikit pejabat atau politikus yang terjatuh karena bermain cinta. Herannya ketika jabatan sudah di dapat bermain cinta menjadi salah satu target. Lihat dalam pemberitaan media, berapa banyak pejabat yang begitu dapat jabatan, istrinya bertambah? Atau perempuan simpanannya bertambah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal seharusnya ketika jabatan sudah di dapat, pembuktian terhadap kepercayaan yang dipikul itu yang diperlukan. Seks dan uang memang kenikmatan duniawi yang dikejar manusia tak berahlak. Maka tak heran ada seorang istri pembesar China dalam sejarah yang mengatakan senikmat-nikmatnya seks tapi lebih nikmat kekuasaan. Persoalannya siapapun tahu, sesudah kekuasaan di dapat, maka seks menjadi pelampiasan, jadi bukankah seks itu, memang nikmat? (Icha Koraag Akhir February 2004)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116055522595682712?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116055522595682712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116055522595682712' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116055522595682712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116055522595682712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/10/kisahku-bukankah-seks-itu-nikmat.html' title='Kisahku: BUKANKAH SEKS ITU, NIKMAT?'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-116045126716205769</id><published>2006-10-09T20:31:00.000-07:00</published><updated>2006-10-09T20:34:28.600-07:00</updated><title type='text'>JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.</title><content type='html'>JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, pernikahan saya genap 10 tahun tepatnya, 8 Juli 2006. Saya dan pasangan sudah dikaruniakan sepasang anak yang kini berusia 6 tahun laki-laki dan 3 tahun perempuan. Saya berbahagia dengan rumah tangga yang saya bangun walau kadang-kadang diwarnai pertengkaran . Saya dan pasangan meyakini pertengkaran adalah upaya pendewasaan diri untuk lebih memahami perbedaan. &lt;br /&gt;Seiring usia anak-anak yang mulai memasuki sekolah, waktu untuk kami berdua menjadi terbatas. Kami memang bisa menikmati kebersamaan sebuah keluarga.  Namun kadang-kadang  timbul juga kerinduan ingin memiliki pasangan sebagai milik sendiri yang tidak ingin dibagi walau itu dengan anak-anak. Biasanya bila keinginan seperti itu timbul, saya berusaha mengalihkannya dengan meyakini, anak-anak berhak memiliki kami dan kami sebagai orang tua harus mengorbankan keinginan  diri sendiri demi kepentingan anak-anak.&lt;br /&gt;Saya dan suami nyaris tak memiliki waktu untuk kami berdua. Senin sampai Jumat kami sudah bergelut dengan pekerjaan masing-masing.  Pagi pk. 07.00 kami sudah berangkat dan baru bertemu kembali pk. 07.00 malam, ciri khas kaum urban. Setibanya di rumah, kami harus memberikan apa yang menjadi hak anak-anak atas ayah dan ibunya. &lt;br /&gt;Menanyakan kegiatan mereka seharian, termasuk saat-saat di sekolah dan apa yang mereka makan sepanjang hari dan apa yang mereka mainkan dengan teman-temannya. Makan malam bersama, lalu menemani belajar dan akhirnya meninabobokan mereka. &lt;br /&gt;Lalu yang tersisa buat kami berdua hanyalah sisa-sisa energi. Saat anak-anak sudah terbuai mimpi, kami menyempatkan diri untuk membicarakan aktivitas masing-masing dan rencana besok. Lalu membuat kesepakatan baru untuk menyelesaikan persoalan yang ada. &lt;br /&gt;Tanpa sadar kami sudah membuat mesin rutinitas. Kami membuat kebiasaan kebiasaan yang pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan itu yang mengatur hidup kami berdua. Dan sama dengan kebanyakan rumah tangga lain, semua dijalani bagai mesin. Setiap hari urutan aktivitasnya sama, jika sedikit menyimpang dari kebiasaan lalu menjadi terkejut dan bertanya mengapa bisa begitu?&lt;br /&gt;Padahal urut-urutan aktivitas tersebut terbentuk karena dibiasakan. Namun akhirnya kebiasaan tersebut yang menetukan aktivitas keseharian kami. Bukan kami tidak menyadari situasi itu. Justru kami sangat menyadari dan berusaha untuk bersikap fleksibel dalam arti semuanya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Sebagai manusia biasa, kami juga dilanda perasaan bosan dan jenuh. Namun jika perasaan tersebut datang saya dan Frisch berusaha agar perasaan itu tidak menguasai logika berpikir kami. Sehingga kami tidak terjebak pada situasi yang memancing pertengkaran yang sebetulnya tidak berdasar..&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan tambahan energi baru dalam menjalani biduk rumah tangga terus dan terus kami upayakan. Misalnya sejenak meninggalkan anak-anak dan janjian untuk suatu makan malam yang sederahana. Di warung sotopun tak apa, yang penting kami bisa bicara berdua, bebas dari interupsi Bas atau Van. Atau menonton bioskop. Ini bisa mengembalikan energi postive dan meyakini kami memang masih saling memiliki.&lt;br /&gt;Kadang-kadang saya suka berkhayal. Suatu hari nanti kalau punya uang yang cukup, saat anak-anak sudah semakin besar, saya ingin melakukan bulan madu kedua. Saya pikir, kami berhak mendapatkan kesempatan itu untuk merefresh komitmen kami. Siapa sih yang  tidak ingin bersayang-sayangan tanpa memikirkan susu atau ompol si kecil? Walau hanya untuk satu malam. Bermimpi adalah hak setiap orang tapi mewujudkan impian tersebutlah yang hanya bisa dimiliki sebagian orang dan saya berharap saya termasuk yang sebagian itu.  Karenanya saya terus menerus berusaha dan berdoa, bukankah Tuhan dekat pada orang-orang yang selalu berharap dan berusaha? (Icha Koraag, 8 Oktober 2006.Pk. 22.30)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-116045126716205769?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/116045126716205769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=116045126716205769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116045126716205769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/116045126716205769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/10/jeda-sesaat-untuk-dapatkan-energi-baru.html' title='JEDA SESAAT UNTUK DAPATKAN ENERGI BARU.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115949899892658536</id><published>2006-09-28T20:02:00.000-07:00</published><updated>2006-09-28T20:03:19.506-07:00</updated><title type='text'>Obroanku: Kalau suamiku jadi Menperindag!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/Icha%20%26%20Frisch.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/200/Icha%20%26%20Frisch.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Obrolanku : KALAU SUAMIKU JADI MENPERINDAG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; . Tulisan ini lahir dari hasil obrolan saya dengan suami. Kamis, 28 September 2006, Kompas menurunkan salah satu berita mengenai PT Toyota yang meluncurkan Varian Baru Mobil Toyota Avansa dengan kekuatan mesin 1500 cc. Sepengetahuan saya, Avansa dan Xenia adalah dua jenis mobil yang diproduksi dengan sasaran kaum menengah.  Deperindag mempunyai andil besar dalam melobi para produsen mobil untuk mau menurunkan biaya produksi dan keuntungan dengan tidak menurunkan kualitas produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita lahirlah Xenia dan Avansa yang awalnya ditawarkan dengan harga berkisar antara 60-70 juta rupiah. Sedangkan varian Avansa dengan mesin 1500 cc dikeluarkan dengan jenis matic dan manual. Matic seharga Rp 139 juta on the road dan manual Rp. 129. juta on the road. Ketika saya diskusikan dengan suami saya, suami saya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah bodohnya orang kita termasuk menperindagnya. Itukan akal-akalannya pengusaha. Avansa diproduksi dengan tujuan menyediakan mobil untuk kaum menengah dengan harga terjangkau. Kalau dibuat dengan 1500 cc dan djualnya lebih mahal 80 % kan lucu, Padahal yang berubah hanya  kapasitas mesinnya saja. Logikanya, harga  maksimal yang bisa ditawarkan tidak lebih dari Rp. 90 juta. Itu sudah memperhitungkan kenaikan cc dan inflasi.” Ujar suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku membenarkan. Yang naiknya cuma kapasitaas mesin loh kok naiknya secara keseluruhan bahkan lebih dari 80 %? Lalu suamiku melanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harusnya menperindag tidak mengizinkan pengusaha memproduksi avansa dengan varian mesin 1500 cc karena pengusaha paling jago kalau bikin akal-akalan. Namanya avansa dari toyota, bisa jadi yang dipasangkan mesin kijang. Artinya dari segi produksi mesin, pengusaha tidak menginvestasikan teknologi baru. Dengan sendirinya, harga jual mobil tersebut tidak boleh lebih mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mungkinn saja pa, tapikan namanya juga pengusaha pastinya cari untung! Ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat pengusaha tidak untung sama dengan rugi. Padahal kalau tidak untung bisa saja impas. Atau jika hari ini untung Rp. 10.000 dan besok untung cuma Rp. 5.000, bagi pengusaha artinya rugi. Padahal jelas-jelas ada pemasukan lebih Rp. 5.000 setelah dipotong pengeluaran. Yang artinya ada keuntungan. Cuma karena kemarin untungnya Rp; 10.000 dan hari ini cuma Rp. 5.000 maka si pengusaha merasa rugi Rp. 5.000. Pola pemikiran semacam ini yang harus dihentikan. Saya paham setiap pengusaha ingin mencari keuntungan tapi kalau sudah menyangkut kebijakan pemerintah dan khalayak masyarakat luas, maka sipengusaha  harus mereformasi pola pikirnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sependapat tapi merubah mind set orang yang mentargetkan keuntungan sebesar-besarnya tidaklah mudah” kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, kalau saya jadi menperindag, saya akan melarang memproduksi varian mesin avansa apalagi dengan harga jual yang tidak bisa diterima akal sehat. Menperindag harusnya bukan sekedar melindungi kepentingan pengusaha tapi masyarkat luas sebagai konsumen akhir juga harus menjadi pertimbangan. Apalagi jika tujuan awal diproduksinya mobil murah karena ingin memberikan yang terbaik buat masyarakat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah kalau suami saya jadi menperindag, saya jadi ibu- Dharma Wanita dong! Aduh gak kebayang deh! (Icha Koraag, 28 September 2006. 23.30)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115949899892658536?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115949899892658536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115949899892658536' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115949899892658536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115949899892658536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/obroanku-kalau-suamiku-jadi.html' title='Obroanku: Kalau suamiku jadi Menperindag!'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115820701161434873</id><published>2006-09-13T21:04:00.000-07:00</published><updated>2006-09-18T19:46:19.406-07:00</updated><title type='text'>Kisahku: Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!</title><content type='html'>“Upss….RASANYA  INGIN DI PELUK !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu amat cepat berlalu, jam dinding di ruang kerjaku sudah menunjukan pukul 11.50. Hampir menjelang waktu makan siang. Sejak pagi tadi aku menyelesaikan laporan perjalanan dinasku ke luar kota. Punggung, jemari dan mataku baru terasa pegal. Ku pejamkan mataku, mencoba santai sejenak. Tiba-tiba aku dikejutkan suara yang menyapa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak sehat non?” &lt;br /&gt;Kubuka mataku dan memberi se-ulas senyum. Mba Milly, rekan seniorku berdiri menatapku cemas.&lt;br /&gt;“Enggak lah, Mba. Cuma sedikit pegal” &lt;br /&gt;“Buat laporan yach?” &lt;br /&gt;"Makan dulu yuk, dah laper nih!” ajaknya bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja selera makanku lagi tidak ada. Aku kembali mengingat-ingat pertengkaranku semalam dengan suamiku. Rasa jengkel ini, masih memenuhi jiwaku. Pantang bagiku menangis di depan suami, apalagi kalau sedang bertengkar. Tapi kini aku merasa ingin menangis. Aku sangat mencintai suamiku dan aku juga sangat menghormatinya, jadi tuduhan-tuduhan kalau aku tidak menghargai suami membuatku jengkel. Aku memang bukan dari keluarga Jawa yang konsep mengasihi suami dengan mengabdi dan cenderung bertutur halus karena memang budayanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dibesarkan di sebuah keluarga ABRI. Memang semua saudaraku perempuan tapi didikan ala militer ayahku dan  ibuku yang berprofesi guru, sangat membentuk kepribadianku yang keras. Termasuk dalam intonasi berbicara. Aku berkeyakinan tidak perlu meminta izin pada suami jika aku ingin pergi atau berjalan-jalan. Aku hanya memberitahukan aku akan kemana. Karena aku berkeyakinan sekali lagi berkeyakinan kami setara. Dan aku juga tidak punya kewajiban menyediakan minum atau sarapan dipagi hari. Jika aku menyediakan minum dan sarapan dipagi hari karena aku mencintai suamiku. Sehingga yang aku lakukan karena cinta. Bukan kewajiban. Termasuk kalau aku rela, terjun ke dapur untuk masak makan malam, sepulang dari kerja. Bukan karena kewajiban, tapi semata aku ingin memberikan yang terbaik pada orang yang aku cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, aku masih bingung atau heran jika ada diantara teman-temanku yang sudah menikah dan tidak bisa berkumpul lantaran tidak diizinkan suami. Sosialisasi dan aktualisasi diri menurutku, termasuk dalam hak dasar setiap orang. Seorang suami tidak berhak membatasi ruang gerak istri. Memang aku juga tidak setuju atau membenarkan perempuan-perempuan yang clubing atau hang out sampai lupa waktu, sementara di rumah ada anak dan suami. Aku masih bisa nonton dengan teman-teman kantorku atau jalan di plaza bareng teman-teman. Suamiku tidak keberatan pulang lebih dulu supaya bisa mengawasi anak-anak. Toh dilain kesempatan aku juga memberi keleluasaan buat suamiku beraktivitas. Bahkan Sabtu dan Minggu yang awalnya kita sepakati sebagai hari atau waktu untuk keluarga, kenyataannya bisa berlaku fleksibel. Kalau suamiku harus ke kantor atau perlu menemui kawan-kawannya lalu aku tinggal di rumah bersama dua balitaku, aku ok-ok saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terkadang tidak masuk dilogikaku, adalah jika kita sudah bersusah payah bekerja kantoran setiap hari, berangkat dari rumah pukul delapan  pagi dan kembali pukul tujuh malam, Senin sampai Jumat lalu Sabtu dan Minggu mengurus anak dan keluarga. Lalu tidak ada waktu untuk diri sendiri. Wanita bekerja yang juga sekaligus istri dan ibu punya hak memberi ruang dan waktu buat dirinya sendiri. Entah itu bersosialisasi dengan teman-temannya atau sesekali memanjakan diri ke salon untuk sekedar lulur atau Menicure dan Pedicure.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan komitmen kami berdua memang mengenai kepercayaan. Kepercayaan yang sudah diberikan janganlah disalahgunakan, apapun alasannya. Kami membangun rumah tangga dengan cinta dan tekad membawa biduk ini laju ke samudera kehidupan. Berharap akhirnya kami tiba di suatu tempat yang memang penuh cinta. Sehingga kami rela, saat ini  berpayah-payah usaha untuk menuju impian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan kami juga percaya derita dan harapanlah yang menjadi tanda kami masih hidup. Dimana ada derita di situ ada harapan dan dimana ada harapan di situ ada kehidupan. Derita membuat kita ingat siapa diri kita. Bahwa kita cuma manusia biasa yang terdiri dari darah,  daging dan roh yang sifatnya sementara. Karena kekekalan bukanlah milik kita. Jadi selagi roh masih bersatu dengan raga isilah hidup ini dengan sesuatu yang bermakna, minimal bagi diri dan lingkungan terkecil, yakni keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengkaran di mulai dari hal yang sepele. Kemarin hari Minggu, seperti biasa Vanessa bangun paling dulu. Lalu aku mengajaknya berjalan-jalan sekaligus berbelanja. Aku berencana menyiapkan makan siang.  Belum lagi pukul sebelas, masakan sudah siap. Memang bukan aku  yang memasak, tapi aku yang berbelanja dan memikirkan menu apa untuk siang ini. Betapa marahnya aku ketika ku tau suamiku memilih makan nasi dengan mie instant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepele sebetulnya. Aku tidak akan marah kalau ia tidak tau aku sudah menyiapkan makan siang. Minimal kalau ia hendak makan mie instant, ketika melihat belanjaanku, ia bisa berkata: “Gak  usah masak ma, santai aja. Aku makan mie instant saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja ia berkata demikian, aku bisa santai. Biar kedua pembantuku tidak perlu masak tapi cukup mengawasi anak-anakku dan aku bisa santai membaca novel.  Selama ini aku selalu berorientasi pada makanan kesukaannya.  Bahkan aku yang suka makan pedas, nyaris tidak pernah lagi memakai cabai untuk setiap masakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga teguranku yang menyesalkan ia makan mie instant, berbuntut pada tuduhan aku tidak menghargai atau menghormati. Suamiku berdalih, “Mau makan di rumah sendiri saja tidak tenang!” Kemarahanku makin memuncak, sebagai istri aku peduli pada kesehatannya. Aku tau dalam seminggu bisa dihitung berapa kali dalam makan siang ia mengkonsumsi makanan sehat. Jadi salahkah aku jika Sabtu dan Minggu berusaha memenuhi makanan sehat untuk dikonsumsinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu sifat suamiku yang sampai sekarang aku benci. Jika bertengkar denganku, maka ia biasa melakukan aksi tutup mulut. Dalam sembilan tahun pernikahanku, aku banyak belajar dalam menghadapi kelakuannya. Aku tau ia juga belajar atas kelakukanku. Karena itu jika ia memilih diam, aku pun diam. Kadang aku berpikir, mungkin itu usahanya meredam emosi. Aktivitas sih tetap seperti biasa, aku menyediakan keperluannya dan biasanya jika ia menolak apa yang aku siapkan, ia tau resikonya. Misalnya, aku sudah menyiapkan baju kerja tapi tidak dipakai. Maka selanjutnya aku tidak akan menyiapkan baju kerjanya. Begitu juga mengenai masakan, karena pengalaman minggu siang itu lalu aku katakan, aku tidak akan menyiapkan makan lagi. Silahkan atur sendiri. Aku lebih senang karena berarti satu pekerjaan berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma kadang kasihan pada anak-anak. Bastiaan sangat perasa, ia tau kalau kedua orang tuanya sedang tidak bicara. Biasanya yang jadi pertanyaan Bastiaan, “Mama  sudah tidak sayang papa lagi?” Dan itu pun ditanyakan ke suamiku, “Papa sudah tidak sayang mama lagi?”. Biasanya jawaban kami pun sama. Papa tuh yang sudah tidak sayang mama atau mama tuh yang sudah tidak sayang papa. Dan kata orang tua ada benarnya, anak menjadi pereda kemarahan. Karena biasanya pertengkaranku juga selesai. Bagaimana bisa marah, jika Bas dan Vanessa sudah berguling-guling di tempat tidur, menaiki tubuhku dan suamiku? Akhirnya kami berempat bergulat bersama-sama sambil tertawa-tawa. Dan aku sudah membayangkan akhir pertengkaran kami nanti. Persoalannya hal itu masih beberapa jam lagi. Jadi aku masih harus bersabar untuk gencatan senjata, pulang kerja nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, ya melamun lagi!” Mba Milly kembali sukses mengejutkan ku.&lt;br /&gt;“Ngagetin aja!” kataku&lt;br /&gt;“Ada apa sih?” Tanya Mba Milly&lt;br /&gt;“Aku lagi sebel ama Frisch!” Jawabku setengah bersungut.&lt;br /&gt;“Jangan dong. Mas Frisch kan orangnya baik!” kata Mba Milly&lt;br /&gt;“Masa sebel gak boleh?”&lt;br /&gt;“Boleh aja, tapi gak usah dipanjang-panjangin. Ntar aku telephone deh…! Goda Mba Milly&lt;br /&gt;“Jangan !” protesku cepat.&lt;br /&gt;“Makanya, jangan musuhan!” serunya sambil menyeruput juice tomatnya.&lt;br /&gt;"Emang Mba Milly, gak pernah sebel sama si Aki?”tanyaku sambil menatapnya.&lt;br /&gt;“Pernah sih, tapi gak ada untungnya. Malah bikin sakit kepala. Mana kita sebel, si Aki gak ngerti kalau kita lagi sebel ama dia. Jadikan rugi, kita kesel sendiri!”. Jawab Mba Milly. Kali ini setengah cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setuju! Itu juga persoalan yang aku alami. Kita masih sebel sementara pasangan kita gak merasa.!” Aku menyetujui komentar Mba Milly.&lt;br /&gt;“Makanya aku mendingan cuek. Gak terlalu mau dipikirkan!” Kata Mba Milly lagi.&lt;br /&gt;"Bisakah aku seperti itu? Tanyaku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;“Setiap hari selalu ada hal baru. Bertahun kita hidup dalam rumah tangga, tetap saja ada bagian yang tidak kita kenal. Bagaimana kita bersikap, sebenarnya itu yang akan menentukan, kemana hubungan ini berjalan. Jadi hadapi hidup dengan optimis saja. Kalau kesel sama pasangan kita, anggap saja kita baru mengenalnya. Jadi tidak perlu dipikirkan. Pendapat atau sikap orang yang baru kita kenal kan tidak akan mempengaruhi. Makanya Es We Ge Te El deh!” lalu diteruskan’”So What Gitu Loh!” katanya sambil terbahak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut tertawa. Dalam hati aku membenarkan, sekarang pasangan kita sudah kita nikahi sehingga kesal berlama-lama malah akan merugikan diri sendiri lantaran gak merasa nyaman. Hatiku sedikit plong, yach aku gak akan terlalu memikirkan. Cuek saja!. Toh hidup berlanjut terus, kekesalan sesaat anggap saja intermezzo hari ini. Toh sekesal-kesalnya aku pada suamiku, cintaku masih lebih besar. Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!(Icha Koraag) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“20 April 2005. Marahannya sih minggu lalu!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115820701161434873?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115820701161434873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115820701161434873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/kisahku-uppss-rasanya-jadi-ingin.html' title='Kisahku: Uppss… rasanya jadi ingin dipeluk…!'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115812405778646673</id><published>2006-09-12T21:58:00.000-07:00</published><updated>2006-09-12T22:07:37.826-07:00</updated><title type='text'>Kisahku: Sesekali cerita bapaknya dong!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/DSC01519.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/DSC01519.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SESEKALI CERITA BAPAKNYA DONG!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain suka menulis, aku sebenarnya orang yang juga gemar bercerita. Ketika aku mogok menulis, aku banyak bercerita. Biasanya kalau aku pulang dari luar kota, teman-teman sekantor akan menyambut: ” Aha akhirnya datang juga!, Sepi tahu mbak, gak ada mba tiga hari”. Ada juga yang berkomentar: ”Eh ala, tak kira si mami udah lupa balik kantor, kangen tahu mi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya aku akan tertawa dan jujur aku merasa senang. Lelah? Pasti masih terasa. Cuma laporan harus segera masuk, jadi pasti datang dari luar kota, besoknya sudah hadir di kantor. Ketika datang, mereka (Maksudku teman-teman sekantor) akan menunggu cerita-ceritaku. Kalau Bos belum datang, sedikit cerita pasti aku bagikan. Seperti perjalanan dinasku yang terakhir ke Jogya. Aku menceritakan, pengalamanku berjalan-jalan dengan tukang becak. Mulai dari Pasar beringhardjo, Keraton, Taman Sari sampai makan siang berdua di warung gudeg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang bertanya, apa aku tidak riskan berjalan dengan tukang becak? Dengan santai ku jawab,” ya kalau riskan gue yang sial dong masa keliling Jogya jalan kaki. Ya, enakan sama tukang becak. Dia genjot becak, gue duduk menikmati angin dan permadangan!” Temanku menjawab ”Brengsek gue kira loe jalan-jalan berduaan sama tukang becak, sampai makan berdua juga!” Aku tersenyum lalu kukatakan: ” Otak loe yang gak beres. Iseng amat gue jalan-jalan sama tukang becak. Eh Gak salah juga sih, gue emang akhirnya makan semeja berdua. Masa gak ada terima kasihnya setelah keliling-keliling. Lagian makan siang kan gak sampai dua puluh ribu. Kapan lagi bisa makan bareng tukang becak. Biar dia punya cerita sama anak-anaknya, makan siang sama gue”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaranku bercerita baik hal-hal yang kualami atau cerita-cerita tentang pola tingkah anak-anakku sudah dikenal baik oleh teman-teman sekantor. Jadi pernah juga kutanyakan, apakah mereka bosan dengan ceritaku tentang anak-anak? Sebagian menjawab tidak. Bahkan mereka bilang, malah jadi ingin bertemu Bas dan Van.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada juga yang berkata: ”Bosenlah mba. Sesekali cerita bapaknya dong!” Lalu kujawab: ”Bukan gue tidak mau cerita tentang laki gue, takut yang belum menikah nanti mau buru-buru menikah dan yang sudah bersuami membandingkan dengan laki gue!” Spontan pecahlah tawa ngakak beramai-ramai. Salah seorang nyeletuk diantara gelak tawa ”Huh, GR emangnya laki loe supermen”. Lalu kujawab lagi ”Supermen banget, kalau supermen betulankan pakai celana dalamnya di luar nah kalau laki gue, bagian dalemnya yang diluar”. Gelak tawa kali ini diikuti hentakan kaki dan hentakan tangan di atas meja. ’Gilaaaaaa !!!! si mami makin gila!’ Jerit salah seorang temanku  sambil menenangkan diri dari rasa gelinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian, semua ramai-ramai mendesakku untuk bercerita. Lalu ku katakan lagi “Cerita Frisch cuma untuk gue dan biasanya antara gue dan Frisch jarang bicara, kita langsung memperagakan!” kali ini gelak tawa gak kurang dari yang pertama. Aku senang saja membuat orang tertawa, padahal kalau aku renungkan, apa yang ditertawakan? Aku kan belum bercerita apa-apa. Kesimpulanku, mereka menertawakan apa yang ada di alam pikiran masing-masing. Terlepas dari itu, aku merasa senang jika bisa membuat orang lain tertawa. Ketika kita tak mampu memberi dalam bentuk materi, maka gak ada salahnya memberikan penghiburan.  Membuat orang lain merasa senang kita juga akan merasa senang, percaya deh! &lt;br /&gt;(Icha Koraag, 13 September 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115812405778646673?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115812405778646673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115812405778646673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/kisahku-sesekali-cerita-bapaknya-dong.html' title='Kisahku: Sesekali cerita bapaknya dong!'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115796868098887657</id><published>2006-09-11T02:51:00.000-07:00</published><updated>2006-09-11T03:01:21.896-07:00</updated><title type='text'>Renunganku!</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/DSC00378.0.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/400/DSC00378.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; Aku, Selma dan Van&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KARENA WANITA INGIN DIMENGERTI, BENARKAH?&lt;/strong&gt; Karena wanita ingin dimengerti, adalah judul sebuah  lagu yang dibawakan kelompok Ada Band dan  tengah digandrungi masyarakat, khususnya masyarakat wanita.. Namun dari judulnya, terasa cukup menggelitik. Sehingga saya jadi bertanya benarkah hanya wanita yang ingin di mengerti? Tapi terlepas dari itu, isi syairnya menurut saya tidak ada indah-indahnya bahkan terasa sedikit melecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lekuk indah hadirkan pesona&lt;br /&gt;Kemuliaan bagi yang memandang&lt;br /&gt;Setiamu simbol keanggunan khas perawan&lt;br /&gt;yang... kau miliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya fahami, fisik perempuan timbulkan pesona. Dan yang memandang merasa terpesona, membuat yang memandang menjadi mulia. (Jadi yang mulia adalah yang memandang, bukan yang mencipta) Kesetiaan yang dimiliki perempuan adalah simbol keanggunan khas perawan. Jadi yang gak perawan berarti gak setia dan gak punya keanggunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah pengagum ragamu&lt;br /&gt;Tak ingin kumenyakitimu&lt;br /&gt;Lindungi dari sengat dunia yang mengancam... nodai... sucinya lahirmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengagum perempuan (Saya rasa sok pahlawan) niatnya gak ingin menyakiti namun kenyatannya gak begitu. Termasuk niatnya melindungi kesucian perempuan dari sengat dunia yang bisa menodai. Kenyataannya lebih banyak perempuan yang ternodai dan tersengat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena wanita ingin dimengerti&lt;br /&gt;Lewat tutur lembut dan laku agung&lt;br /&gt;Karena wanita ingin dimengerti&lt;br /&gt;Manjakan dia... dengan kasih sayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah wanita ingin dimengerti lewat tutur lembut dan agung? Rasanya banyak perempuan yang bisa paham dengan tutur kata yang tegas. Dan untuk dimengerti, para perempuan tidak cukup hanya dimanja dan disayang. Wanita ingin dimengerti karena itu perlu diberi ruang untuk mengekpresikan dan mengaktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin kuajak engkau menari&lt;br /&gt;Bermandi hangat cahaya bulan&lt;br /&gt;Sebagai tanda kebahagiaan&lt;br /&gt;Bagi semesta cinta kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan akan bahagia bukan sekedar menari bermandi hangatnya cahaya bulan, perempuan akan menari dengan seluruh jiwa dan raganya jika hatinya senang. Dan hatinya senang bukan karena rayuan, rayuan adalah bagian mempermainkan sisi perasaan perempuan, sejujurnya perempuan lebih berbahagia berhadapan dengan kejujuran sekalipun menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan ungkapan tapi kenyataan. Cuma kebanyakan pria tidak siap menerima reaksi perempuan yang bersikap. Menerima kejujuran bukan berarti menerima diperlakukan seenaknya.  Para lelaki tidak siap ketika reaksi perempuan yang menerima keterusterangan perbuatan laki-laki dengan meninggalkan para lelaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para lelaki beranggapan dengan berterus terang, perempuan mau memaafkan. Saya percaya perempuan pasti mau memaafkan tapi melupakan? Nanti dulu. Bukan pendendam tapi perempuan perlu waktu yang lebih banyak untuk bisa melupakan. Jangan lupa, perempuan juga manusia, punya rasa dan punya hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang terang itulah dirimu&lt;br /&gt;Janganlah redup dan mati&lt;br /&gt;Aku dibelakangmu memeluk dan menjagamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintang terang itulah diri perempuan, kata si penyair. Jadi tidak boleh redup apalagi mati. Soalnya yang menjaga hanya akan memeluk dari belakang. Ini bagian puncaknya. Kalau mau menjaga yang jangan dari belakang dong! Kalau di tusuk kan perempuannya mati lebih dulu. Bagimana menjaga pelita agar jangan padam? Lindungi secara keseluruhan! Bagaimana wanita akan berbahagia sehingga bisa bersinar terus, jangan kungkung dia dalam sangkar emas. Kurungi wanita dengan cinta kasih, maka ia tidak akan pernah pergi dan keceriaannya tidak akan pernah padam. Keceriaan, kebahagiaan permpuan akan menjadi penerang rumah cinta! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ini cuma lagu, mungkin aransemen musiknya bagus. Sehingga sedikit orang yang mau menelaah rangkaian kata-katanya. Mungkin saja pendapat saya berbeda tapi lebih kurang ini hasil perenungan saya. (Icha. 11 Sept 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115796868098887657?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115796868098887657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115796868098887657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/renunganku.html' title='Renunganku!'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115771214038566302</id><published>2006-09-08T01:42:00.000-07:00</published><updated>2006-09-08T03:45:08.276-07:00</updated><title type='text'>Kisah Seorang Teman: LINDA</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/P8110004_resize.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/400/P8110004_resize.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;Linda ke 3 dari kanan&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”KATAKAN TIDAK, JIKA ANAKNYA INGIN BERJILBAB”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Temanku yang bernama Linda ini, sangat suka makan makanan yang pedas. Kadang kalau melihat dia makan, yang melihat ikut merasa kepedasan.  Selera makan pedasnya tak berkurang walau kini tengah hamil lima bulan. Padahal Linda tidak berasal dari Padang. Entah dari mana turunan selera pedasnya. Linda berasal dari Wonosobo, menamatkan pendidikkan akhirnya di Bogor. Mungkin di Bogor ini kali, dia belajar makan makanan pedas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan Linda bisa dikatakan tidak bermasalah, walau  kehamilan pertama. Cuma sesekali pernah juga aku memergoki, ia tengah muntah-muntah. Biasanya karena belum sempat sarapan. Linda anak perantau demikian jujga suaminya. Jadi pasangan muda ini kontrak rumah di Jakarta yang jauh dari sanak keluarga. Mungkin jadi tidak ada yang menyiapkan sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku informasikan untuk selalu menyimpan biscuit di tas, Linda  mengikuti saranku dan kini sudah tidak pernah muntah-muntah lagi. Soalnya dulu waktu aku hamil, setiap kali merasa lapar, perut ini langsung terasa seperti di kocok-kocok. Aku sempat membayangkan ketika merasa seperti itu, jangan-jangan si janin lagi menendang-nendang dinding rahim untuk memberi tanda, ia ingin asupan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa saat makan siang, kami  berjalan bersama-sama ke pusat makan di Pasaraya. Kantorku di Kawasan Blok M, jadi kalau makan siang mudah asal isi dompet tebal. Linda tentu saja ikut. Biar perutnya sudah mulai tampak membuncit tapi Linda masih bisa berjalan cepat. Dan dia selalu bersyukur karena tidak mengalami problem seperti yang kebanyakan di alami ibu hamil, yaitu ngidam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal selera makan Linda, beberapa kawanku yang sudah pernah hamil dan melahirkan memberitahu Linda untuk mengurangi mengkonsumsi makanan pedas.Karena  mengkhawatirkan kalau Linda mengalami diare akibat makan pedasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dasar, anak kemarin sore, nasehat itu tak pernah digubrisnya. Seperti juga siang ini, Linda memesan bakso kuah, pada saat pesanan datang, Linda langsung meracik ulang. Ditambah saos sambal, sampai kami mengomentari, ”Itu sih sambal dengan bakso, bukan bakso pakai sambal!”, Linda hanya tertawa mendengar komentar kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda berjilbab, jadi wajahnya agak tersembunyi di balik kerudung tapi kali ini warna merah nampak jelas akibat pedasnya bakso. Tiba-tiba salah satu dari kami berkomentar: ”Sebetulnya Lin, kenapa kami menyarankan kamu mengurangi sambal, karena kalau kamu makan pedas terus, bisa-bisa anakmu lahir tak berambut alias gundul”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa reaksinya hanya cengar-cengir tapi kali ini  Linda menjawab “Biar saja, nantikan pakai Jilbab!”  Spontan aku balik bertanya, ”:Loh kalau nanti anakmu laki-laki?” Kontan meledaklah tawa kami semua. Beberapa pengunjung menoleh ke arah kami. Lalu kami sama-sama mengecilkan suara tawa dengan menutup mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat cerita. Sepasang suami istri yang terus-terus berkonsultasi dengan ahli agama, untuk menanyakan dampak seorang anak berjilbab. Pasangan suami istri ini, meminta anaknya untuk menunggu sampai lahir batin siap. Karena itu, anaknya  disertakan dalam pondok pesantren. Setelah 3 tahun si anak menuntut ilmu di Pesantren maka ia pulang untuk meminta restu orang tuanya karena bulat sudah tekad mengenakan jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah ibunya tetap melihat ketidak siapan si anak, maka pergilah di ibu berkonsultasi ke seorang Dai kondang. Jelas si Dai membenarkan prinsip pasangan suami istri itu yang menginginkan kematangan si anak. Namun si Dai juga melihat 3 tahun sudah memperlihatkan keseriusan si anak dengan niatnya. Maka Dai itu pun menganjurkan pada pasangan suami istri itu untuk merestui niat si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pasrah pasangan suami istri itu menerima saran si Dai. Namun si ibu berkata ‘”Tapi kami masih punya masalah”. Si Dai mempersilahkan si ibu mengutarakan masalahnya. Lama si ibu terdiam, beberapa kali hanya bertukar pandang dengan sang suami. Ahirnya dengan menarik nafaas panjang si istri berkata “ Persoalannya anak kami laki-laki!”. Dan itulah yang terjadi pada Linda, Empat bulan kemudian Linda melahirkan bayi laki-laki tak berambut alias gundul. Cuma Linda kelihatannya tak perlu berkonsultasi seperti pasangan suami istri yang aku ceritakan.  Maka kami menyarankan Linda untuk ”katakan tidak jika anaknya ingin berjilbab!” (Icha Koraag, 8 Sept)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115771214038566302?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115771214038566302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115771214038566302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/kisah-seorang-teman-linda.html' title='Kisah Seorang Teman: LINDA'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115762132311143793</id><published>2006-09-07T02:18:00.000-07:00</published><updated>2006-09-07T02:28:43.196-07:00</updated><title type='text'>Kisahku: Melahirkan Dng Operasi Cesar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Buah Cinta kami, Bas &amp; Van.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/Picture%20012.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/400/Picture%20012.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahku: MELAHIRKAN DENGAN OPERASI CESAR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua bayi saya lahir dengan operaso Cesar di dua rumah sakit yang berbeda. Dalam rentang waktu 3 tahun biaya yang saya keluarkan 100% kenaikannya. Jika yang pertama Rp. 5 juta  maka anak kedua Rp. 10. juta. Itu sebabnya saya merasa cukup punya dua anak. Karena saya takut tak mampu membayar biaya kelahiran bayi ketiga yang barangkali bisa lebih dari Rp. 15.000.000. (Tidak bermaksud menyombongkan diri, ini hanya cerita pengalaman. Andaikan ada yang sedang hamil dan tahu akan melahirkan dengan Cesar, ini bisa menjadii gambaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cesar yang kedua adalah keputusan yang saya lakukan di bawah tekanan. Kenapa saya katakan di bawah tekanan. Kelahiran anak saya yang pertama lewat Cesar karena sejak usia kehamilan 5 bulan, hasil USG terlihat, ari-ari menutupi jalan lahir. Biarpun saya melakukan berbagi senam maupun pijat khusus tetap saja saya tidak merasa mulas. Akhirnya dengan bantuan induksi, proses pembukaan jalan lahir jadi juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh yah saya akan marah besar jika ada yang mengatakan seorang perempuan yang melahirkan dengan cara Cesar kurang sempurna. Sempurna atau tidak sempurna perempuan yang melahirkan tidak bisa ditentukan dengan akhir usaha yaitu persalinan normal atau Cesar. 12 jam saya bertarung nyawa ketika akan melahirkan anak pertama saya. Artinya walau persalinan saya lewat operasi Cesar tapi proses hamil sembilan bulan dan proses melahirkan adalah bukti kesempurnaan si perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mulai jam 4 sore sampai jam 4 subuh saya berjuang menahan rasa sakit. Tak sedikitpun saya beranii menangis atau berteriak. Karena saya sadar sepenuhnya semua adalah pilihan saya. Saya hanya terus menerus berdoa dan mohon kekuatan dari yang di Atas. Pada pukul 11 malam, saya nyaris menyerah. Ketuban yang terus mengalir dan perut yang terasa di kocok sehingga saya muntah terus. Benar-benar menghabiskan semua energi yang saya punya. Waktu itu saya katakan pada suami, saya akan  menyerah. Saya sudah tidak kuat. Dengan napas tinggal satu-satu, saya katakan dokter sudah mengatakan bayi ini tidak bisa keluar secara normal, mengapa saya dibiarkan menderita begini lama?. Suami saya terus menguatkan dan mengatakan, saya pasti bisa karena itu harus bertahan dan terus berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul dua pagi dokter memanggil suami saya dan mengatakan akan dilakukan tindakan Cesar.  Pukul 4, dari ruang bersalin saya diangkat ke brankar dan dibawa setengah berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Kalau anda ingat film-film horor, hening yang terdengar hanya bunyi roda brankar. Mencekam itulah perasaan saya. Menahan sakit yang luar biasa dan tidak tahu apa yang akan terjadi. Memasuki ruangan operasi, rasa dingin langsung menusuk kulit tapi tetap tidak megalahkan rasa sakit. Tiba-tiba terberit perasaan akan mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran saya masih penuh. Saya mendengar seorang petugas diruang operasi membersihkan peralatan dan mulai menghitung. Dentingan pisau dan gunting yang dijatuhkan dalam wadah steinless still menimbulkan bunyi yang mendirikan bulu kuduk. Aroma antibiotik dan bau obat-obatan menambah rasa mual. Warna hijau  memenuhi ruang operasi membuat saya semakin takut. Karena kondisi saya yang tidak baik dokter dan suami memutuskan bius total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih mendengar sesorang mengabsen para doketr. Mulai dari dokter anastesi, dokter bedah, dan dokter anak. Tiba-tiba seseorang dengan suara lembut berkata: Tenang ya bu, kami akan membantu ibu. Lalu seseorang membantu  saya berbaring miring dari tidur telentang. Seseorang diatas kepala saya berkata: Badannya di lenturkan yach bu! Lalu orang lain lagi mendorong kedua kaki saya saya sehingga kedua lutut menyentuh dahi saya. Dalam keadaan normal itu tidak apa-apa tapi dengan perut gendut saya nyaris tidak napas. Saya merasakan jarum suntik menembus bagian belakang saya. Dan saya di suruh berhitung. Belum sampai lima saya sudah tidak ingat. Namun tidak lama saya merasa ada seseorang menyentuh tangan saya dan berkata : Bangun Bu! Anaknya laki-laki keluar tepat pukul 05.16. Sekarang berada sama ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak putus rasa syukur saya naikkan kehadirat Dia yang maha Pengasih. Sulung saya telah lahir, Kamis 27 Juli 2000 dengan berat 2,8 kg, panjang 49 cm. Dan kami memberinya nama Frisch Bastiaan Calvarie Monoarfa. Tapi Tuhan masih menguji kami, pukul 09. 00 pagi saya terbangun dengan separuh badan masih dalam keadaan lumpuh. Saya terbangun karena sentuhan seorang suster yang sengaja membangunkan saya.&lt;br /&gt;”Apa golongan darah ibu? Tanyanya. &lt;br /&gt;”Jawab saya A”. &lt;br /&gt;”Kalau bapak?” Tanyanya lagi. &lt;br /&gt;”Saya jawab B, ada apa suster?” &lt;br /&gt;Dengan enteng dan nyaris tanpa perasaan si suster menjawab; ”Kondisi anak ibu tidak baik. Kemungkinan ada masalah dengan hati karena bilurubin yang normalnya berkisar 4-6, anak ibu bilurubinnya 14. Jadi siap-siap saja kalau harus operasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa anda bayangkan apa yang saya rasakan? Bagaikan di timpa godam kepala ini. Saat saya menerima informasi ini tidak ada yang menunggui saya. Karena setelah operasi saya katakan pada suami, lebih baik dia pulang mengingat dia pun belum istirahat  bahkan tidak mandi. Jadi waktu mendengar informasi itu saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana . Untunglah gak lama muncul ibu dan kakak-kakak saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatan yang entah datang darimana, saya bisa bangkit duduk!. Dan sampai saat ini, jujur saya katakan saya masih trauma dengan rasa sakit yang ditimbulkan ketika saya memaksakan diri turun dari tempat tidur. Sampai saat ini bila teringat rasa sakit itu, kedua lutur saya masih bisa gemetar. Dengan menopang kedua tangan ditepian tempat tidur dan memaksakan setengah badan yang lumpuh ini untuk bergerak saya menurunkan kedua kaki. Sakit luar biasa. Rasanya semua persendian seperti habis diputus-putus. Sakitnya tidak lama, mungkin hanya sekitar 5 menit tapi itu terasa lama sekali. Akahirnya saya mampu berdiri dan berjalanke kamar bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi, yang langsung aku panggil Bas. :“ Bas....ini mama nak!“ Sambil saya usap dinding kaca pemisah. ”Ayo bangun, kamu pasti kuat. Mama dan papa sudah menanti lama sekali. Ia bergerak, kedua matanya ditutup kain kasa karena ia harus disinar agak bilurubin segera turun. Ia disinari dengan ultraviolet.  Saya tahu ia mendengar suara saya. Suara yang menemaninya selama sembilan bulan dalam rahim saya. ”Anak pandai!” ucap saya sambil tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanti kedatangan suami untuk mengabari kondisi anak kami adalah rasa lama kedua yang saya rasa setelah rasa sakit akibat turun dari tempat tidur. Siang, suami saya muncul. Begutu dikabari kondisi Bas, ial angsung jatuh terduduk lemas. Dengan menggenggam tangannya saya menguatkan,  saya katakan: ”Sabar, Ia anak yang kuat, pasti ia bertahan!” kami pun luruh dalam tangis. Tiga hari pertama adalah masa penantian tanpa kepastiaan. Ketika saya sudah diizinkan pulang, dokter mengatakan Bas harus tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mana yang mau dan tega meninggalkan anak yang belum lagi semingu dilahirkan? Biarpun di RS dibawah perawatan para ahli. Saya katakan, jika bayi saya tak boleh pulang, izinkan saya menjaganya. Biarkan ia tahu ibunya ada disampingnya. Kuasa Ilahi terjadi, hasil laboratorium keluar, bilurubinnya  turun tinggal 7 dan saya diperbolehkan membawa Bas  pulang.  Dengan catatan ia harus dijemur dibawah sinar matahari langsung diantara pul 06.00-07.00 pagi. Dan kini ia tumbuh tanpa masalah menjadi anak yang gagah dan kini 6 tahun usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cesar yang kedua berkaitan dengan Cesar yang pertama. Sebetulnya hasil pemeriksaan medis, kondisi kehamilan saya baik. Hingga bulan kesembilan sehari sebelum melahirkan dokter menginformasikan semua dalam keadaan baik. Kepala bayi sudah masuk di jalan lahir.  30 Juli tahun 2003 malam, rasa mulas sudah mulai saya rasa. Saya sudah menyiapkan semua keperluan untuk di RS dalam satu tas yang simpel. Semalaman suami saya sudah cemas. Di paksanya saya berjalan terus dengan alasan agar mudah saat persalinan. Pukul 2 pagi saya katakan saya mengantuk. Dan rasa ngantuk itu bisa mengalahkan rasa mulas.  Akhirnya  saya pun tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi suami saya bangun dan sebelum berangkat kerja, ia berpesan: Kalau kamu Masih mendengarkan saya sebaga suami, kita bertemu di RS A sekitar pukul 10.00. Maka sayapun bersiap-siap dengan diantarkan adik  ke RS A.  Ini RS langganan para seleb melahirkan. Entah apa istimewanya. Pilihan kami pada RS tersebut karena letaknya dibelakang tempat saya kerja, sehingga saya hanya perlu jalan kaki kalau kontrol kehamilan. Setibanya di RS, Suster dengan ramah langsung menerima tas bawaan dari tangan adik saya dan mengiring saya ke kamar bersalin. Dari pintu gerbang sampai kamar bersalin yang jaraknya tidak sampai 200 meter saya perlu waktu hampir duapuluh menit dengan beberapa kali berhenti menahan sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di ruang bersalin, suster membantu saya mengenakan pakaian RS. Disinilah tekanan demi tekanan saya dapatkan. Secara bergantian suster atau bidan yang datang dan memeriksakan bertanya mengenai bekas jahitan di perut. Sambil menahan sakit saat kontraksi saya katakan penyebabnya. Mereka dengan mulut manis namun isinya menakutkan menyarankan saya untuk melahirkan dengan Operasi. Bayangkan dalam dua jam berjuang dengan rasa mulas, diselingi saran operasi dan bujukan dengan cerita-cerita menakutkan kalau saya melahirkan normal, membuat saya menginginkan operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahan tangis, yang kini  saya sesali karena saya merasa  cengeng banget. Saya medesak suami untuk menandatangani kesepakatan Cesar. Hanya berjarak satu jam sejak ditanda tangani, saya langsung dibawah ke ruang operasi. Kali ini saya hanya di bius secara lokal. Suster dan dokter ngobrol bahkan sambil bernyanyi Bengawan Solo waktu menangani operasi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedurnya sama dengan Cesar yang pertama. Cuma kali ini saya tetap telentang. Seseorang dari belakang mendorong duduk dan seseorang dari depan mendorong kedua kaki hingga menekuk dan lutut menyentuh kening. Lagi-lagi saya rasakan sebuah jarum menusuk bagian belakang tapi kali ini saya tidak hilang kesadaran. Saya  merasa mual dan itu  saya katakan:&lt;br /&gt;”Dokter, saya  mau muntah!”&lt;br /&gt;”Seseorang diatas kepala saya menjawab ” Tenang bu, saya bantu yah, simsalabim katanya sambil menusukkan jarum kelengan. Dan rasa mualpun hilang. Namun kali ini saya merasa pusing, lalu  saya katakan lagi.&lt;br /&gt;”Dokter saya pusing”&lt;br /&gt;Seseorang dibelakang saya  kembali menjawab:&lt;br /&gt;”Tenang ya bu, simsalabim, sambil menusukkan jarum lagi kelengan saya! Dan memang pusingnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba salah seorang dokter muncul dari arah bawah tempat tidur memegang  kedua kaki bayi saya dan menentengnya dengan bagian kepala di bawah.”Bu ini anaknya perempuan. Besar loh! Katanya.&lt;br /&gt;Permandangan yang tak akan saya lupakan seumur hidupku. Bayi itu tidak ada bagus-bagusnya. Berselaput dan berlumur darah. Matanya masih terpejam. Rambutnya banyak, pipinya gendut. Saya langsung mengucap syukur. Belum lagi kata amin meluncur dari mulut saya, terdengar lengkingan tangisnya. Dulu saya tidak mendengar karena bius Total. Tepat pukul 13.15 Kamis, 31 Juli 2003 saya melahirkan anak kedua seorang perempuan. Yang kami beri nama Vanessa Elleanoor Monoarfa. Dengan berat 3,35 Kg dan panjang 51 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua kali saya melahirkan secara Cesar di dua RS dengan kelipatan harga berbeda 100%. Namun uang tidak bisa bohong. Pada kelahiran yang kedua saya tidak semenderita saat melahirkan yang pertama. Saya sendiri juga heran. Tidak sampai 24 jam, saya sudah bisa berjalan bahkan cuci rambut di kamar mandi.Sikap Dokter dan susternya juga berbeda. Pada kelahiran yang kedua, RS terasa sangat nyaman karena suster dan dokter sangat ramah. Melayani dan merawat dengan lemah lembut. Berbeda dengan yang pertama, suami saya  saja diusir tidak boleh berjaga. Walau sudah dikatakan saya melahirkan dengan cara Cesar. Di  RS tempat saya melahirkan yang kedua, semua  ramah dan baik. Bahkan makanannya pun lebih enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Rp. 5.juta berbeda dengan Rp. 10 juta. Jadi kalau saya dapat fasilitas lebih baik dan lebih enak karena harga yang saya bayar juga lebih mahal dari yang pertama. Namun saya tetap tidak akan lupa, tekanan yang saya dapat sehingga saya memaksakan diri melahirkan yang kedua dengan cara Cesar. (Icha Koraag)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115762132311143793?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115762132311143793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115762132311143793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/kisahku-melahirkan-dng-operasi-cesar.html' title='Kisahku: Melahirkan Dng Operasi Cesar'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115752616585807198</id><published>2006-09-05T23:58:00.000-07:00</published><updated>2006-09-06T00:02:45.870-07:00</updated><title type='text'>Depresi Pasca Melahirkan</title><content type='html'>Kisah Seorang Teman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tengah menunggu jahitan baju di tukang jahit langgananku yang tengah menyelesaikan celana panjang untuk Bas, anakk. Ketika seseorang menepuk pundakku. Ia ternyata salah satu rekan sesama penyiar ketika aku berkerja di sebuah radio siaran. Kamipun berpelukkan dan saling menanyakan kabar. Kini Nita, sebut saja demikian masih menjadi penyiar tapi di radio yang lain. Aku memang mengakui, suaranya sangat bagus. Bahkan suaranya juga digunakan untuk beberapa iklan radio dan televisi. Karena kami masih ingin mengobrol, kami pun sepakat meninggalkan tukang jahitku dan masuk di sebuah Warung Bakmie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi sekarang, Bas sudah kelas satu yah?” tanya Nita ketika kami sudah duduk.  Aku mengiykan dengan menganggukkan kepala.&lt;br /&gt;”Itu berarti Faiz kelas tiga” Ujarku.&lt;br /&gt;”Mas Frisch, bagaimana kabarnya?”&lt;br /&gt;”Secara fisik baik, tapi secara ekonomi enggak tuh. Soalnya usahanya lagi mogok” Ujarku. Lalu kulanjutkan dengan cerita usaha yang tengah di rintis aku dan Frisch. Kami memang tengah merintis usaha sendiri dengan mendisign dan memproduksi sepatu hujan untuk para pengendara motor. Sayang karena musim hujan belum datang dan produksi kami bergantung pada hujan, maka penjualan belum bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bang Surya, apa kabar?” Aku menanyakan kabar suaminya. Nita cuma tersenyum.&lt;br /&gt;“Mba Icha memang belum dengar?” Nita balik bertanya.&lt;br /&gt;“Ada berita baru?” tanyaku santai.&lt;br /&gt;“Aku dan Bang Surya sudah berpisah”. Jawab Nita datar.&lt;br /&gt;”Ups, maaf. Maksudmu bercerai? Aku tidak tahu!” Ujarku terkejut.&lt;br /&gt;”Tidak apa-apa!” Ujar Nita sambil menghirup es jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejujurnya aku terkejut. Aku dan Frisch datang pada pernikahan Nita dan Surya. Walau aku menikah lebih dulu, ia lebih beruntung karena dua bulan setelah menikah, langsung positip hamil. Mereka berpacaran cukup lama, direstui orang tua masing-masing. Sama-sama bekerja, artinya aku tidak melihat faktor ekonomi mejadi penyebab perpisahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kejutan yang ku dapati setelah mendengar cerita Nita. Ia berpisah dengan Surya ketika kami masih sama-sama jadi penyiar di radio yang sama. Kok aku bisa tidak mendengar gosip apa-apa waktu itu. Cuma selentingan sempat singgah ditelingaku, ketika stasiun radio mengadakan acara ke puncak dengan para pendengar, aku mendapat cerita, Nita datang bersama laki-laki yang bukan suaminya. Aku tidak ikut karena aku baru melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mengkonfirmasi hal itu, Nita menjelaskan, laki-laki tersebut adalah Bang Ginting. Salah satu pemilik acara infoteinment, dimana Nita sebagai naratornya. Nita mengaku tidak ada hubungan apa-apa dengan Bang Ginting. Saat itupun Nita sesungguhnya sudah resmi bercerai. Aku dan Frisch mengenal baik dengan Bang Ginting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perceraian Nita dan Surya terjadi, saat putera mereka belum genap berusia satu tahun, artinya usia pernikahan itu sendiri belum dua tahun. Nita banyak menyalahkan dirinya sendiri. Pasca melahirkan Nita mengalami depresi. Dimana Nita menjadi orang yang tidak percaya diri, merasa jelek, merasa tidak berarti apa-apa dan menjadi paranoid. Takut di tinggal suami, takut suaminya pergi tak kembali, hinggal menyesalkan kehadiran bayinya. Nita merasa bayinyalah yang menjadi penyebab ia tidak bisa bekerja.. Cerita Nita amat mengejutkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ketika masa cutimu habis, kamu berkerja kembali, aku tidak melihat ada yang salah?” Ujarku bingung. &lt;br /&gt;“Mendekati berakhirnya masa cuti, aku sudah bisa mengendalikan diri”. Jawabnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Lalu, apa permasalahannya sampai kamu bercerai?” tanyaku semakin penasaran.&lt;br /&gt;“Entahlah aku pun sampai saat ini tak paham, mengapa akhirnya bercerai. Mungkin sakit hati. Aku merasa di tolak. Kamu masih ingat Mba, waktu Bang Surya datang ke studio saat akan study ke Australia?” tanya Nita sambil memandangku.&lt;br /&gt;“Yap, aku masih hamil waktu itu. Tunggu, waktu itu kamu sudah bercerai?” tanyaku?.&lt;br /&gt;“ Sudah! Saat itu Bang Surya memberitahukan aku jadual keberangkatannya di tunda karena Bang Surya akan menikah.” Ujar Nita santai.&lt;br /&gt;”Aku tidak mengerti!” Ujarku sambil menatapnya. Mendengar cerita Nita, telah menghilangkan selera makanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika aku mengalami depresi sesudah melahirkan, ibu Bang Surya menganggapku tidak normal. Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Keluarga besar Bang Surya mendesak Bang surya untuk menceraikan ku.&lt;br /&gt;”Sebentar Nit. Stop dulu cerita Bang Surya dengan istri barunya. Aku ingin tahu habis kamu melahirkan, kamu tinggal dimana?” &lt;br /&gt;”Tinggal di rumah Bang Surya dengan orang tua dan satu adik perempuannya. Adik laki-laki Bang Surya bekerja di Yogja!. Mengapa?”&lt;br /&gt;”Apakah keluarga kamu tahu, kalau kamu mengalami depresi pasca melahirkan?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;”Ya, enggaklah Mba. Dan memangnya aku tahu, kalau waktu itu namanya depresi?” Nita balik bertanya.&lt;br /&gt;”Maksudmu?”&lt;br /&gt;”Istilah depresikan baru aku pahami beberapa waktu lalu. Ternyata kasus yang kualami, banyak juga dialami perempuan lain. Cuma bedanya perempuan lain di bantu suami dan keluarganya untuk mengupayakan penyembuhan, sedangkan aku di vonis tidak normal. Sehingga di ceraikan dianggap jalan keluar satu-satunya!” Ujar Nita.&lt;br /&gt;”Bang Surya memenuhi keinginan orang tuanya untuk menceraikanmu?”&lt;br /&gt;”Orang tua Bang Suryapun tidak beringinan memelihara Faiz yang tak lain cucunya sendiri. Mereka beranggapan bisa jadi anakku juga tidak normal”. Kali ini Nita mengatakan dengan wajah menerawang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku ada yang salah dalam kasus Nita dan Bang Surya tapi aku tak tahu apa. Aku tahu, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi pada wanita pasca melahirkan. Tapi kebanyakan yang ku tahu adalah gangguan fisik. Seperti pre-clamsia  dan hipertensi. Atau ASI yang tidak keluar dan persoalan lain yang menyangkut kesehatan fisik ibu dan bayi. Kalau gangguan kejiwaan, seperti depresi yang dialamai Nita dan mungkin dialami banyak perempuan lain, bukankah seharusnya di tolong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi Bang Surya sendiri bagaimana? Apakah dia sudah tidak mencintaimu lagi? Juga anaknya?” tanyaku?&lt;br /&gt;“Mungkin waktu itu Bang Surya juga kehabisan rasa sabarnya dalam menghadapiku. Setiap Bang Surya akan berangkat kerja, aku menangis sejadi-jadinya. Aku takut Bang Surya tidak pulang dan kembali padaku. Walaupun kenyataannya tiap sore juga pulang. Aku punya perasaan takut, ngeri, jijik terhadap bayiku sendiri. Aku tidak mau menggendongnya karena aku takut kalau kesadaranku hilang, aku akan menjatuhkan bayiku”. Ujar Nita sambil menarik nafas. Lalu ia melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menjadi orang yang menakutkan. Aku tidak mempercayai siapapun. Aku merasa semua orang tidak menginginkan ku. Jika ada keluarga yang berkunjung mereka hanya melihat bayiku. Puncaknya, Bang Surya mengupah perawat untuk mengurusku dan bayi kami. Saat itulah aku semakin yakin aku akan di buang. Bayiku di pisahkan dari aku. Aku masih tidur seranjang dengan bang Surya tapi lama-kelamaan Bang Surya lebih sering tidur di kamar bayi. Dan hubungan kami menjadi tawar. Mungkin Bang Surya merasa, aku mengecewakannya dan dalam kekecewaannya, ia menemukan perempuan lain yang bisa mengobati rasa kecewanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tahu, aku punya andil menjadi penyebab ia berselingkuh. Karenanya aku memaafkan dan menerima talak cerainya. Kini aku kembali ke orang tuaku dan senang bersama anakku. Aku bekerja untuk eksistensi diriku dan memenuhi kebutuhan anakku.  Terakhir ku dengar istri Bang Surya sudah memberinya dua anak. Sesekali Bang Surya datang melihat Faiz tapi aku tidak mengizinkannya untuk di bawa Bang Surya walau hanya jalan-jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usai puas bercerita, aku dan Nita berjanji untuk tetap ”keep contack” Dan berpisah. Ibu Will sudah menyelesikan jahitan celana Bas dan akupun pulang. Tapi cerita Nita masih mengganggu pemikiranku Barangkali memang sulit dicari penyebabnya. Namun yang diperlukan adalah perhatian dan kasih sayang. Artinya depresi ini bisa terjadi pada siapa saja, tidak ada kaitannya dengan kesehatan fisik secara umum. Tapi kematangan diri dalam mempersiapkan kehamilan juga menjadi faktor yang cukup menentukan, apakah si perempuan siap dengan bayinya. Dan bicara soal kesiapan memasuki masa kehamilan, menurutku para suami punya peran yang sangat besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku hamil, perasaanku campur aduk. Gembira dan senang itu sudah pasti. Apalagi bayi ini sudah tiga tahun kami nantikan. Tapi rasa cemas juga selalu mengusik hatiku. Apakah bayi ini tumbuh sehat dan normal? Bagaimana nanti waktu akan melahirkan. Sanggupkah aku melewati proses yang kerap disebut orang sebagai ”bertaruh nyawa?” kadang dalam kekalutan berperang dengan hati dan perasaan sendiri, berdoapun (mungkin gak khusuk) tidak memberi ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya suamiku paham kalau aku gelisah. Frisch tidak ragu-ragu mendekapku lalu mengusap lembut pinggang dan punggungku. Sesekali diusapnya perutku sambil berbicara ”Ade bobo yah, mama mau istirahat!” Itu dilakukan cukup lama sampai aku tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kupelajari dari kisah Nita dan Bang Surya ada 2 hal. Pertama, ketidakterbukaan, dan kedua, ketidak tahuan persoalan yang mereka hadapi. Akibatnya   berdampak pada berakhirnya pernikahan mereka. Kurang kuatnya komitmen juga mungkin menjadi penyebab. Aku menyayangi perpisahan mereka namun nasi sudah menjadi bubur. Dan mungkin kini mereka harus mulai belajar menyantap bubur itu. Semoga bubur yang mereka santap memberikan kenikmatan walau sedikit! (Icha Koraag, sedang prihatin. 6 Sept 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115752616585807198?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115752616585807198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115752616585807198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/depresi-pasca-melahirkan.html' title='Depresi Pasca Melahirkan'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115710501229493783</id><published>2006-09-01T03:00:00.000-07:00</published><updated>2006-09-07T02:36:45.726-07:00</updated><title type='text'>Kisah Seorang Teman: KASIH IBU.</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/DSC00437.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/DSC00437.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KASIH IBU.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teman yang satu ini berpendidikan tinggi, terlahir dari keluarga yang bahagia. Sayang rumah tangga yng dijalaninya tidak seindah ketika ia dibesarkan kedua orang tuanya. Mulanya semua kelihatan begitu ideal. Namun di tahun ke-3 pernikahnnya, ia harus menerima kenyataan, suaminya seorang pencemburu dan ringan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tak sedikitpun, ia punya keinginan untuk melepaskan diri dari situasi seperti itu. Anaknya laki-laki 3 orang. Sekuat tenaga ia mempertahankan rumah tangganya. Sampai sini, aku sepakat dengan tindakannya. Artinya bagiku konflik dalam rumah tangga tidak harus selalu diakhiri dengan kata CERAI! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin, semua biduk rumah tangga, selalu melewati badai dan gelombang kehidupan. Karena kualitas biduk rumah tangga itu justru diuji dengan rintangan tersebut. Namun jika gelombang dan badai terus menerus menghempas biduk rumah tangga itu, maka bukan hanya kualitas biduknya yang dipertaruhkan tapi kemampuan nakhoda mengemudikan biduk tersebut juga diharapkan bisa menyelamatkan penumpangnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian biduk rumah tangga temaku itu berlayar terseok-seok bahkan berdarah-darah karena  persoalan datang terus menerus. Sampai satu ketika badai paling kencang nyaris memporakporandakan biduk rumah tangganya. Hanya beberapa bulan dari ulang tahun pernikahannya yang ke 23 tahun, datang seorang perempuan dengan bayi yang mengaku sebagai ”selingkuhan” suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, kalau aku yang mejadi dia, reaksi pertama mungkin diam. Reaksi kedua berteriak sekuat-kuatnya! Tapi temanku itu, hanya mengusir perempuan itu dan diam. Selingkuhan suaminya tak puas dengan reaksi temanku, selingkuhan itu datang ke kantor dan membuat ribut di sana. Situasi seperti ini sulit masuk dalam nalarku. Biasanya istri utama yang akan mencari dan memaki-maki selingkuhan suaminya, bukan sebaliknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu sebagai istri, ia dipanggil atasan suaminya. Dan ditanyakan bagaimana maunya dan solusinya? Dengan tenangnya, temanku hanya mengatakan ”Aku hanya ingin melakukan tindakan yang bisa  meminimalkan kehancuran?” Sungguh mati, ketika  aku mendengar ia berkata demikian, aku tidak mengerti apa yang dipikirkan atau di rencanakannya. Karena ucapannya aku pahami sebagai ”Aku siap memaafkan, suamiku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku pikir dengan datangnya perempuan yang mengaku selingkuhan suaminya, sudah menunjukan rumah tangganya diambang kehancuran. Dan dia tahu itu. Namun tak ada kata cerai keluar dari mulutnya.Hingga dalam satu kesempatan ketika kami hanya berdua, aku menanyakan alasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya: ”Pertama, Aku ingin mengantarkan Abang sampai mendapatkan Bintang di pundaknya. Biar bagaimanpun Abang, adalah ayah dari ke-3 anakku! Saat ini suaminya berpangkat Kombes Polisi dan menjadi orang no 3 di salah satu Polda di Indonesia Timur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, aku tetap berdoa dan berharap ia berubah. Jika Tuhan saja bisa memaafkan mengapa kita yang hanya manusia tidak mau memaafkan sesamanya. Sebagai orang beriman, saya percaya Tuhan tidak akan diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketiga Dari awal niatku berumah tangga, melahirkan, merawat dan membesarkan anak-anak. Aku sudah bertekad mengorbankan kebahagianku. Beberapa tahun lagi anak-anakku menjadi sarjana dan Abang pensiun. Jika 23 tahun saja sudah aku lalui, maka menunggu beberapa waktu lagi ke depan aku pasti akan sanggup.  Dan dalam masa penantianku itu, tak ada yang pernah tahu Kuasa Tuhan. Aku tetap percaya Mujizat itu ada dan aku akan  pantas mendapatkan kebahagian di akhirnya walau hanya sedikit saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sulit bagiku menerima penjelasannya. Aku juga seorang ibu dengan dua anak. Bukan aku tidak mau mengorbankan hidup dan kebahagiaanku untuk anak-anakku, yang kupikirkan hanyalah terbuat dari apakah hati dan jiwanya? Rasanya berlianpun tidak bisa mejadi pembanding. Kasih sayang dan pengorbanannya adalah bentuk nyata kasih seorang ibu. Dan akupun hanya bisa berdoa, semoga Tuhan tidak tinggal diam!.  (Icha Koraag 1 September 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115710501229493783?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115710501229493783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115710501229493783' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115710501229493783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115710501229493783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/09/kisah-seorang-teman-kasih-ibu.html' title='Kisah Seorang Teman: KASIH IBU.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115675668712034147</id><published>2006-08-28T02:14:00.000-07:00</published><updated>2006-12-18T21:30:27.053-08:00</updated><title type='text'>Ungkapan Rindu Seorang Ibu</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/DSC01029.0.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/DSC01029.0.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;UNGKAPAN RINDU SEORANG IBU&lt;br /&gt;Untuk ke sekian kali, aku kembali ke Jogja. Kali ini salah satu penginapan di Jalan Prawirotaman yang kupilih. Berasarkan rujukan dari teman-teman, selain harganya terjangkau, pelayanan dan fasilitas juga baik. Karena kedatanganku kali ini untuk bekerja, maka aku memilih sebuah kamar dengan ac tanpa pesawat tv. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa kalau aku bertugas keluar kota. Sejak malam sebelum aku berangkat, aku sudah memberitahukan kedua anakku, kalau aku akan pergi untuk dua malam.&lt;br /&gt;Si kecil Vanessa sedang minum susu di sebelahku dengan kebiasaanya memilin-milin rabutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Van, mama besok kerja dan tidak pulang" Aku diam sejenak melihat reaksinya. Ia hanya mengangkat kedua alisnya. Lalu aku melanjutkan, "Besok kalau mama pergi, papa kerja dan Kakak Bas sekolah, Van di rumah sama Mba Ni". Kali ini Van melepas botol susunya dan berkata: "Aku juga mau sekolah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vanessa berusia 3 tahun dan sudah aku masukkan di kelompok bermain yang beraktivitas seminggu 3 kali. Senin, Rabu dan Jumat.&lt;br /&gt;"Loh Van, besok kan hari Selasa, Van masih libur" Kataku. Vanessa melanjutkan minum susunya. Ku peluk tubuh mungilnya dan kusembunyikan wajahku di perutnya. Ku dengar ia tertawa, mungkin terasa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kurasa, pelukan seseorang di belakangku. Ku tangkap sepasang tangan kecil yang memegang perutku.&lt;br /&gt;"Loh ada siapa yah di belakang mama?' Tanyaku sambil mecium tangannya.&lt;br /&gt;Suara tawa yang khas terdengar di telingaku " Tangan aku, Ma" Kata Bastiaan, putera sulungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ada perasaan geli yang menyentuh hati ini. Mungkin anak-anakku mengira, aku tidak tahu siapa mereka jika aku tidak melihat wajah mereka. Karena itu kadang ada perasaan cemas mengusik kalbuku saat berjauhan dengan anak-anakku, ingatkah mereka padaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ku berbalik, yang kulihat sesosok tubuh terbungkus selimut. Aku mengikuti permainan Bastiaan. "Wah, tidak ada orang rupanya. Jadi tadi siapa yang memeluk mama yah?" tanyaku seolah kebingungan. Vanessa yang kini sudah melepas botol susunya tertawa. "Mama tidak tahu yah? " Tanyanya polos. "Iya nih, mama tidak tahu, emangnya Van tahu?" Tanyaku lagi. Spontan Vanessa menyingkap selimut yang menutup tubuh kakaknya. Aku pura-pura terkejut. Vanessa dan Bastiaan tertawa tergelak-gelak. Aku langsung menyergap keduanya dalam pelukanku, mencium seluruh bau tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaan dengan mereka adalah kekuatanku untuk bekerja. Meninggalkan mereka memang terasa berat, tapi demi memberi failitas hidup dan pendidikan yang baik, aku harus relakan meninggalkan mereka sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ada bagian dalam diriku yang menyesalkan karena kerap meninggalkan mereka. Walau hanya 2 atau 3 hari. Aku selalu merasa iri pada ibu-ibu yang bisa selalu berdekatan dengan anak-anaknya. Berapapun uang yang kudapat tak pernah seimbang dengan hilangnya waktu kebersamaanku dengan anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseharian, pukul 6.30 pagi sulungu sudah berangkat sekolah. Dan aku akan bertemu dengannya, saat aku pulang kerja sekitar pukul 6.30 malam. Waktu pertemuan yang hanya sesaat sungguh aku manfaatkan. Memeluk, mencium, berbicara, belajar, mendengarkan ceritanya, memberi makan, sedikit ngomel dan banyak bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pakar psikologi yang mengatakan hubungan dengan anak yang penting kualitas. Buat aku kuantitas dan kualitas sama pentingnya. Dan itu akan sangat terasa seperti sekarang, saat aku tidak bersama kedua buah hatiku. Tapi aku selalu percaya, mereka aman dan nyaman bersama papanya selama aku tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan kepada para ibu yang tidak bekerja di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senantiasa bersyukurlah karena engkau selalu bersama anak-anakmu.&lt;br /&gt;Banyak ibu seperti aku, merindukan waktu yang banyak bersama anak&lt;br /&gt;tapi itu bukan milikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tak ingin merasa iri, tapi aku manusia biasa.&lt;br /&gt;melihat para ibu yang bercengkrama dengan anak-anaknya&lt;br /&gt;adalah pemandangan yang tidak menyenangkan &lt;br /&gt;namun aku tak ingin berpaling dari permandangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyakitkan sekaligus merindukan.&lt;br /&gt;Seakan mengkristalkan bongkahan rindu dalam kalbu&lt;br /&gt;Permandangan seperti itu pula&lt;br /&gt;yang selalu menghangatkan relung jiwaku&lt;br /&gt;dan menghidupan api harapanku&lt;br /&gt;bahwa disana buah cintaku&lt;br /&gt;kuyakini juga menantikanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu yang sedang berjauhan dengan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Saat sebongkah rindu menggumpal dalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Icha&lt;br /&gt;Jogja, 23 Agustus 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115675668712034147?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115675668712034147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115675668712034147' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115675668712034147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115675668712034147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/08/ungkapan-rindu-seorang-ibu.html' title='Ungkapan Rindu Seorang Ibu'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115459800958186630</id><published>2006-08-03T02:04:00.000-07:00</published><updated>2006-08-03T02:59:52.673-07:00</updated><title type='text'>1-2 Juli 2006 di Curug Cilember</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/Cilember.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/Cilember.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/Cilember%20juga.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/Cilember%20juga.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BERBAGI DENGAN SESAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata para sosiolog, manusia dilahirkan sebagai mahluk sosial. Lebih kurang artinya sebagai mahluk yang selalu berhubungan dengan mahluk lain. Nah sampai batas ini harus diperjelas lagi, mahluknya itu bukan mahluk halus alias jin atau setan Iprit. Mahluk disini manusia, hewan atau tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat setuju dengan pendapat tersebut. karena kenyataannya, manusia didalam kehidupan sehari-harinya selalu berhubungan dengan mahluk lain (bukan mahluk halus loh!) Ketika terlahir sebagai bayi, manusia memerlukan dekapan kasih sayang ayah bundanya plus ASI ibunya. Ketika usianya terus bertambah, kebutuhan sosial sebagai manusia juga terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang saya alami. Saya sangat menyukai berhubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan sesama membuat saya merasa hidup dan dibutuhkan. Mengapa merasa dibutuhkan, sejujurnya  saya merasa ketika tidak ada lagi yang membutuhkan saya, lalu untuk apa lagi saya hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya saya ingin mengisi hidup dengan berbuat sesuatu bagi sesama. Dari segi materi jika ada, saya rela berbagi. Tapi jika dari materi tidak punya, berbagi pengalaman juga bisa. Membuat orang lain tertawa juga baik kok. Itulah mengapa saya merasa selalu perlu berada di tengah komunitas. Saya ingin keberadaan saya diakui dan dibutuhkan. Bukan Narsis. Saya juga punya kekurangan, namanya saja manusia biasa, pastinya tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita bisa berbagi (Bukan hanya dari segi materi saja) dan orang yang kita bagi bisa meningkatkan taraf hidupnya karena nilai-nilai yang dianut, tentu kita akan turut merasa senang. Karena pada dasarnya kita patut bersyukur jika ada orang yang terselamatkan karena bantuan kita baik dari segi materi atau moril. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gunanya kita berbagi dengan sesama. Kita akan terus berusaha agar orang lain tidak mengalami kesusahan seperti kita (Jika kita pernah) dengan belajar dari pengalaman kita.Karena itu sebelum ajal menjemput mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari satukan cara pandang kita sebagai manusia ciptaan Tuhan. Apapun perbedaan kita, kita sama di mata Sang Pencipta. Bukankah perbedaan akan menjadi baik jika ada toleransi. Karena berbeda tidak menjadikan kita tidak berarti. Justru seharusnya dengan perbedaan kita harus lebih bisa menjadi orang yang berarti bagi orang lain&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115459800958186630?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115459800958186630/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115459800958186630' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115459800958186630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115459800958186630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/08/1-2-juli-2006-di-curug-cilember.html' title='1-2 Juli 2006 di Curug Cilember'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115312847961391826</id><published>2006-07-17T02:19:00.000-07:00</published><updated>2006-08-03T03:26:19.753-07:00</updated><title type='text'>Rasanya Baru Kemarin</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/F%204.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/F%204.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;10 tahun pernikahanku &lt;br /&gt;Tepatnya 8 Juli 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPOTONG DOA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika bertukar pandang di bangku kuliah &lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika aku terpesona melihatmu berlari di lapangan basket &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kau marah lantaran aku tak memberi kabar &lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita sepakat menjalin kasih &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita bertengkar karena cemburu &lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita bingung memilih, menikah atau terus pacaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita sibuk mengurus gedung, catering dan undangan &lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita jadi raja dan ratu sehari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita meneguk manisnya bulan madu &lt;br /&gt;Rasanya baru kemarin &lt;br /&gt;ketika kita merayakan setahun pernikahan ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata 10 tahun telah berlalu &lt;br /&gt;kita sukses mengarungi 10 tahun dalam sebuah bahtera pernikahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;masih banyak hal baru yang kutemui dalam dirimu &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;engkau masih mampu membuatku cemburu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam keberamaan &lt;br /&gt;kita masih merajut tali kasih &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;ada Bas dan Van yang menghangatkah kita &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;Masih banyak rencana yang kita susun &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;Masih banyak yang ingin kita wujudkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;Aku makin mencintaimu &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;Semakin ku bersyukur karena kita saling memiliki &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;api cinta kita tetap berkobar &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;dapur hati kita masih selalu hangat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;kita tetap terus belajar saling mencintai &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;kita tetap  sejalan dan setujuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;kita masih tetap berpasrah kepada Yang di Atas &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;kita berdoa agar tetap berjodoh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;berharap menjadi 20 tahun dan seterusnya &lt;br /&gt;10 tahun dalam kebersamaan &lt;br /&gt;berharap hanya kematian yang memisahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Juli 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115312847961391826?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115312847961391826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115312847961391826' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115312847961391826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115312847961391826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/07/rasanya-baru-kemarin.html' title='Rasanya Baru Kemarin'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115285218436115790</id><published>2006-07-13T21:42:00.000-07:00</published><updated>2006-08-29T00:57:19.770-07:00</updated><title type='text'>Topeng Kemunafikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/DSC00838.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/DSC00838.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;TOPENG KEMUNAFIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebersamaanku dengan suami, sudah melewati masa-masa emosional. Sekarang hubungan kami jauh lebih cool. Saling pengertian sudah lebih menonjol. Sesekali memang masih ada temperamen tinggi yang keluar jika kami berdebat. Namun aku pikir semua itu masih dalam tahap yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku pun sudah jauh lebih terbuka di banding tahun-tahun awal pernikahan kami. Di awal pernikahan kami, memang kami masih sama-sama mengenakan topeng kemunafikan. Topeng-topeng itu sangat tebal dan seakan tidak ingin kami lepaskan. Kami sama -sama tidak ingin terlihat "buruk". Namun waktu yang terus berjalan, memaksa kami melepas topeng kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelepasan topeng kemunafikan itu terasa sangat menyakitkan, karena terlampau lama mengenakan topeng hingga topeng itu nyaris menyatu dengan kulit. Memulihkan mental pasca pelepasan topeng kemuafikan sangat membutuhkan kebesaran hati dan kerelaan diri untuk menerima apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya rasa cinta dan kasih sayang justru mematangkan diri, yang akhirnya membuat menjadi lebih baik dan lebih pengertian. Hal itu pula yang mendewasakan kami dalam mensikapi semua permasalahan. Bukan lagi siapa yang benar atau siapa yang lebih kuasa. Tapi bagaimana menyenangkan pasangan menjadi yang utama membuat kami selalu merasa dihargai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan waktu pula yang menempa kami mejadi dewasa dalam bersikap dan bijaksana dalam bertindak. Rasa syukur tak pernah putus aku naikkan kepada Dia yang di atas yang memberi jodoh, Frisch sebagai suami dan ayah dari anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku memasuki tahap evaluasi. dimana aku mulai menilai diriku sendiri. Apakah aku sudah menjadi ibu yang baik? Istri yng baik? Apakah aku sudah melayani keluargaku dengan baik? Apakah aku sudah mensuport suamiku agar lebih maksimal dalam berprestasi? Apakah aku sudah memberi fasiitas pendidikan dan kehidupan yang baik buat anak-anakku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat keluarga besarku, aku mulai menghitung dan berusaha "membayar", apa yang sudah diberikan orang tuaku dan saudara-saudara sekandung. Juga apa yang sudah dilakuan mertua dan ipar-iparku. Yang pasti aku sangat mensyukuri karena mami melahirkan aku dan memberiku 10 saudara perempuan. Sedangkan pada ibu mertua, aku bersyukur karena melahirkan laki-laki yang kini menjadi suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada nilai materi yang sepadan untuk membayar semua itu. Tapi keluarga kami yang bahagia dan saling menyayangi adalah salah satu wujud bayaranku. Karena kebahagiaan kelurga kami adalah kebahagiaan mami dan ibu mertuaku. Aku tak akan lupa bagaimana mami dan ibu mertuaku yang panik ketika aku dan Frisch bertengkar. Masa-masa itu sudah lewat dan aku tak ingin mengulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur aku merasa di kejar waktu. Aku tidak pernah tahu, sampai kapan ajal menjemput. Aku tidak pernah takut bertemu ajal. Yang aku takutkan belum tuntas apa yang harus aku lakuan di dunia ini. Tak seorangpun yang tahu, kapan ajal akan menjemput. Namun kalau boleh aku berharap, sebelum ajalku tiba, aku ingin berbuat sesuatu yang berarti bagi suami dan anak-anakku, juga keluarga besarku, komunitasku dan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh berharap, Semoga Tuhan terus memampukan aku untuk melakukan sesuatu yang berarti. Paling tidak bagi suami dan kedua anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, istri dan ibu yang beruntung!&lt;br /&gt;Menjadi istri dan ibu yang terbaik bagi suami dan anak-anakku, adalah doa tak terucap. Karena aku ingin hal itu menjadi nyata dalam realita. Sebagai perempuan, aku merasa sempurna dengan semua anugerah yang aku terima dari sang Chalik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115285218436115790?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115285218436115790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115285218436115790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115285218436115790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115285218436115790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/07/topeng-kemunafikan.html' title='Topeng Kemunafikan'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115285180654418474</id><published>2006-07-13T21:22:00.000-07:00</published><updated>2006-08-25T02:15:24.463-07:00</updated><title type='text'>Perasaan Bersalah.</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/DSC01564.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/DSC01564.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERASAAN BERSALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada perasaan bersalah yang menyelinap dikalbuku jika aku harus bertugas Keluar kota. Kadang aku berpikir apakah para bapak/suami juga punya perasaan yng sama jika harus meninggalkan istri dan anak-anaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depan aku harus bertugas ke Jogja untuk suatu penelitian kualitatif mengenai Komunikasi pasca bencana gempa. Seperti yang lalu-lalu, Frisch ok-ok saja. Semakin dia ok-ok saja, hati ini rasa seperti diiris sembilu. Kok yah aku harus meninggalkan keluarga terus. Soalnya jadual ke depan aku sudah tahu, bulan Agustus aku masih harus ke ke Bali dan ke Jogja lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamiku pernah beromentar "Sadar, kamu itu istri dan ibu!" Aku tahu kemana arah mami mengatakan hal itu. Ini yang kadang-kadang aku rasakan tidak adil. Selain sebagai istri dan ibu, aku juga punya tanggung jawab sebagai karyawan dan tanggung jawab sosial terhadap komunitasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kan tidak bisa menggunakan alasan anak untuk menghindari tugas. Aku jadi ingat tahun-tahun yang lalu, ketika frekwensi keluar kota Frisch  sangat padat dan lama. Untuk sekali perjalanan tugas bisa sampai 3 minggu. Th 2003 sekitar bulan Mei. Frisch harus melakukan perjalanan, Bukit Tinggi, Padang, Medan, Padang Sidempuan, Pematang siantar dan Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku melepas dengan setengah hati. Soalnya aku dalam kondisi hamil hampir 7 bulan dan harus bed rest karena pendarahan. Di tinggal bersama Bas yang baru berusia mau 3 tahun. Tapi kulihat Frisch, semangat saja pergi bertugas. Kecemasanku semakin bertambah karena 18 Mei Frisch tiba di Aceh, 19 Mei di tetapkan sebagai Darurat Militer. Praktis komunikasi terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasanku seakan sempurna, karena tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba Bas bertanya papanya kemana? Rasanya seminggu ke depan terasa sebagai waktu penantian terlama. Karena setelah seinggu Frisch kembali ke Medan, barulah komuikasi bisa terhubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan-tekanan yang aku rasakan bukan hanya dari keluarga tapi juga dari para tetangga yang barangkali waktu berkomentar memang tidak bertujuan apa-apa. Tapi tetap saja, kurasakan seperti kerikil di sepatu. "Wah kelur kota lagi yah? Anak-anak sama siapa?" Padahal mereka tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frisch tidak mau, selagi aku keluar kota, anak-anak di titip di omanya (mami saya) Frisch dengan segala keyakinannya berkata" "Kamu percayakan saya sanggup mengurus anak-anak!" Dulu ada adik saya tapi kini sudah ada pembantu yang turut mengurus anak-anak. Jadi saat Frisch tidak ada, anak-anak bersama "Mbaknya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku sendiri heran, kenapa sih orang merbutkan rumah tangga kami. Pernah suatu kali Frisch belanja ke sebuah Hypermat hnya bersama anak-anak. Mulai dari SP sapai kasir semua mempertanyakan kemana ibunya. Sampai Frisch bilang: "Memangnya kenapa? Ibunya di rumah sedang istirahat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin ku buang beban perasaan seperti ini. tapi aku harus realistis. Aku hidup didunia nyata, dimana tidak semua orang bisa menerima kesetaraan. Memang waktu masih dibutuhkan untuk membuka lebar pemahaman sesama wanita mengenai apa makna kesetaraan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115285180654418474?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115285180654418474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115285180654418474' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115285180654418474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115285180654418474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/07/perasaan-bersalah.html' title='Perasaan Bersalah.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115131610097061493</id><published>2006-06-26T02:58:00.000-07:00</published><updated>2006-06-26T03:01:41.720-07:00</updated><title type='text'>Seseorang yang mencintaimu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#009900;"&gt;Seseorang yg mencintai kamu, tidak bisa memberikan alasan mengapa ia mencintaimu. Dia hanya tau, dimata dia, kamulah satu satunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, sebenarnya selalu membuatmu marah / gila / jengkel / stres.Tp ia tdk pernah tau hal bodoh apa yg sudah ia lakukan, karna semua yg ia lakukan adalah utk kebaikanmu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, hanya menjatuhkan air matanya di hadapanmu. Ketika kamu mencoba utk menghapus air matanya, kamu telah menyentuh hatinya, dimana hatinya selalu berdegup /berdenyut / bergetar utk kamu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, akan mengingat setiap kata yg kamu ucapkan, bahkan yg tdk sengaja dan ia akan selalu menggunakan kata2 itu tepat waktunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, tdk akan memberikan  janji apapun dgn mudah, karna ia tdk mau mengingkari janjinya. Ia ingin kamu utk mempercayainya dan ia ingin memberikan hidup yg paling bahagia dan aman selama lamanya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, mungkin tdk bisa mengingat kejadian / kesempatan istimewa, seperti perayaan hari ulang tahunmu, tp ia tau bhw setiap detik yg ia lalui, ia mencintai kamu, tdk peduli hari apakah hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, tdk mau berkata Aku mencintaimu dgn mudah, karna segalanya yg ia lakukan untuk kamu adalah untuk menunjukan bahwa dia siap mencintaimu, tetapi hanya ia yg akan  mengatakan  kata "I Love You" pada situasi yg spesial, karna ia tdk mau kamu salah mengerti, dia mau kamu mengetahui bhw ia mencintai dirimu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg bener2 mencintai kamu, akan merasa bhw sesuatu harus dikatakan sekali saja krn ia berpikir bhw kamu telah mengerti dirinya. Jika berkataterlalu banyak, ia akan merasa bhw tdk ada ygakan membuatnya bahagia / tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.incredimail.com/index.asp?lang=9&amp;version=4001856&amp;amp;aff_id=1&amp;addon=IncrediMail&amp;amp;id=95202&amp;guid=1DE1DB10-E429-4C58-AECE-DE3F4C2843E7" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#009900;"&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, akan pergi ke airport utk menjemput kamu, dia tdk akan membawa seikat mawar dan memanggilmu sayang seperti yg kamu harapkan. Tetapi, ia akan membawakan kopermu dan menanyakan:"Mengapa kamu menjadi lebih kurus dalam waktu 2 hari?" Dengan hatinya yg tulus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintai kamu, tdk tahu apakah ia harus menelponmu ketika kamu marah, tetapi ia akan mengirimkan pesan setelah bbrp jam.Jika kamu menanyakan: mengapa ia telat menelepon, ia akan berkata: Ketika kamu marah penjelasan dari dirinya semua hanyalah sampah. Tetapi, ketika kamu sudah tenang,penjelasannya baru akan benar2 bekerja /manjur / berguna.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.incredimail.com/index.asp?lang=9&amp;version=4001856&amp;amp;aff_id=1&amp;addon=IncrediMail&amp;amp;id=95202&amp;guid=665560FD-A6B6-4711-A85E-955A5C787C43" target="_blank"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#009900;"&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seseorang yg mencintaimu, akan selalu menyimpan semua benda yg telah kamu ber ikan, bahkan kertas kecil bertuliskan " I LOVE U " ada di dalam dompetnya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seseorang yg mencintaimu, jarang mengatakan kata2 manis.Tp kamu tau, 'kecupannya' sudah menyalurkan semua......   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintaimu, selalu mengkwatirkan keadaanmu dia ingin kamu terjaga dan tak ingin sesuatu yg buruk terjadi denganmu,dia akan menjadi orang peduli dengan mu saat kamu membutuhkanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintaimu,tidak ingin orang lain tau kalau dia memperhatikanmu,dia ingin menunjukan sesuatu dengan sikapnya bukan dengan kata manis belaka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yg mencintaimu, kadang tersakiti tp dia mengutamakan semua itu demi seorang yg dia cintai,caci dan cela dia terima dengan hati terbuka tanpa berfikir klo km menyakitinya.  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115131610097061493?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115131610097061493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115131610097061493' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115131610097061493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115131610097061493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/seseorang-yang-mencintaimu.html' title='Seseorang yang mencintaimu'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115105185956575419</id><published>2006-06-23T01:30:00.000-07:00</published><updated>2006-06-23T01:37:39.576-07:00</updated><title type='text'>Cinta Bukan sekadar Perasaan.</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;color:#33ff33;"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Pacaran itu suatu hal yang mengesankan&lt;br /&gt;dan harus dipertahankan jika memang udah sepadan.&lt;br /&gt;Seperti kata kata berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak pernah akan begitu indah&lt;br /&gt;jika tanpa persahabatan.....&lt;br /&gt;yang satu selalu menjadi penyebab yang lain dan prosesnya...&lt;br /&gt;adalah &lt;em&gt;irreversible......&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Seorang pecinta yang terbaik adalah sahabat yang terhebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu mencintai seseorang,&lt;br /&gt;jangan berharap bahwa seseorang itu akan mencintai kamu&lt;br /&gt;persis sebaliknya dalam kapasitas yang sama.&lt;br /&gt;Satu diantara kalian akan memberikan lebih,&lt;br /&gt;yang lain akan dirasa kurang...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Begitu juga dalam kasus&lt;br /&gt;kamu yang mencari&lt;br /&gt;dan yang lain akan menanti......&lt;br /&gt;Jangan pernah takut untuk jatuh cinta....&lt;br /&gt;mungkin akan begitu menyakitkan&lt;br /&gt;dan mungkin akan menyebabkan kamu sakit dan menderita.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika kamu tidak mengikuti kata hati&lt;br /&gt;pada akhirnya kamu akan menangis.......&lt;br /&gt;jauh lebih pedih...&lt;br /&gt;karena saat itu kamu menyadari&lt;br /&gt;bahwa kamu tidak pernah memberi....cinta&lt;br /&gt;dan kesempatan untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;Cinta bukan sekedar perasaan....!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115105185956575419?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115105185956575419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115105185956575419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115105185956575419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115105185956575419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/cinta-bukan-sekadar-perasaan.html' title='Cinta Bukan sekadar Perasaan.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115105071571391305</id><published>2006-06-23T00:49:00.000-07:00</published><updated>2006-06-23T01:18:35.740-07:00</updated><title type='text'>Dengarkan Suara Cinta.</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pernah mendengarkan suara-suara cinta di sekitar kita?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dengerkan deh, cinta-cinta yang ada di sekitar kita. Kalo kita bener-bener berusaha mendengarkan, kita bakal temui bahwa kita sebenarnya memang dicintai.&lt;br /&gt;Mendengarkan cinta bisa membuat kita sadar bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Cinta adalah anugerah.&lt;br /&gt;Membuat kita tertawa.&lt;br /&gt;Membuat kita bernyanyi.&lt;br /&gt;Membuat kita sedih.&lt;br /&gt;Membuat kita menangis.&lt;br /&gt;Membuat kita bertanya "kenapa?"&lt;br /&gt;Membuat kita menerima.&lt;br /&gt;Membuat kita memberi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Dan yang paling penting, membuat kita hidup.&lt;br /&gt;Bukanlah kehadiran atau ketidakhadiran yang penting, kita nggak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri. Sendiri itu memang perlu, lho. Dan itu jangan sampe membuat kita jadi kesepian. Yang jadi masalah bukan berada bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;Jangan pernah ragu nyatakan cinta.&lt;br /&gt;Jujurlah dengan apa yang kita rasa dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan untukmengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita. Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena mereka berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#ff0000;"&gt;Dan saat cinta yang kita berikan diterima atau dibalas,&lt;br /&gt;itulah saat hidup menjadi penuh makna.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115105071571391305?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115105071571391305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115105071571391305' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115105071571391305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115105071571391305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/dengarkan-suara-cinta.html' title='Dengarkan Suara Cinta.'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115103999521538261</id><published>2006-06-22T21:37:00.000-07:00</published><updated>2006-06-22T22:19:55.240-07:00</updated><title type='text'>Kisah kasihku Bag.1</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;PANDANGAN PERTAMA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua minggu lagi, tepatnya 8 Juli 2006 adalah tepat 10 tahun usia pernikahanku dengan Frisch. Bagi sebagian orang 10 tahun bisa jadi di anggap baru sebentar. Tapi buat aku 10 tahun adalah waktu yang pantas untuk di syukuri. Kalau dihitung dari pertama aku dan Frisch bersama, maka tahun ini adalah tahun ke-18 dari pandangan pertama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kemarin teman sekerjaku bertanya mengenai pertama aku mengenal "ayah" dari sepasang buah hati kami. Aku tersenyum dan sejenak memejamkan mata. Moment itu tetap abadi dalam ingatanku. Tanggal persisnya aku tidak ingat tapi aku tahu hari Selasa bulan Februari 1986 mata kuliah Metodologi Penelitian Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat menyadari secara fisik tidak secantik gadis-gadis di kampusku. Aku tomboy, kurus dan berkacamata. Karenanya aku sangat rendah diri kalau berhadapan dengan cowok-cowok. Jadi tidak sedikitpun punya niatan gandeng cowok. Syukur kalau ada yang mau tapi sih gak sampai cuci gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian aku tetap punya kriteria cowok idaman. Cuma ada apa enggak yang sesuai kriteria yah itu lain perkara. Hari itu aku datang nyaris terlambat, ruang kuliah sudah penuh. Soalnya ini mata kuliah wajib. Kursi-kursi sudah ditambah, tetap saja sudah keluar dari ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun melihat penuhnya mahasiswa. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah tangan yang terangkat ke atas, melambai memanggilku dan menunjukkan kursi tepat disebelahnya yang masih kosong.Mulanya aku agak ragu tapi akhirnya aku mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas aku menangkap, cowok ini, asli cakep! Bercelana blue jeans dan kemeja biru lengan panjang yang di gulung  sampai lengan. Sorot matanya tajam, ada kumis yang cukup lebat di atas bibirnya yang tipis. Dalam hati aku bergumam:"Hm pasti senior yang pulang kerja!" Aku  mengucapkan terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum, matanya nampak jenaka. Hanya itu yang aku ingat. Selanjutnya kami melewati hari bersama, detilnya tidak aku ingat. Karena sungguh tidak sedikitpun aku membayangkan atau merencanakan berpacaran dengannya. Kenyataannya sejak itu kami melewati hari bersama tapi hanya sebatas tembok kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah menerima ajakannya untuk jalan berdua baik nonton bioskop atau nonton pameran.Sampai satu ketika aku dan Dia pergi dengan teman-teman kampus yang menjadi reporter freelance di acara pemilihan Gadis Sampul. Aku tidak tahu ada unsur kesengajaan atau tidak karena yang masuk hanya kami berdua berdasarkan dua undangan yang ada di tangan teman-teman. Sedangkan teman-teman yang lain masuk tanpa undangan hanya menunjukan kartu pers saja.Jelas aku dan dia terpisah dari teman-teman yang masuk dengan rombongan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai acara, dia berani juga mengantarkan aku ke rumah, bertemu dengan mami, di "Omelin" karena waktu sudah menunjukan hampir pukul 24.00. Dia hanya minta maaf, tersenyum dan pamit. Besok di Kampus, dia makin menunjukan perhatian, bahkan issue mulai berkembang kami pacaran. Aku cuek aja karena tidak ada komitmen apa-apa. Aku merasa nyaman dan asyik bersamanya. Orangnya gaul, pintar, cakep, bintang lapangan dan yang naksir ada sederet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua kerap duduk menghadap lapangan, dimana disebelah lapangan ada jalan yang selalu di lalui mahasiswa mahasiswi yang mau kuliah. Dia memberi tanda cewek-cewek mana saja yang lagi diincar. Pokoknya cewek cakep berambut lurus dan panjang. Biasanya aku cuma tertawa. Tapi ceritanya menjadi lain ketika ada laki-laki lain yang mendekatiku. (Bersambung)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115103999521538261?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115103999521538261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115103999521538261' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115103999521538261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115103999521538261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/kisah-kasihku-bag1.html' title='Kisah kasihku Bag.1'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115037037755249298</id><published>2006-06-15T04:16:00.000-07:00</published><updated>2006-06-15T04:19:37.556-07:00</updated><title type='text'>True Story</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;CERPEN: Perempuan Bertanya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Based On True Story&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Weleh.....weleh, jadi seru juga komentar "Cerpen: Perempuan Bertanya".Tidak ada maksud hati saat menuliskan kisah ini untuk mendiskreditkan keyakinan seseorang. Kisah ini saya tuliskan sebagai ungkapan keprihatinan, kemarahan dan kejengkelen saya lantaran saya tidak bisa berbuat apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Dengan saya tuliskan kisah ini, saya berharap yang membaca merenungkan hakekat pernikahan. Ketika berani berkomitmen ya harus berani menanggung resiko. Setiap keputusan selalu ada dua sisi. Kita memilih berada di sisi yang mana hanya kita yang menentukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Saya tidak bisa memaksa orang mengikuti apa yang saya prediksi atau yang saya yakini. saya cuma bisa memberi telinga saya untuk mendengar dan hati saya untuk mengasihi. Mudah-mudahan itu bisa berarti buat yang memerlukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Salam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Icha.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115037037755249298?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115037037755249298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115037037755249298' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115037037755249298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115037037755249298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/true-story.html' title='True Story'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115036999760888968</id><published>2006-06-15T03:55:00.000-07:00</published><updated>2006-06-15T04:14:43.310-07:00</updated><title type='text'>Terima Kasih</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt; KOMENTAR &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;"CERPEN: PEREMPUAN BERTANYA"&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Jujur harus saya katakan tulisan itu adalah bentuk keprihatinan dan kemarahan saya.Karena cerita itu sungguh terjadi. Saya marah dan menangis karena tak mampu berbuat sesuatu.Waktu dia belum menikah, kami bersenda gurau bersama. Bertukar cerita akan harapan kelak kalau berumah tangga. Waktu itu saya dan dia sama-sama bekerja di sebuah radio siaran yang bersegmentasi pendengar perempuan.Program radio ini banyak yang isinya bertujuan meningkatkan pengetahuan untuk perempuan. Baik dari segi hukum, agama, psikologi, kesehatan dan keluarga. tapi ternyata bagi sebagian kawan-kawan semua itu hanya masuk telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Ketika menikah, "ilmu dan pengalaman" yang di dapat tidak digunakan.Tapi terlepas dari semua itu, mungkin saya juga terbawa perasaan waktu menulisnya.Sekali lagi terimakasih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Salam: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Icha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;ati gustiati &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:hatiku_rumahku@yahoo.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;hatiku_rumahku@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Bagaimanapun cara kau menulis cerita itu Elisa, itu cerita nyata yang terjadi banyak dalam perkawinan, dan itu membutuhkan perhatian hukum dan moral utk melindungi para suami maupun istri yg dilecehkan hak2 nya selama menjalani perkawinan.Stop blaming your self, banyak hal yg tidak bisa kontrol dalam hidup ini, persahabtan kalian (kamu dan teman mu) itulah yg bisa kau lakukan, be there for her.your friendship, your concern, your care, very much appreciated.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;salam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;omie&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Kang becak &lt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.f353.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=kbecak%40yahoo.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;kbecak@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&gt; wrote:Cerpen yang sangat bagus.Sayangnya,Logika penulisan harus sedikit diperbaiki.Misalnya,Sang Istri tidak pernah memberikan alasan yang jelas,Mengapa mau dianiaya Sang suami.Apalagi,Sang Istri adalah mantan penyiar radio.Tentunya memiliki pengetahuan dan pergaulan yang luas.Terakhir,Pengarang ternyata memasukkan monolognya ke dalam karangan.Para pembacapun tidak lagi dapat membedakan,Antara curhat dan cerpen.Antara kenyataan dan khayalan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115036999760888968?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115036999760888968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115036999760888968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115036999760888968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115036999760888968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/terima-kasih.html' title='Terima Kasih'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115036121405762846</id><published>2006-06-15T00:28:00.000-07:00</published><updated>2006-06-15T01:46:54.753-07:00</updated><title type='text'>Hardy, aku, Alfir dan Teguh</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/R%209.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/R%209.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KARENA CINTA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pertemuanku dengan Teguh, Hardy dan Alfir dimulai ketika kantorku mendapat proyek untuk pengumpulan data di Sumba Barat. Teguh dan Hardy berasal  dari Surabaya sedangkan aku di Jakarta.. Maka bergabunglah kami berempat di Sumba Barat. Kebersamaan kami walau hanya sesaat menimbulkan rasa sayang satu sama lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Mereka menganggap aku kakak dan aku yang kebetulan tidak punya saudara laki-laki, menganggap mereka adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini kami asyik ngobrol di tepi pantai Kuta, aku banyak bertanya tentang pemahaman mereka terhadap lembaga pernikahan, keluarga dan arti perempuan.“Kok diam saja? Kalian pemuda-pemuda yang pontensial. Kelak yang  melakukan pembangunan negeri ini”. Ujarku sambil memainkan pasir. “ Tapi kami kan belum memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat”. Jawab Teguh.&lt;br /&gt;“ Aku tahu. Keputusan  menikah dan berkeluarga adalah salah satu bagian. Bagaimana kamu bersikap terhadap sebuah lembaga perkawinan dan bagaimana kamu menghormati komitmen yang dibuat kelak harus diturunkan pada keluargamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud mba?” Tanya Hardy. “Artinya ketika kamu mempunyai pandangan tersendiri terhadap sebuah perkawinan, termasuk kebijakan administrasi pemerintahan yang mengatur pendaftaran pernikahan, dan syarat pernikahan maka nilai dan pandangan itu yang perlu kamu pahami dalam keluarga.  Dan kalau mungkin  diteruskan  ke anak-anakmu!” Sahutku. “ Apa  sikap dan pandangan kita terhadap keluarga dan perempuan juga bisa mempunyai pengaruh  terhadap  keseluruhan masyarakat nantinya?”. Kini Alfir yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelas dong! Perubahan itu harus dilakukan mulai dari diri kita. Tidak bisa berharap orang lain mau berubah jika kita tidak memberi contoh langsung”. Jawabku. “Misalnya mba?” Teguh jadi penasaran.“Aku bukan orang yang mengharamkan “perceraian” Jujur saja aku lebih menghargai atau menghormati keputusan orang yang bercerai karena memang tidak memungkinkan bersama lagi dalam sebuah pernikahan. Daripada mereka yang berusaha mempertahankan pernikahan dengan alasan, anak-anak atau martabat keluarga. Ketika kita berbicara mengenai anak-anak, seharusnya berani jujur, benarkah demi anak-anak?  Bukan justru demi diri sendiri? Hidup sendiri bukanlah mudah, apalagi sebelumnya sudah dilabelkan sebagai istri orang. Jangan sembunyi dibalik alasan demi anak-anak. Jujurlah pada nurani sendiri”. Itu Maksudku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya kan tidak sesederhana itu, masih banyak orang yang takut untuk jujur pada diri sendiri”. Hardy mengemukakan pendapatnya “ Benar. Aku setuju. Kira-kira ada tidak yah yang berpikir, kalau anak-anak berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya?” Anak kan berhak berada dalam sebuah keluarga yang harmonis. Ibu dan bapak yang tetap bertutur halus, bukan saling menyalahkan atau justru memperlihatkan “aksi diam” satu sama lain”.  Kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi apa  mungkin dilakukan oleh dua orang yang sudah memposisikan sebagai musuh?”  Tanya Teguh.&lt;br /&gt;“Menurutku mungkin. Karena aku meyakini setiap perbuatan ada resiko yang harus ditanggung. Ketika berkomitmen tidak akan berpisah walau perbedaan sudah selebar jurang, maka hormatilah komitmen itu. Agar anak yang dijadikan alasan, benar-benar mendapatkan haknya, bukan justru sembunyi dibalik alasan demi anak-anak”. Kataku lagi&lt;br /&gt;“Yah susah, mba”. Kata Alfir lagi. “ Harus di coba. Apa setiap pertengkaran harus diakhiri dengan perceraian? Jika tidak mau berpisah, cobalah evaluasi diri dan pasangan, masih adakah sedikit cinta? Jika ada, itu awal yang bagus. Karena cinta bisa ditumbuhkan dengan perhatian. Jika cinta sudah tidak ada, masih adakah respek? Karena respek juga bisa menimbulkan cinta kembali. Karena cinta kedua yang ditimbulkan dengan sengaja akan jauh lebih berharga. Karena cinta itu ditumbuhkan oleh kebutuhan dan tanggung jawab bukan sekedar cinta anak remaja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mba pernah mengalami persoalan seperti ini?” Pertanyaan Hardy mengagetkan ku. “Belum. Mudah-mudahan tidak akan pernah!” Jawabku berharap. “ Memang bukan hal mudah menimbulkan cinta kembali pada pasangan yang sudah sempat kita benci. Tapi bukan pula tidak bisa”. Tiba-tiba Teguh berkata pelan. Serentak aku, Hardy dan Alfir memandang Teguh.  Dan Teguh memandang balik kami bertiga. “ Berdasarkan pengelamanku orang tua anak bisa mendekatkan orang tua yang sedang bertengkar”. Kata Teguh. Kami bertiga masih menyimak. “ Anak punya kemampuan luar biasa untuk mengeratkan cinta. Nah ini persoalannya, anak bisa menguatkan cinta bukan menimbulkan. Yang bisa menimbulkan cinta yah dua orang yang berseteru itu”. Lanjut Teguh. “Buktinya Orang tuaku tidak pernah bersatu kembali, walau selalu setiap aku tanya, apakah mereka masih saling mencintai. Jawabnya ya. Tapi kembali bersatu tidaklah mudah!”   Kini Teguh menatap kosong ke arah lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  mempercayai, setiap kehidupan dalam  pernikahan pasti ada gangguan. Bagaimana kita mensikapi gangguan itu yang akan membuktikan kualitas pernikahan kita. Karena bagiku tidak ada istilah salah pilih orang. Kalau kita mengaminkan jodoh ditakdirkan oleh Tuhan, maka jalani apa yang sudah sementara ini kita jalani. Karena kalau nanti diberi umur panjang, saat rambut sudah memutih, umurpun sudah banyak, cerita lalu patut dikenang. Bolehlah kita berbangga karena mampu melewati ujian.  Karena ada cinta di keluarga kita.. Aku jadi ingin cepat-cepat pulang,  dimana orang-orang yang kucintai dan mencintaiku menantiku  dengan cinta.  (19 April 2005.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenang kebersamaan th 2004 di Bali!”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115036121405762846?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115036121405762846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115036121405762846' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115036121405762846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115036121405762846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/hardy-aku-alfir-dan-teguh.html' title='Hardy, aku, Alfir dan Teguh'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115028129733065021</id><published>2006-06-14T02:26:00.000-07:00</published><updated>2006-06-15T03:51:34.830-07:00</updated><title type='text'>Keprihatinan Si Nyonya</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/IC%208.0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/320/IC%208.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;PEREMPUAN BERTANYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Lagi-lagi aku merasa bingung. Baru saja aku mendapat berita. Seorang kawanku dihianati suaminya. Aku berusaha untuk tidak menyertakan perasaan. Aku coba menganalisa. Kira-kira apa yang menyebabkan suaminya berselingkuh?Beberapa tahun lalu ketika mereka memproklamirkan rencana pernikahan, sempat membuatku iri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak iri, baru pacaran enam bulan sudah berani menikah.Lagi-lagi aku termangu, kok tega betul. Masih terdengar tangisnya diujung telfon. “Bayangkan mba….aku melahirkan… suamiku menunggu sambil bertelfonan dengan wil nya….sakit gak sih…?”Dan setelah menjemputku dan bayinyaLalu mengantarkan kami pulang, ia pergi lagi ke wilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaanku….Kok kamu mau…?Yach aku tidak mau…! Jawabnya dengan emosi.Kapan kamu tahu ia mulai selingkuh…?Saat si sulung enam bulan…! Jawabnya pelan. Lah sekarang anakmu tiga….? Tanyaku dengan terkejut. Kamu cinta…? Cecarku tak sabar. Bukan cinta, mbak! Berharap ada perubahan dong…! Jawabnya lesu. Dengan terus menerus bersedia ditiduri, hamil lalu melahirkan dan mengurus bayi? Cecarku lagi! Apa kamu tidak berpikir untuk meningkatkan dirimu sendiri? Atau kamu merasa secara ekonomi sudah tercukupi sehingg merasa aman di rumahmu…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah kamu, kalau suamimu mengkondisikan mu terus menerus hamil supaya dia bisa berjalan terus dengan wilnya…? Tanyaku emosi. Lalu apa recanamu…? Yah bertahan mbak…! Barangkali ini memang nasibku….! Apa tidak niat berusaha keluar dari masalah ini…? tanyaku mendesak.Cerai…? Maksud mbak? Bagaimana nasib anak-anak, mba? Siapa yang akan kasih makan mereka?Terus saya akan tinggal dimana? Tanyanya kebingungan. Yah…ampun..! Seruku terkejut.Suamimu lupa, atau kamu yang lupa kalau dulu dia mengenalmu sebagai penyiar radio? Kamu wanita bekerja. Kamu punya kemampuan dan kamu memang mampu…! kataku berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di keyakinan kami, mbak. Perempuan tidak baik menggugat cerai. Dan perempuan tidak boleh menolak jika diajak berhubungan intim dengan suami. Kalau kami bisa memaafkan, sorga upahnya…! Katanya lirih. Aku tidak mempersoalkan keyakinanmu. Biar keyakinanmu berbeda dengankuTapi tidak ada atas nama apapun di muka bumi yang mengizinkan perempuan disia-siakan..Upah Sorga diinginkan semua umat manusia.Tapi kamu masih dibumi. Mengapa mau mencapai sorga lewat neraka bumi, Padahal ada jalan lain…?Tapi mungkin ini takdir, jalan hidup saya mbak…! Ujarnya pelan. Dadaku serasa panas terbakar. Kamu tidak bisa bicara takdir kalau kamu tidak mau menciptkan takdirmu sendiri.!!! Seruku setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya suaraku nyaris hilang ditenggorokan karena airmata sudah mengembang dikelopak mataku. Aku marah….Aku merasa sakit..Aku kecewa…. pada diriku sendiri karena aku tidak bisa berbuat apa-apa.Jadi apa yang melegalkan selingkuh …?Suami yang tidak setia lantaran istri punya kekurangan? Atau superpower laki-laki…? Mengapa tidak ada aturan hukumnya..? Apa perempuan memang warga kelas dua? Bukankah laki-perempuan punya kedudukan sama dimata hukum…? Atau hukum punya mata yang lain untuk melihat laki dan perempuan?Lalu bagaimana dengan perempuannya sendiri? Sadarkah perempuan kalau juga punya hak yang sama? Bukan hak untuk berselingkuh tapi hak untuk tidak diperlakukan seperti itu.Biar jelek, biar gendut atau kurus atau tak terurus. Menikah bukan untuk sehari dua hari atau setahun dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau romantis katanya, sampai kakek-nenek…atau sampai ajal memisahkan…! Konflik pasti ada,Namanya hidup dari dua latar belakang yang berbeda. Persoalannya dalam sebuah rumah tanggaAdakah kesadaran suami dan istri setara…? Apakah pernikahan hanya untuk menyalurkan nafsu hewani…? Sebetulnya apa sih tujuan pernikahan? Apa benar untuk berkembang biak…? Lalu apa artinya kasih sayang, Perhatian, Kepercayaan, Komunikasi….dan Cinta….? Haruskah menikah lagi karena salah satu mandul…?Atau bolehkan menikah lagi karena sekarang aku mencintai orang lain? Mengapa cinta bisa berubah…?Mengapa poligami atau poliandri selalu menjadi berita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan….siapakah engkau….? Berbentuk apakah engkau…? Terlahir untuk siapa engkau….? Ketika kau terluka..apa yang kau lakukan?Adakah airmatamu berarti…? Atau adakah jeritanmu di dengar…? Atau semua itu hilang dibawah lobi-lobi politik yang tidak menginginkan perempuan bermain diwilayah laki-laki…? Jakarta, Agustus 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;strong&gt;KOMENTAR:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Nana P" &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;fe36smg@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Especially to give comment on Marthanajan04's comment. (sorry to write it in English), kebetulan yang sudah kutulis di blog berbahasa Inggris. Dan belum sempet rewrite dalam Bahasa Indonesia.Recently I have been “carrying” a book entitled Quran Menurut Perempuan by Amina Wadud, the Indonesian translation of Quran and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman's Perspective in 1999. It is not a new book. I have known this book for some years. I’ve got the excerpt of it on the net. However, I “found” this book in a local bookstore last April 30, Sacred Text from a Woman’s Perspective published by Oxford University Press, New York 2006. It was just translated into Bahasa Indonesia and published in March 2006.The book has been in my work bag since I bought it. As usual, I let my concentration to read this book distracted by many other things, including reading many other books at the same time. LOL. I didn’t mean to show that book to my workmates demonstratively but of course since I often “carry” the book, and once in a while I put it on a big table in the teachers’ room of my workplace, some workmates of mine have seen this book.Yesterday a Catholic workmate of mine asked me, “What is the book about?” simply I answered, “Well, so far, Alquran has been interpreted by men so no wonder if the result is very male-dominated. And this book contains the different perspective; showing that if Alquran is interpreted by women, using women’s perspective, the result is absolutely different, even in some cases, shows contradictory interpretation.” This workmate of mine nodded, didn’t ask me further.This afternoon, another workmate of mine said to me jokingly, related to the same book, “I told you not to read books about gender much. It is not good.”I responded, “It is not good for you guys coz women realize their rights much better so that this world will not be male-dominated any longer.” LOL.It reminded me of the middle age before Bible was translated into many other languages. Common people couldn’t read it; moreover understand it. Only limited ministers whose way of thinking had been “shaped” by Church could read it. And since they all had been indoctrinated the same way, of course all of them resulted in the same interpretation; they taught the congregation about the same thing, only from one perspective.After reading the article entitled “Women In Islam Versus Women In The Judaeo-Christian Tradition: The Myth &amp; The Reality” by Dr. Sherif Abdel Azeem at &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.usc.edu/dept/MSA/humanrelations/womeninislam/womeninjud_chr.html#_Toc335566653" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;http://www.usc.edu/dept/MSA/humanrelations/womeninislam/womeninjud_chr.html#_Toc335566653&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt; accessed on May 18, 2003 it made me question myself. According to Sherif Abdel Azeem, the illustration about women in Judeaeo-Christian Tradition shows the very low position given to women, but why in the reality, people consider Islam as the most chauvinistic religion of all? Islam that “lets men have more than one wife” is considered to degrade women’s position much more than the other two celestial religions mentioned by Sherif Abdel Azeem?I related it to the fact that until now, Muslim people must recite Alquran, in its original language—Arabic. For me, Arabic is much more difficult to learn than English (coz I already become an English teacher? LOL) Many Muslim people recite Alquran everyday; however they don’t understand the meaning. To understand the meaning, they turn to the Tafsir (the interpretation of Alquran) produced by men. To help themselves understand Alquran and apply its teachings in their daily life, they turn to Alhadith written by men. They also turn to Fiqh which was written by men too!!! The result? You know that …Again, I want to quote what Fatima Mernissi said:“If the rights of Muslim women become problems for Muslim men, it is not because of Alquran or Islam itself; it is because these rights contradict with the wants of the elite Muslim men.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;”Untuk mbak Ati GustiatiSangat setuju bahwa hukum perkawinan di Indonesia harus diubah, HARUS DIHILANGKAN PERNYATAAN BAHWA LAKI-LAKI DIBOLEHKAN BERPOLIGAMI HANYA KARENA (1) sang istri sakit sehingga tak mampu "melayani" sang suami di tempat tidur, (2) sang istri tidak dapat memberikan keturunan.Kalau mau adil, seharusnya boleh juga perempuan menikah lagi kalau (1) sang suami sakit sehingga tidak mampu memuaskan sang istri (2) sang suami yang mandul, sedangkan sang istri ingin memiliki anak dari benihnya sendiri.Hukum perkawinan yang misoginis itu dihasilkan oleh kaum laki-laki yang sebenarnya tidak mengerti dengan pasti kandungan Alquran, terutama Surat Annisa ayat 3.Kita sebagai orang tua harus mulai mengajarkan kepada anak-anak, maupun para guru/dosen, harus mulai mengajarkan bahwa perempuan harus mandiri. Kalau terlalu berat untuk "mengajari" orang-orang sebaya kita yang sudah "terdoktrin secara akut" bahwa perempuan harus selalu mengalah, yah, paling tidak kita bisa menyelamatkan generasi penerus bangsa.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Untuk mbak Elisa,I am really sorry to hear that bad news about your friend, meskipun hal ini bukan hal yang aneh di masyarakat, baik di Indonesia, maupun di mana saja di dunia ini. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Namun, yah, seperti yang lain-lain juga, I am really sorry and upset mendengarkan argumen teman mbak Elisa yang tidak mampu "mengeluarkan diri dari lingkaran setan".Salam.Nana &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://afeministblog.blogspot.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;http://afeministblog.blogspot.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://afemaleguest.blog.co.uk" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;http://afemaleguest.blog.co.uk&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;"LD-Beby" &lt;elangbotak@...&gt;wrote:&gt;&gt; Perempuan...oh perempuan...,&gt; malangnya dikau...&gt; &gt; Perempuan...oh perempuan...,&gt; suamimu digaet perempuan juga.&gt; &gt; Perempuan...oh perempuan...,&gt; musuhmu perempuan juga.&gt; &gt; LD-Beby.&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Kang becak &lt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.f353.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=kbecak%40yahoo.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;kbecak@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&gt; wrote:Cerpen Perempuan Bertanya,Fiktif belaka.Kepintaran sang penulisMemainkan emosi pembaca,Membuatnya seolah nyata.Masalahnya menjadi rumit,Ketika pembaca terlarut dalam ceritera,Menjadikan cerpen,Sebagai pembicaraan masalah agama.Dalam kenyataan,Perceraian dalam agama Islam,Sangatlah rumit,Apalagi bila sudah memiliki keturunan.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;marthajan04 &lt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.f353.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=marthajan04%40yahoo.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;marthajan04@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&gt; wrote:Kang Becak, Kalau saya menyangkutkan dengan ajaran islam, karena memang si istri malang itu menyeleaikan persoalannya dengan ajaran islam yang saya pikir sangat merugikan wanita, yang selalu di-iming2i sorga kalau nurut pada suami walapun suami itu menyakitinya. Ni ya, saya copy-paste-kan lagi omongan si istri malang itu :&gt; &gt; Tapi di keyakinan kami, mbak. Perempuan tidak baik menggugat &gt; &gt; cerai. &gt; &gt; Dan perempuan tidak boleh menolak jika diajak berhubungan intim&gt; &gt; dengan suami. Kalau kami bisa memaafkan, sorga upahnya. Katanya &gt; &gt; lirih.Sudah jelas kan, yang ngomong ini beragama islam dan dia sedang membicarakan ketidak berdayaannya karena ajaran agamanya mengharuskan dia melakukan pengorbanan sebesar itu untuk dapat upah sorga dan dia tidak diijinkan menolak berhubungan intim dengan suami bila suami menghendaki. Sekali lagi : TIDAK BOLEH!Kalau menolak, tentu hukumannya tidak dapat surga bukan?Ini mengerikan sekali buat saya. Sebagai sesama wanita saya bisa merasakan bagaimana luar biasa menderitanya hati kita bila sedang sebal atau marah pada suami lalu harus melayaninya berhubungan sex. betul2 memuakkan! saya rasa Tuhan sangat kejam dan Tuhan tidak lagi pantas dihormati bila wanita diharuskan mau berhubungan seks dengan suaminya bila sedang marah atau tidak suka. Mengenai Sophia Latjuba, memang kisahnya agak sama tapi saya tidak tahu bagaimana perasaan mantan istri si Michael itu. Apakah dia juga tidak berdaya seperti teman Elisa itu karena ajaran agamanya? Kalau benar demikian, saya juga akan mengecam agamanya pula. Tapi setahu saya, justru si Michael dan Sophia Latjubalah yang akan diasingkan gereja. Sophia beragama katolik setahu saya. Jadi saya tahu sanksi apa yang akan dia terima dari gereja. Dia dan si Michael dianggap berdosa dan tidak diijinkan terima hosti lagi selamanya. Mereka dianggap berjinah selamanya, selama istri pertama si Michael masih hidup.Sedang dalam ajaran islam, suami dan istri keduanya itu dianggap tidak bersalah malah si istri tualah yang dianggap berdosa bila dia tidak rela. Beda kan?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;MJ--- &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;In &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.f353.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=sastra-pembebasan%40yahoogroups.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;sastra-pembebasan@yahoogroups.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;, Kang becak &lt;kbecak@...&gt;wrote:&gt;&gt; Kisah ini,&gt; Persis seperti yang dialami Louisa Ellen Ibbotson.&gt; &gt; Demi Sophia Latjuba,&gt; Michael Villareal menjatuhkan talak,&gt; Ketika buah cinta baru lahir.&gt; &gt; Bukan agama kristen yang harus dibenci,&gt; Villareal-Latjuba-lah yang harus dimaki.&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;putri kabayan" &lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;shining_st4r@yahoo.com&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;shining_st4r@yahoo.com&lt;&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Saya juga ingin sekali bertanya , Siapa yang salah dalan Hal ini ?Saya sendiri sebagai wanita , sama seperti kalian atau teman** , mungkin senasib , tapi bukan seperjalanan . Kenapa wanita selalu DI LECEHKAN ?Siapa yang bisa menjawab , kalau bukan kita sendiri '' kaum wanita'' , Apa aturan AGAMA atau HUKUM ? Itu semua menurut Sy ngga' bermasalah , jika kita tidak melihat AGAMA atau HUKUM , mungkin kita jadi diri sendiri , tidak perlu menyalakan Para LAKI-LAKI salahkanlah DIRI SENDIRI , coba kita tanyakan pada diri kita , mengapa -laki-laki BERBUAT DEMIKIAN ? Jawabannya ada pada DIRI SENDIRI . Mengapa juga kita melihat negara orang lain , kalau DIRI KITA tetap demikian '' masih sama '' . Saya sangat menyesalkan sekali kalau kalian membedakan ajaran AGAMA , Agama manapun menurut Saya sama saja . Dari sinilah mengapa di Indo hancur , bukan hanya orangnya tapi juga dengan negaranya , saling membedakan dan saling menyalahkan , coba saja kita menyadari dan saling memahami , pasti negara Indo akan aman dan damai . Salam ....Putri Kabayan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;ati gustiati &lt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.f353.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=hatiku_rumahku%40yahoo.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;hatiku_rumahku@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&gt; wrote:Elisa....catatan yg cukup membuat para wanita marah, sedih dan kecewa, lalu siapakah yg bisa mengangkat hidup dan derajat wanita ? siapa yg bisa melindungi hak2 nya sebagai istri, ibu dan wanita yg di madu ?HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA MESTI DIRUBAH !!!! JANGAN LAGI BERDASARKAN HUKUM ISLAM, pakai system di negara2 maju seperti AS, Singapore misalnya, kalau kesalahan ada dipihak suami, istri berwenang menguasai bendahara yg mereka miliki 60% termasuk child support anak2 sampe usia dewasa, begitu juga bila kesalahan terletak pada istri hukuman sama dengan hukuman suami. Itu baru dari segi hukum perkawinan.Dari segi moral, wanita sebaiknya diberi kesempatan utk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri, bila kita sudah bisa mandiri tanpa ketergantungan pihak lelaki lagi status social kita akan sejajar dengan pria sehingga tidak ada pelecehan2 status gender lagi, di Indo saya lihat wanita lebih suka tinggal dirumah jadi ibu rumah tangga, itu tidak masalah mungkin bagus, tetapi bila kita kebetulan punya suami yg tidak menghargai status ibu rumah tangga kita ini yg jadi masalah.Banyak wanita2 di dunia yang masih diperdaya lelaki terutama di negara2 ketiga seperti indonesia contohnya, di AS sendiri ada masalah perkawinan serupa hanya untungnya para istri2 yang innocent (tidak bersalah) dilindungi hukum dengan se baik2 nya, menjadi wanita yg tegar dan mandiri tidak mudah...setidaknya pelajarilah kharakter suami sebelum mengambil keputusan utk menghancurkan hidup kita lebih dalam lagi. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Salam hangat &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;omie&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;marthajan04 &lt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://us.f353.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=marthajan04%40yahoo.com" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;marthajan04@yahoo.com&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&gt; wrote:cerita2 kejadian begini yang bikin aku benci sama ajaran islam.sudah gitu masih juga pada ngeyel bukan hanya lelakinya tapi juga perempuannya bahwa ajaran islam adalah yang paling baik dalam hal mengangkat derajat wanita, yang tidak ditemui atau sedikitnya lebih tinggi dari agama lainnya.bah! aku sih seharusnya tidak perlu marah atau sakit hati karena hukum agamaku dan lingkungan kehidupanku tidak akan membiarkan aku mengalami nasib seperti itu. tapi ternyata aku masih marah dan sakit hati juga mendengarnya. mungkin karena aku dan mereka masih sama dalam satu hal : sama sama wanita.MJ&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115028129733065021?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115028129733065021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115028129733065021' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115028129733065021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115028129733065021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/keprihatinan-si-nyonya_14.html' title='Keprihatinan Si Nyonya'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29640563.post-115019529773571922</id><published>2006-06-13T03:28:00.000-07:00</published><updated>2006-06-13T03:41:37.743-07:00</updated><title type='text'>Istrinya Frisch</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/1600/I%208.0.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5739/3154/400/I%208.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; TIPS BUAT YANG MAU MENIKAH&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Menikah adalah suatu aktivitas dua manusia berlainan jenis yang sepakat masuk dalam kontrak kerjasama sampai batas waktu yang tidak diketahui. Ketika komitmen diucapkan, maunya sampai maut memisahkan. Bahkan tak kurang sanak saudara dan para kerabat yang turut mendoakan dan berharap komitmen itu bisa sampai kakek-nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur harus saya akui, ide pernikahan itu datangnya dari saya. Berdasarkan buku-buku yang saya baca, laki-laki yang takut berkomitmen adalah mereka yang belum dewasa secara matang. Artinya mereka hanya matang dalam pertumbuhan fisik. Secara bergurau, beberapa kawan mengatakan, laki-laki seperti itu hanya bayi-bayi berbadan besar Ketika pacar saya menyetujui ide pernikahan itu,  jujur saya yang di liputi rasa was-was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi berpikir ulang, ide menikah ini sebetulnya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;The good idea or the bad idea&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;?. Mulailah diskusi berkepanjangan. Berbicara mengenai bagaimana peran dan tanggung jawab nanti setelah menikah. Dan yang terpenting adalah apa tujuan dari pernikahan ini. Berdasarkan kehidupan pernikahan saya yang tahun ini genap 10 tahun, saya ingin membagikan tips  Buat yang baca blog ini, mudah-mudahan bermanfaat&lt;br /&gt;Buat rencana pernikahan ini sebagai suatu perusahaan/organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01.   Tentukan tujuan, target yang ingin di capai dan bagaimana mencapai target tersebut.&lt;br /&gt;02.   Setelah tujuan, target dan cara mewujudkan target disepakati, buat komitmen lain, yaitu  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       membagi peran secara flexisible dan berimbang.&lt;br /&gt;03.   Buat kesepakatan untuk tidak pernah memasukan ide perceraian dalam setiap konflik.&lt;br /&gt;04.   Yakinkah setiap konflik adalah semacam ”pupuk” yang menyuburkan atau mengembangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       hubungan anda dan pasangan dalam hubungan yang lebih manis.&lt;br /&gt;05.   Evaluasi tujuan dan target pernikahan pada setiap  kesempatan.Karena hidup ini berkembang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       dan dipengaruhi situasi dan kondisi di lingkungan keberadaan kita.&lt;br /&gt;06.   Jadikan dan yakinkan, pasangan kita adalah yang terbaik yang dikaruniakan untuk kita.&lt;br /&gt;07.   Tidak harus sama pendapat, pernikahan tercipta karena adanya perbedaan.&lt;br /&gt;08.   Jika ada hal dalam pasangan kita yang hendak kita ubah, dan jika pasangan kita mau, silahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       saja. Tapi jika pasangan kita tidak mau, persiapkan diri untuk menerima.&lt;br /&gt;09.   Karena menikah tidak berarti pasangan kita menjadi seturut kehendak kita ataupun sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       Walau terikat dalam pernikahan berikan pasangan kita ”ruang” untuk sendiri sama seperti kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;       yang tetap memerlukan ruang bagi diri sendiri.&lt;br /&gt;10. &lt;strong&gt; Pasrahkan hatinya tetap miliknya yang penting kita ada di dalam hatinya.&lt;/strong&gt; 13 Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29640563-115019529773571922?l=nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/feeds/115019529773571922/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29640563&amp;postID=115019529773571922' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115019529773571922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29640563/posts/default/115019529773571922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyonyafrischmonoarfa.blogspot.com/2006/06/istrinya-frisch_13.html' title='Istrinya Frisch'/><author><name>Bunda gaul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11915509983906438159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_hIHWQ5CZqY0/SbXuPqe_3gI/AAAAAAAAAIk/Mn73cNPM3j4/S220/IMG_0379.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
