Monday, September 23, 2013

Kami masih belajar mengenali pasangan

Merayakan keberhasilan setahun bahterah rumah tangga melayari lautan kehidupan

 8 Juli 2013, usia pernikahanku genap 17 tahun. Puji syukur untuk semua yang sudah kuterima dalam hidup pernikahanku. Buah cinta kamipun sudah berwujud sepaang anak laki-laki (13 tahun) dan perempuan (10 tahun). Kisah kebersamaanku sudah kutulisakan dalam artikel Tak ada aku, tak ada kamu. Tapi kisah kehidupan kami tak pernah berakhir. Selalu ada kisah yang bisa aku tuliskan.

Kami teman sekampus. Kami memiliki banyak peramaan tapi juga banyak perbedaan. Persamaan kami membuat kami bisa asyik menjalani, bercerita dan tertawa-tawa. Sebaliknya perbedaan diantara kami, membuat kami menjadi lebih kaya akan pengenalan diri, baik secara pribadi maupun pada orang lain. Ketika dalam keadaan senang, maka persamaan kami menjadi penguat tapi dalam keadaan berbeda pendapat, maka perbedaan kami menjadi tantangan.

Di awal-awal pernikahan, aku begitu takut bahterah rumah tangga ini tak sanggup melayari lautan kehidupan. Rasanya badai, angin topan dan gelombang tinggi begitu gencar meluluh lantakan bahtera rumah tangga yang baru seumur jagung. Pusing, mual, muntah, lelah, kecewa bersatu menjadi sebuah kekuatan melawan. Aku tak ingin dipermainkan oleh kehidupan. Kehidupan aku dan pasanganku dimulai karena sesuatu yang baik. Sesuatu yang mulia, keinginan bersama menghidupkan rasa sayang, rasa cinta yang entah darimana datangnya, telah mengikat jiwa kami.

Dulu semasa pacaran, kadang aku berpikir perbedaan pandangan akan membuat hubungan kami jalan di tempat. Aku seorang pekerja entertainment (Di radio) dan dia seorang eksekutif muda yang tidak suka clubing. (Hura-hura menghabis waktu bersama kawan-kawan). Pernah di satu masa, sebagai pekerja media, Valentine's day menjadi sebuah program yang bernilai jual tinggi. Maka radio tempat kubekerja menyelenggarakan acara tersebut. sayang seribu  sayang, lelaki yang telah mencuri hati ini  tak berminat datang sekalipun untuk menemaniku.

Dengan berat hati aku memutuskan untuk tidak menghadiri acara tersebut. Kebetulan jatuhnya juga dihari kerja bukan diakhir pekan. Maka setelah persiapan segala sesuatunya beres, saat usai jam kerja aku memilih pulang. Lepas magrib aku sudah di rumah. Melepas lelah, aku langsung mandi. Siraman air dingin sangat menyejukan. Mampu meluluhkan rasa kecewa yang mengganjal di hati, melewati Valentine's day party. Selesai mandi, aku berdiam di kamar, menikmati kekecewaan yang aku goreskan di catatan harian. jaman itu masih berbentuk buku.

Sekitar pukul 19.30, adikku mengetuk pintu kamarku dan  memberitahu ada tamu. Uh males banget rasanya. Masih dalam pakaian tidur model baby dol (Celana pendek dan atasan). Sebelum keluar aku masih menyempatkan diri melepas handuk yang membungkus kepala (Habis keramas) dan bersisir. Kamarku berhadapan dengan ruang tamu, waktu aku keluar aku tidak melihat ada tamu. Di ruang keluarga, adik-adikku tetap nonton tv, aku melanjutkan langkah kaki ke teras. Aku sempat heran kok lampu teras tidak dinyalakan. Maka akupun menyalakan. Penasaran juga siapa  yang datang bukan diakhir pekan.

Begitu lampu teras menyala dan saat aku berdiri di depan pintu, reflek aku masuk lagi ke dalam. Bersandar dipintu dan berusaha meyakinkan diri, ini bukan mimpi. Setelah yakin, kembali aku buka pintu kali ini pintu terbuka aku berdiri mematung. Di depanku berdiri lelaki yang tidak bersedia menemaniku ke Valentine's day party. Berdiri dengan pantalon coklat, kemeja berwarna jingga, satu tangan memeluk karangan bunga mawar dan satu tangan memegang hadiah kecil dalam kotak transparan. Senyumnya mengembang, guanteng sekaliiiiii.

Ia mendekat dan mencium keningku sambil berkata,: " Bagiku tak ada hari valentine karena valentineku adalah setiap hari bersama kamu!". Perasaanku langsung terbang dan melayang, aku merasa seringan kapas. Luluh dan meleleh, Tak sanggup berkata hanya sepasang aliran sungai kecil mengalir di kedua pipiku, Dasar cengeng! makiku dalam hati.

Kejutan manis itu, masih melekat erat dalam memoriku. bahkan selalu hadir seolah baru terjadi kemarin, padahal kejadian itu sudah dua puluh tahun berlalu. Kenangan-kenangan baik manis atau tidak, telah menjadi fondasi keputusan untuk masuk dalam hubungan yang serius, mengikat dan bertanggung jawab, Berumah tangga.
Happy Family

Hingga hari ini, hingga detik ini perbedaan pendapat masih terjadi, kami masih tetap belum mengenal satu sama lain 100 %. Setiap hari tetap ada hal baru yang kami pelajari, dan tetap berharap bahterah rumah tangga ini tetap stabil melayari lautan kehidupan. Badai, Angin topan dan gelombang tidak lagi menakutkan. Lelaki gagah ini, telah menjadi nakhoda yang bertanggung jawab dan aku telah sepakat membantunya mengembangkan layar agar bahtera ini berjalan tenang diatas lautan kehidupan. Doa kepada sang maha kuasa, pujian, penghargaan dan kasih sayang  diantara kami yang terus kami tumbuhkan, kami jaga agar senantiasa baru dan segar. Membuat menghidupkan kebahgiaan dalam bahterah rumah tangga ini  menjadi pekerjaan yang menyenangkan.

Kalau ada hal-hal yang kupelajari dan kutemui serta kuyakini sebagai kekuatan rumah tangga kami adalah besarnya keinginan kami berdua untuk tetap bersama, menghormati, saling percaya, menyediakan waktu berkomunikasi adalah bagian dari upaya menciptakan kebersamaan ini.  Memelihara dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab adalah bagian dari cara kami mensyukuri apa yang sudah kami miliki. Memang kami masih memiliki banyak keinginan tapi kami tidak akan mengorbankan apa yang sudah kami miliki.

Masih saling mengenali

17 tahun bukan sebuah perjalanan yang sebentar tapi proses bertumbuh sebagai satu kesatuan masih terus kami pelajari. Kami percaya, itu cara Tuhan menyatukan kami. Dan lewat tulisan ini, jika boleh saya mengirimkan harapan bagi pasangan yang berbahagia karena pernikahannya tiba di tahun ke 10.
Kawan, syukurilah nikmati yang sudah didapat. Berlomba-lombalah melayani dengan cinta dan kasih sayang. Pelihara kepercayaan dan menjaga kehormatan pasangan. Mengalah untuk menang dan pada akhirnya percaya kebahagiaan akan menjadi milik kalian manakala kalian menerima satu sama lain apa adanya.Semoga senantiasa bersatu hinbgga maut memisahkan.




Kisah pernikahan ini diikutsertakan pada

5 comments:

Devy Nadya Aulina Sarra Sivana said...

Semoga rukun-rukun selalu ya Mak...

bunda aisykha said...

ahaaaaa,,kejutan yg manis mbaaaa,,sapa yg gak melayang dpt kejutan dn kata2 manis kyk gt di hari valentine :D

oL1n3 said...

Semoga langgeng dan rukun selalu ya maak ;) aiihh seneng deh udah 17 tahun..

Damae said...

walah.. bunda manis sekali di foto itu, rasa-rasanya wajah bunda sama suami ini agak mirip. semoga awet dan harmonis selalu ya bun, :)

Uniek Kaswarganti said...

gak bisa mbayangin seandainya yg pake baby doll plus abis keramas itu aku, hihihiiii... pasti langsung lari tunggang langgang deh.
Terima kasih partisipasinya mb Elisa, semoga 17 tahun berikutnya pun tetap bahagia bersama keluarga tercinta. Aamiin.