Renunganku: TOILET TRAINING
Sebuah stasiun televisi menginformasikan berita kriminal, dimana seorang ibu tega menyiramkan air panas pada anaknya yang berusia 3 tahun karena buang air kecil sembarangan. Di tegaskan lagi dalam berita tersebut, diketahui si anak hanyalah anak angkat. Seakan-akan penjelasan terakhir ingin menjelaskan kenapa si ibu tega menyiramkan air panas. Andaikan anak kandung mungkin si ibu tidak tega. Lebih kurang aku mengartikannya seperti itu.
Ini menjadi bahan diskusi aku dan pasanganku. Apa yang mendorong si ibu sampai tega menyiram balita dengan air panas. Kalau si ibu tak mempunyai rasa belas kasih lantaran cuma anak angkat, kenapa mau mengangkat anak? Persoalan buang air kecil tidak pada tempatnya memang cukup menjengkelkan.
Berdasarkan pengalamanku, sampai Van berusa sebelum 3 tahun, jika sudah sangat ingin buang air kecil terkadang ia tak mampu menahannya hingga belum sampai kamar mandi sudah bocor. Haruskah aku marah? Persoalannya bukan semata Van anak kandungku. Aku lebih mencemakan keadaan Van, Bagaimana kalau Van pipis sembarangan lalu jatuh tergelincir karena pipisnya?
Pekerjaan membersihkan bekas pipisnya bukanlah pekerjaan berat. Tapi hal sepele jika dibiarkan justru akan membahayakan. Maka aku terbiasa sigap bertindak jika Van sudah ingin pipis. Bukan semata-mata menghindarin pekerjaan tambahan membersihkan pipisnya tapi lebih untuk menjaga agar Van tidak berada dalam kondisi yang bisa membuatnya terluka.
Banyak hal menyebabkan si anak tidak membuang air kecil pada tempatnya. Pertama apakah orang tuanya atau orang-orang yang selalu bersamanya sudah mengajarkan cara buang air kecil yang benar. Dalam istilah psikologi perkembang anak, masa memperkenalkan kebiasan dan cara yang baik membuang hajat disebut “Toilet training”.
Sebagai orang tua, tidak bisa mengharapkan secara otomatis anak akan langsung bisa pipis di kamar mandi. Sedangkan mengendalikan rasa ingin pipis dalam dirinya saja si balita masih belajar. Toilet training adalah sebuah pelatihan pembiasaan diri. Siklus tubuh manusia, jika bangun tidur otomatis ingin buang air kecil. Demikian juga pada anak-anak atau balita.
Sejak kedua anakku belum berusia satu tahun, setiap mereka bangun tidur, aku langsung membawanya kekamar mandi dan melatihnya untuk pipis. Demikian juga dalam kegiatannya sepanjang hari setiap satu dua jam aku mengajaknya ke kamar mandi untuk pipis. Dengan cara ini aku tak perlu memakaikan lampin sekali pakai (Diapers). Selain anak-anak lebih leluasa bermain aku juga berhasil menekan pengeluaran. Lampin sekali pakai hanya digunakan jika kami berpergian.
Bahkan sejak usia Bas dan Van dua tahun, aku membawa pispot (Tempat pipis) ke dalam kamar tidur setiap malam. Setiap tengah malam, aku membangunkan mereka untuk pipis sehingga mereka tidak pipis di tempat tidur alias ngompol. Memang agak menyiksa harus bangun diantara pukul dua atau tiga pagi tapi itu jauh lebih baik ketimbang aku dibangunkan oleh pipis mereka yang membasahi tubuhku.
Sekarang Bas sudah hampir berusia 7 tahun dan jika ia bangun di tengah malam, Bas sudah berani langsung ke kamar mandi tanpa di temani. Mulanya perpindahan kebiasaan pipis di pispot ke kamar mandi aku harus bangun dan menemaninya. Demikian juga dengan Van yang kini menjelang usia 4 tahun. Van tak perlu lagi dibangunkan di tengah malam karena kapanpun merasa pipis, Van langsung bangun dan pipis di pispot. Aku cukup menyediakan tissue basah untuk membersihkan diri di tempat yang mudah dijangkau Van.
Toilet training kelihatannya hanya sepele, sebetulnya tidak juga. Karena pelatihan ini termasuk pembiasaan anak menjadi mandiri. Kemampuan tumbuh kembang balita termasuk pertumbuhan perkembang dalam kemampuan ke kamar kecil sendiri. Di sini anak di latih untuk bisa membuka pakaian luar, pakaian dalam, membersihkan diri dan menyiram bekas buang airnya.. Semua aktivitas itu adalah bagian dalam ketrampilan diri yang tidak bisa diharapkan bisa secara otomatis.
Jika anda masih mempunyai balita janganlah memarahinya jika anak anda buang air kecil tidak pada tempatnya. Semakin anak merasa tertekan dan takut dimarahi, semakin ia tak mampu mengendalikan dirinya jika datang rasa ingin buang air . Ini disebabkan perasaan anak lebih cemas akan amarah anda daripada gagal membuang air kecil di tempatnya.
Untuk menghindari amarah anda, ingatkan atau ajak si kecil setiap satu dua jam ke kamar mandi dan biarkan si kecil pipis di sana. Demikian juga dengan buar air besar (BAB) sebagai orang tua kita tahu kebiasaan anak termasuk waktu si anak untuk BAB, jadi anda bisa melatih anak duduk di closet sambil di temani. Kelak urusan ke toilet tidak akan menjadi masalah lagi. Percayalah ala bisa karena biasa! (17 Juni 2007)
|
Blogging Degree
From Go-Quiz.com You can use the HTML Code to send this image to your myspace friends. Or use this image on your web page.The image has been created ... Like this image? Click Get Code! to save and retrieve the code!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home